IKHLAS

Dari sebuah kisah, seorang sahabat ditanya tentang sesuatu yang dibawanya, “ ya akhi milik siapakah barang itu?”. Dijawab kalau barang itu adalah miliknya. Tak ada yang memungkiri jika memang sesuatu itu adalah miliknya. Tapi si penanya justru membantahnya dalam suatu sikap, “ Barang itu hanya akan menjadi milikmu kalau kau sudah benar-benar mensedekahkannya”. Senada dengan kisah ini, sebuah pepatah Arab menegaskan kau hanya menjadi milik hartamu apabila hartamu kau simpan di dalam rumah dan sesungguhnya harta itu akan menjadi milikmu apabila sudah kau nafkahkan pada orang yang membutuhkan.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam pernah mendatangi kaum Ghifar. Di sana ada sebuah sumur yang oleh pemiliknya dijual sebesar 1 mud gandum untuk setiap timba air. Kemudian Rasulullah menawarkan kepada pemiliknya sebuah sumur dari surga yang jauh lebih jernih apabila ia mengikhlaskan sumur itu untuk kepentingan orang banyak. Ohh, sebuah transaksi indah yang jelas menguntungkan sebagai sebuah investasi akherat. Tetapi … pemilik sumur itu menolak lantaran itulah satu-satunya sumber penghidupan bagi dirinya dan keluarga. Tak bisa disalahkan dan tak bisa dipaksakan. Sahabat lain yang mendengar tawaran itu segera bergegas kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “ Ya Rasul apakah tawaran itu juga berlaku untukku?”. Rasulullah mengiyakan. Maka sahabat itu segera menghubungi kaum Ghifar pemilik sumur dan membelinya seharga 35 dirham. Selanjutnya sumur itu dihibahkan untuk orang banyak. Sahabat tadi tak lain adalah Utsman bin Affan. Subhanallah! Sahabat Utsman sangat terkenal kedermawanannya dan banyaklah keteladanan yang patut kita ambil darinya. Dalam perang Tabuk, beliau mensedekahkan sebanyak 35 ribu unta. Semua dilakukan dengan ikhlas dan sesungguhnya hanyalah untuk mendapatkan wajah Allah azza wa jalla.

Digambarkan bahwa keikhlasan itu seperti tangan kanan memberi sementara tangan kiri tak melihatnya. Sedekah yang ihklas adalah kokohnya bagi jiwa yang tak ada tandingannya. Seng ada lawan, kata orang Ambon. Ketika dalam penciptaan, bumi bergetar terus menerus. Maka Allah menancapkan gunung-gunung. Sungguh malaikat sangat tertegun atas kekokohan gunung-gunung itu. Lantas malaikat bertanya pada Allah, adakah yang lebih kokoh dari gunung.

Allah azza wa jalla menjawab: besi

Malaikat belum puas ditanyakan yang lebih kokoh dari besi.

Allah menjawab: api

Lebih kokoh dari api, Tanya malaikat kembali

Allah menjawab: air. Malaikat terus saja bertanya.

Allah menjawab: awan. Malaikat bertanya lagi.

Allah menjawab: angin. Malaikat masih bertanya.

Allah azza wa jalla menjelaskan bahwa yang lebih kokoh dari itu semua adalah sedekah yang ikhlas.

Keikhlasannya akan mengokohkan jiwa manusia yang tak lagi berhitung untuk rugi atas pertimbangan perasaan dan logikanya. Maka sedekah yang ikhlas itu akan berekses terjalinnya hubungan harmonis antar manusia dan disinilah awal tercapainya perdamaian. Ikhlas merupakan amal hati dan menjadi syarat diterimanya amal seseorang, sejauh amalan itu sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah. Meskipun amalan hati, sesungguhnya Allah mengetahui keikhlasan itu, sebagaimana yang diterangkan dalam Qur’an surat Ali Imran ayat 29 : Katakanlah, “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahui.”

Allah Ta’ala memberitahukan kepada hamba-Nya bahwa Dia mengetahui apa-apa yang dirahasiakan dan ditampakkan oleh mereka. Tidak ada satu perkara pun yang samar bagi Allah, meski itu hanya perkara sebesar zarah atau yang lebih kecil sekalipun. Maka yang harus selalu kita lakukan adalah meluruskan niat, agar keikhlasan itu tetap terjaga. Meski hanya amalan kecil tetapi jika didasarkan pada keikhlasan dan dicontohkan Nabi maka akan menjadi perkara besar, sebagaimana dikatakan Abdullah Ibnul Mubarak: Betapa banyak amal kecil menjadi besar dengan sebab niatnya (keikhlasannya). Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil nilainya dengan sebab niat (karena tidak ikhlas ).
Keikhlasan adalah jalan menuju surga, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Dawud no 3664, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa belajar ilmu yang seharusnya ia mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla, kemudian ia belajar untuk mendapatkan sesuatu dari (harta) dunia, maka ia tidak akan mencium baunya surga pada hari kiamat”. Maka sangat disayangkan apabila kita telah bersusah payah melakukan ibadah, tetapi lantaran niatan yang salah, segala yang kita lakukan itu sama sekali tidak mendapatkan wajahnya Allah. Yang kita dapatkan justru perkara duniawi yang teramat remeh sebagaimana yang diinginkan perasaan, seperti mendapat pujian dari manusia atau semacamnya. Katakanlah kita akan ke masjid, namun niatnya semata ingin dipuji tetangga, maka itulah yang akan kita dapatkan. Tetapi jika kita pergi shalat berjamaah di masjid dengan ikhlas untuk mendapat ridlo Allah, sesungguhnya setiap langkah menuju masjid tadi akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajad kita sampai kita benar-benar masuk masjid. Dan bila masuk masjid, selanjutnya malaikat bershalawat dan mendoakan untuk kita, “ Ya Allah, berilah rahmat kepadanya, ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, ya Allah, terimalah taubatnya”. Itu yang akan kita dapatkan sejauh di tempat shalat itu kita tidak mengganggu orang lain dan selama belum hadas / batal wudlu. Silakan Anda periksa dan buktikan dalam kitab Syarah Riyadhush Shalihin no. 10* karya Syaikh Salim Bin ‘Ied Al-Hilali.

Barakallahu fikum.

(*) sebuah kitab yang harus kita miliki

5 Comments

  1. Ida Senoadji

    selalu berusaha untuk ikhlas…meski harus dengan usaha yang keras….insyaallah…

    • Insya Allah Bu Ida. Belajar Ikhlas bisa ditempuh dengan berbagai jalan, di antaranya meneladani kisah para sahabat dan orang0orang yang ikhlas seperti kehidupan Utsman bin Affan, kemudian bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan bisikan syetan, dan selanjutnya berdoa memohon kepada Allah agar dibimbing menjadi hamba-Nya yang ikhlas.

      barakallahu fikum.

  2. yy

    Pak Haji , sinau ikhlas kaleh sabar mboten entek2 e nggih , lek sik diparingi urip kaleh Gusti Allah monggo sinau saakeh akehe , mugi angsal pangapuro ingkang kathah , Amien YRA .

    • Leres Bu Yuyun. Sabar tak terbatas, ikhlas tak berujung. bahkan amalan yang sudah kita lakukan pun harus dijaga keikhlasannya.

      Barakallahu fikum.

  3. robi nugroho

    Ikhlas pada diri sendiri, ikhlas pada orang laen, ikhlas pada alam dan ikhlas pada Allah SWT akan segala karunia-Nya. (nrimo ing pandum) Ikhlas memberi & ikhlas menerima.. makasih pemberian ilmunya pak’de..

    Barakallahu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: