JUJUR

Secanggih apa HP Anda? Blackberry TORCH 9800, Samsung I9000 Galaxy S, IPhone 4 atau Nokia N97. Bisa jadi dengan gadget canggih ini penampilan anda makin sempurna. Tapi seberapa sering kita bisa jujur menjawab telpon dan SMS yang masuk? Betapa mudahnya kita berbohong demi menyelamatkan diri dari cercaan pertanyaan. Peluang bohong sering menggoda lantaran si penanya tak ada di dekat kita. Maka kesempurnaan tadi tak sepenuhnya paripurna karena kita menanggalkan kejujuran dan meninggalkan kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain. Kejujuran bukan lagi harga mati karena ketertakutan dalam menghadapi kenyataan pahit. Memainkan skenario tawar menawar ala pasar tradisional meski sebenarnya sekali saja kaki kita tak pernah menjejak di pasar tradisional lantaran becek dan bau.

Ranah Melayu yang kaya dengan kearifan lokal mengingatkan sifat jujur pada filosofi buah manggis. Lihatlah jumlah bilangan tampok di bawah buah itu maka sebanyak itulah bilangan ulas isi manggis. Manggis tak berbohong seperti halnya dengan merpati yang tak ingkar janji. Dari buah hingga binatang begitu patuhnya memegang kejujuran, maka manusia yang berakal harusnya jauh lebih patuh. Semoga benarlah adanya, terbukti sekarang banyak digelar lapak kantin kejujuran di sudut perkantoran. Jajanan murah meriah yang tak perlu ditunggu oleh penjualnya, karena justru sudah dijaga Malaikat tanpa perlu berbagi keuntungan. Kantin kejujuran, sebuah repertoar transaksi sepele yang mengajarkan kita tentang moral yang berujung pada win-win solution. Bukankah kodrat kita selalu risih kalau belanja diikuti oleh penjaga toko? Maka bebaslah bertransaksi tetapi ingat jangan korbankan akherat Anda gara-gara seribu rupiah!

Jujur dalam kata lain adalah tidak berbohong atau bisa juga dikatakan lurus hati. Jujur berkaitan dengan perkataan dan perbuatan. Dua hal ini harus seiring sejalan tak saling menelikung. Jika beda perkataan dan beda perbuatan tentu Anda dikatakan bermuka dua. Maka dalam pewayangan kita akan menemukan tokoh Dasamuka yang menjadi perlambang angkara murka dan berkarakter ingin menang sendiri. Betapa rendahnya sebuah harga diri kalau sebutan bermuka dua disandarkan pada kita, apalagi sampai bermuka sepuluh mirip Dasamuka. Perkataan dan perbuatan yang seimbang akan mendatangkan sifat jujur dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam agama, sebagaimana jujur dalam rasa takut (khauf), pengharapan (rodja) dan cinta (mahabbah) kepada Allah. Ibnu Qayyim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain.

Memperbincangkan jujur dan kejujuran tak bisa terlepas dari kisah mengesankan dan penuh keteladanan dari seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam yang bernama Ka’ab bin Malik. Dari sebuah hadits yang sangat panjang tetapi mengobarkan ghirah beragama yang mendalam, dikisahkan ketidakikutan Ka’ab bin Malik dalam perang Tabuk, meski sesungguhnya beliau memiliki kesempatan yang lapang. Sebenarnya Ka’ab bin Malik telah mempersiapkan perlengkapan perang selama dua hari, akan tetapi ia merasa berat untuk bergabung dengan pasukan muslimin karena hatinya terpaut pada ranumnya buah di ladang yang siap dipanen. Sampai pasukan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah berangkat, Ka’ab bin Malik masih tetap tinggal di Medinah bersama kaum lemah dan kaum munafik.

Sekembali dari peperangan, Rasulullah langsung menuju masjid untuk shalat dua raka’at (inilah sandaran kita bahwa disunnahkan sholat dua rokaat di masjid sekembali dari safar), kemudian duduk untuk keperluan umatnya. Pada saat itu, mereka yang tidak turut menegakkan panji Islam dalam perang, datang menyampaikan alasan dan mereka bersumpah. Rasulullah menerima alasan mereka, membai’at dan memohonkan ampun serta menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah.

Tiba giliran menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ka’ab bin Malik menceritakan dengan jujur sebab absennya pada perang Tabuk. Bisa saja Ka’ab berdusta tetapi baginya tidak akan bisa selamat dari murka beliau, ”Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya saya duduk di hadapan penduduk dunia selain engkau, niscaya saya akan mengemukakan alasan untuk menghindarkan diri dari kemurkaannya. Tetapi demi Allah, saya tahu, seandainya saya berdusta yang membuat tuan ridha dan menerima alasan saya, namun nanti Allah akan memurkai saya lewat tuan. Dan jika saya bercerita sejujurnya, niscaya tuan akan merasa iba pada diri saya. Sungguh saya hanya mengharapkan ampunan dari Allah. Demi Allah, sesungguhnya saya tidak mempunyai alasan. Demi Allah, saya tidak pernah merasa lebih kuat dan mudah (sebelumnya) dibandingkan ketika saya tidak ikut perang bersama Rasulullah.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Orang ini sudah berkata jujur. Pergilah sampai Allah memberikan keputusan tentangmu.” Dan Ka’ab harus menjalani masa diisolasi untuk tidak berhubungan dengan sahabat lain hingga datang keputusan Allah.

Setelah 50 hari Ka’ab tidak merasa tenteram dan dunia terasa sempit baginya maka datanglah berita gembira itu. Allah telah menerima taubatnya. Ka’ab bin Malik langsung sujud syukur dan bergegas menemui Rasulullah sekaligus menyerahkan semua hartanya untuk Allah dan Rasul-Nya, tetapi Rasul menolaknya. Ka’ab pun berkata: “ Demi Allah, sejak Allah memberi petunjuk Islam padaku, tiada nikmat yang lebih berharga dan lebih besar selain aku dapat berkata jujur pada Rasulullah”.

Jujur telah membimbing Ka’ab dalam sepak terjang yang berpendar kemuliaan. Begitu pula kehidupan Rasulullah yang digelari padanya sifat shiddiq ( benar / jujur ). Bahkan sebelum diangkat menjadi seorang Rasul, masyarakat Mekkah telah mengetahui kejujuran dalam kepribadian beliau. Ketika berusia 12 tahun, Muhammad adalah pedagang jujur yang menjauhi aksi tipu-tipu, apalagi mengurangi timbangan dan takaran. Semua transaksi dilakukan atas dasar sukarela, dipamungkasi dengan Ijab Kabul ( semoga kita diberi kemampuan untuk melakukan sunnah ini ). Karena kejujuran serta integritasnya yang tinggi, Muhammad diberi gelar al-Amin. Manajemen kejujuran inilah yang akhirnya juga mampu mengembang kekayaan Khadijah yang telah dipercayakan pada Muhammad. Dalam Qur’an Surat As Shaffat 37 Allah azza wa jalla memuji Muhammad tentang kejujuran dan kebenaran risalah yang beliau bawa.

Allah juga mensifatkan dzat-Nya dengan sifat jujur. Dia ( Allah ) jujur dalam ucapan, perbuatan, janji, ancaman serta jujur dalam pemberitaan tentang kehidupan para nabi serta Allah jujur dalam pemberitaan tentang musuh-musuh-Nya yang kafir. Banyak ayat-ayat dalam Qur’an yang menjelaskan itu, seperti dalam surat An-Nisa 89 “Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah”. Dalam surat Al An’am 146 Allah juga berfirman, “Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar”.

Jelas bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba, kecuali sifat jujur dan tidak ada yang mampu menyelamatkan dari azab, kecuali kejujuran. Di antara manfaat kejujuran, ialah mendapatkan ridha Allah, kemudian akan dimasukkan ke dalam surga, seperti dalam firman Allah: ” Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. ( Al Maidah:119 ). Maka cegahlah segala kedustaan dengan berbicara seperlunya, tidak berlebihan dalam obrolan atau candaan. Lebih dari segalanya, diam adalah pilihan terbaik.

Barakallahu fikum.

4 Comments

  1. Anonymous

    great idea. Pak Haji yang sekarang semakin aktif membuat tulisan

    • Terima kasih. Sekedar ingin berbagi pemahaman supaya cara beragama kita benar.
      Silakan baca tulisan lainnya. kalau ada kritikan jangan sungkan2 ya!

      salam

  2. mangtrab…sebagian ijin copast, yaa….buat artikel saua juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: