LEMBUT

Kulit lembut menjadi dambaan, terutama kaum hawa. Dari cara tradisional hingga treatment modern semua dijelajah demi eksplorasi dan penemuan paling bergengsi atas nama kelembutan itu. Sedikit saja kulit kasar dan kapalan besar, seolah dunia runtuh bakal runyam semesta raya. Jaman nenek kita dulu, di kamar mandi selalu tersedia batu apung. Maka kulit kapalan tak dapat ampun. Sibuk sekali rasanya kalau tak lagi lembut itu kulit. Akhirnya, berjam-jam di kamar mandi dan perjuangan masih dilanjut hingga tahap meluluri diri dengan produk kosmetika pilihan. Duh, betapa hedonisnya kita, mengemas tampilan luar demi pencitraan diri. Ataukah kita sedang terlahap oleh promosi duniawi para kapitalis yang memprovokasi untuk mempercantik diri tapi dalamnya keropos, bak bongkahan kusen rumah yang rapuh termakan rayap!

Toh tak selamanya memoles kulit bisa jadi urusan yang gampang. Seiring banyaknya kegagalan dalam memberikan sentuhan lembut pada tampilan luar, maka inner beauty menjadi issue berikutnya dan dijadikan komoditi tingkat tinggi. Pakar ilmu kepribadian berusaha meyakinkan kalau mampu membekali seseorang agar tampil cantik dari dalam diri, merumuskan teori bagaimana memancarkan aura yang membuat orang lain jadi terkesan. Biayanya jangan ditanya, mehong beeng, Ciiin! Ampyun deh, buat beli kerupuk bisa dapat bertumpuk-tumpuk. Hallah! Daripada sibuk berembug soal mahalnya sekolah kepribadian, mending kita menyibukkan diri merunut sebuah keteladanan akhlak para salafus shaleh yang lebih terbukti sanggup memancarkan inner beauty-nya bersama sumber dan aturan yang lebih representatif. Dan yang ini, gretong gitu loh!

Dalam kamus Bahasa Indonesia, lembut dimaknai sebagai baik hati (halus budi bahasanya); tidak bengis; tidak pemarah. Wow, senangnya menghadapi seseorang yang halus budi bahasanya. Kita akan terus mengingatnya, mirip yang kita lakukan kalau ada orang yang berbuat baik pada kita. Membekas dalam ingatan, melekat di relung hati paling dalam. Halus budi bahasa menjadi kekuatan positif yang menyenangkan hati orang lain. Seorang customer service pasti akan menerapkan jurus kelembutan berbudi bahasa yang halus agar pelanggan yang datang tertarik dengan produk atau jasa yang dijualnya. Sebaliknya peringai kasar dan temperamental hanyalah mengundang suasana yang tak bersahabat dan samasekali tak menciptakan suatu interaksi yang harmonis.

Maka barikade apakah yang sesungguhnya membuat kita tak berlemah lembut? Terhalang dari sumber sebuah kebaikan. Bentar-bentar main bentak, bahkan TOA surau pun kalah kencang dari suara kita. Melengking tak nyaring melebihi kejelekan suara keledai. Sebuah hadits ( no. 2594) shahih riwayat Imam Muslim RA, dari Aisyah RA bahwa Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, ”sesungguhnya kelembutan itu tidak terdapat pada sesuatu melainkan membuatnya indah, dan tidak dicabut dari sesuatu melainkan membuatnya buruk”. Tak sebatas dalam perkataan, Nabi memberikan keteladanannya langsung dalam tindakan. Ketika seorang Badui buang hajat di satu pojok Masjid Nabawi, para sahabat segera berdiri dan mengusirnya. Melihat hal itu Nabi SAW segera mencegah tindakan para sahabat. Arab Badui tadi kemudian dibiarkan menuntaskan buang hajatnya. Setelah benar-benar selesai, Rasulullah memerintahkan seorang sahabat mengambil seember air untuk mengguyur tempat Arab Badui berhajat tadi. Tanpa rasa marah dan kesal Nabi menghampiri orang itu dan berkata dengan lembut: “Sesungguhnya masjid itu tidak layak dikencingi dan dikotori. Sesungguhnya masjid itu tempat untuk shalat, berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an” (HR. Muslim).

Anas bin Malik yang selama sepuluh tahun membantu Rasulullah, tak sekalipun mendapat luapan marah beliau. Sebaliknya yang dirasakan adalah kelembutan budi pekerti. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya yang telah mengabarkan bahwa sesungguhnya Rasulullah memiliki akhlak yang agung ( QS. Al Qalam : 4 ). Kalaulah sikap kasar dan kerasnya hati yang ditampakkan Rasulullah, tentu Islam tak akan berkembang dan diterima semua golongan ketika itu. Yang ada justru mereka akan menjauh dari Rasulullah. Ingatlah kita pada kisah perang Uhud, dimana pasukan musyrik Quraisy berhasil membalik kemenangan pasukan Islam lantaran jebakan ghanimah yang menyilaukan kegigihan pasukan pemanah Islam. Paman Nabi bernama Hamzah bahkan harus meradang nyawa. Kesalahan yang teramat fatal tak membuat Nabi marah. Maka turunlah surat Ali Imran ayat ke 159, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu “.

Imam al Bukhari RA meriwayatkan dalam Shahih-nya hadits no. 6927, dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW berkata kepadanya: “Wahai ‘Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan”. Subhanallah. Sifat lemah lembut juga direfleksikan oleh sahabat yang mulia Abu Bakar as Siddiq. Biografi beliau yang disusun oleh Muhammad Husain Haekal ditulis dengan judul Abu Bakr As-Siddiq Yang Lembut Hati. Keislaman Abu Bakar dan kelembutannya membawa banyak manfaat terhadap Islam, karena kedudukannya yang tinggi dan semangat serta kesungguhannya dalam berdakwah. Dengan keislamannya maka masuk mengikutinya tokoh-tokoh besar yang masyhur seperti Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhum.

Hubungan timbal balik Rasulullah dan para sahabat pun diwarnai dengan kasih sayang di antara mereka. Al Qur’an mendeskripsikannya dalam surat Al Fath ayat 29: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka”. Maka belajar dari keteladanan junjungan kita, sungguh tak ada perkara lain yang bisa membolehkan kita menanggalkan kelembutan. Kelembutan inilah yang menjadi poros inner beauty dalam diri kita, sebagaimana kutipan hadits riwayat Imam Muslim di atas, yang intinya keindahan akan terpancar dari kelembutan dan keburukan akan muncul jika kelembutan tercerabut dari akhlak seseorang .Maka tetaplah berlemah lembut pada siapapun sebagai aplikasi citra kaum muslimin sejati. Kalau tak mampu, jangan-jangan kita ini adalah sekutu para lelembut. Nauzubillahi min dzalik.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: