BUNGA

Keindahan dan segala sesuatu yang menarik dikonotasikan pada kata bunga. Barangkali lantaran wujud bunga selalu memancarkan rona warna nan memukau. Hati yang senang akan dibilang berbunga-bunga. Ejawantah cinta tak akan meninggalkan bunga sebagai bagian dari ornamennya. Bayangkan kembali surat cinta Anda dulu, sketsa bunga pasti ada diujung lembar surat itu. Sangat mustahil surat cinta diberi ilustrasi mobil offroad yang menjadi hobbi Anda. Atau tertempel gambar dollar lantaran ortu kaya raya sehingga merasa berhak memamerkan sebagai selling point Anda. Bunga adalah pilihan paling tepat meski Anda macho perkasa segagah Xena the Princess Warrior.

Mekarnya bunga pada tanaman mengisyaratkan sebuah harapan bahwa tanaman itu sehat dan akan terus hidup dalam keindahannya. Bunga yang layu teramat sangat mengkhawatirkan bagi banyak orang karena menjadi pertanda akhir sebuah kehidupan bagi tanaman itu sendiri. Bunga adalah titik kulminasi sebuah tahapan dan proses kerja yang akan berujung pada perolehan hasil akhir. Berbunga, berbuah dan selanjutnya Anda memanen. Seperti halnya juga dalam dunia perbankan, uang simpanan Anda akan dibilang berbunga lantaran telah diberdayakan oleh Bank yang bersangkutan, meski kita tak tahu bentuk pemberdayaannya macam apa. Bunga menjadi fase yang tak akan terlewatkan dalam segala proses kerja itu.

Bunga sungguh-sungguh sangat indah. Dari bentuknya, warnanya apalagi aromanya. Bahkan sekuntum bunga bangkai pun yang menyebarkan bau tak sedap masih menjadi perhatian banyak orang. Bunga adalah bahasa universal sebuah keindahan. Gadis tercantik akan dijuluki bunga desa, kembang kampus tergantung dimana komunitasnya. Bahkan dalam ungkapan yang puitis tapi berlebihan gaya 80-an kembang kampus itu menjadi puspa indah di taman hati. Dari semua pencarian itu, saya cuma menemukan satu ungkapan bunga yang tak seindah personifikasinya, yaitu bunga trotoar yang sebenarnya sebuah ungkapan untuk anak jalanan.

Katakan dengan bunga. Sebuah ajakan untuk memberikan penghormatan pada seseorang yang kita cintai, meski sesungguhnya akan memiliki banyak tafsir atas bunga itu. Bisa saja sebagai ekspresi cinta, ungkapan penghormatan atau mungkin mewakili perasaan duka cita. Alangkah romantisnya saat pulang kerja Anda membawa sekuntum bunga mawar warna pink untuk istri di rumah. Oh, so sweet! Betapa berbunga-bunganya saat mendapat promosi jabatan, terkirim rangkaian bunga indah di meja kerja kita. Sungguh tak terbayang saat turun dari pesawat terkalung bunga untuk kita bak seorang presiden yang memulai lawatan kenegaraannya. Dan saya menyaksikan sendiri di banyak tempat, jejeran karangan bunga, baik di perayaan ulang tahun sebuah company maupun sebagai ungkapan duka cita pada seorang pejabat. Jumlahnya bahkan hingga memenuhi sepanjang jalan yang disusun berlapis-lapis. Inilah yang mulai mengusik hati dan pikiran saya.

Urusan yang ini sangat terkesan mubazir. Berapa harga karangan bunga itu. Kalau saja dikalikan dengan jumlah banyaknya yang terkirim, maka yang didapat adalah angka yang tak sedikit. Bukan berarti saya tak setuju menaruh rasa hormat pada seseorang, tetapi sebuah takzim kita sungguh bisa diungkapkan dengan banyak cara yang jauh bisa memberikan manfaat ganda. Masih ingat di awal dekade 90-an, setiap undangan pernikahan tertulis, “ tanpa mengurangi rasa hormat, kami lebih senang jika ungkapan bahagia Anda tidak diwujudkan dalam bentuk kado”. Sebuah icon gambar celengan bersanding di atasnya. Artinya, dengan memberi hadiah uang akan jauh lebih bermanfaat bagi mempelai. Pada tahun-tahun berikutnya, terjadilah evolusi itu. Kado sudah tak musim lagi karena semua sadar seringkali bingkisan yang kita berikan hanya menjadi tumpukan barang. Maka pada hari ini undangan pernikahan sudah tak perlu lagi mencantumkan himbauan itu. Istri Anda sudah selalu siap dengan amplop kecil jika sewaktu-waktu menghadiri perhelatan pernikahan.

Pun juga karangan bunga duka cita tadi. Bukanlah selepas pemakaman jenazah, karangan bunga itu tak lebih hanyalah onggokan sampah yang menumpuk. Tak ada lagi sesuatu yang berarti. Bahkan pemulung pun tak bisa memanfaatkannya sesuatu yang ada padanya. Kurang dari 24 jam, yang tadinya berharga ratusan ribu, kini karangan bunga itu tak punya nilai apapun. Betapa mubazirnya. Seandainya dirupakan uang lantas diberikan kepada keluarga yang berkabung, tentu bisa dimanfaatkan bagi kepentingan yang lain. Syukur-syukur untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan. Di harian Kompas terbitan jumat 18 Februari 2011, termuat sebuah berita gambar tentang sekolah dasar di Bogor yang masih berlantai tanah. Ohh, alangkah tak nyamannya para siswa yang sedang belajar. Lantas siapa yang mau memikirkan ini ? Haruskah menunggu kucuran dana dari pusat yang tak kunjung melesat? Siapa tahu, uang yang terkumpul pengganti karangan bunga tadi bisa untuk memperhalus lantai sekolah di Bogor.

Kearifan yang masih sangat dibutuhkan di sekitar kita, untuk menghindari kemubaziran. Semoga kita bisa memulainya, meski dari hal yang sangat kecil. Mudah-mudahan.

2 Comments

  1. Christian BL

    Very nice mas kar..

    Mungkin suatu saat bunga bisa diberikan secara virtual..
    Supaya ga mubazir..
    Sehingga siklus hidup bunga pun bisa berjalan alami
    Memamerkan keindahannya kepada tiap orang yang melihat,
    Dan menyempurnakan ekosistemnya…

    Thanx!
     Chris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: