Then Must Soeradi

Untuk 3 dara-ku:
Amandini Pertiwi
Dyah Wiranti Pertiwi
Ayuningtyas Pertiwi


#1
Kowa

Duniaku terlalu jauh dengannya. Tak ada kesamaan. Aku masih nyeker ke sana sini sambil sesekali mengusap aliran ingus yang menyembul di sela-sela lubang hidung. Sebab itulah sekitar hidung menjadi kelam bergaris-garis mengikuti saputan tangan yang sekali-sekali menghadang agar ingus tak sampai mencapai bibir. Kalau itu terjadi, ada rasa asin yang mutlak saat terseret dalam liur yang tertelan. Masa kecil yang kampungan tapi indah sekali mengenangnya. Kaki ngapal lantaran mblakrak kemana-mana tak bersandal. Kalaulah bersandal, nyaris selalu ada lubang melingkar persis di bagian tumit. Leher belakang menghitam. Kulu-kulu bau penguk, begitulah Ibu memberi cap padaku. Mblakrak tadi sejatinya tak semata-mata tanpa maksud. Bersama teman-teman sebaya, kami mencari “kowa”, kertas bungkus rokok yang beraneka ragam merk. Masuk pasar Pucang, hingga Kalibokor lantas balik rumah di Kertajaya di bawah terik Surabaya yang menyengat. Manakala ada penjual es gronjong, kami berhenti sesaat menghilangkan haus yang memuncak. Cukup membayar sepuluh rupiah. Es gronjong ini hanyalah paduan air putih (mentah?) yang diberi setrup merah dan didinginkan dengan pecahan es yang kecil-kecil tapi banyak merata. Dingin maknyos dan segernya bisa diraba saat meluncur lewat leher hingga perut. Kowa itu sore nanti akan kami adu dalam mainan osrotan, dimana kowa ditumpuk dan ditindih batu. Siapa yang bisa melemparnya hingga kowa itu keluar dari lingkaran yang mengelilinginya, dia berhak atas kowa tersebut.

Dia sudah tergolong muda-mudi. Jadi tidak lagi main kowa seperti aku. Dia lebih banyak cangkruk sambil genjreng-genjreng gitar menyanyikan lagu Diana Nasution. Atau kalau ada ketipung, lagu yang didendangkan bernuansa melayu dari Soneta grup. Itulah keseharian karang taruna kalau lagi tidak ada kegiatan, karena memang kegiatannya cuma satu, mengadakan pesta akbar peringatan 17 Agustus. Yang kuingat dia sekolah di STM 2 Pawiyatan dengan prestasi yang membanggakan. Buktinya adalah dia memperoleh beasiswa supersemar. Masa-masa itu jarang sekali ada anak setingkat SMA yang mendapat beasiswa. Dan aku belajar banyak darinya. Teramat banyak hingga harus kuakui dia memegang peranan penting atas pencapaianku kelak. Aku menyukai hobbinya mengisi TTS dan semua ilmunya telah kucuri hingga aku juga teramat tangkas mengisi TTS sejak kelas 5 sekolah dasar. Secara berkala dia membeli Asah Otak, bulletin TTS yang kondang kala itu. Lewat kartu pos warna coklat muda, dia mengirim soal yang terjawab meski sama sekali tak pernah terpilih sebagai pemenang. Inilah yang kelak kutiru, dan aku rupanya lebih beruntung darinya. Karena kelak justru aku banyak dapat hadiah dari berbagai TTS yang kukirim ke Surabaya Post. Aku menyukai bentuk tulisannya yang sangat rapi, gaya latin yang rata dan mudah terbaca. Khas sekali sebagai tulisan orang lama.

#2
Then Must …

Ke sekolah dia naik sepeda jengki sama temen deketnya yang kupanggil mas Budi. Mas Budi dekat sekali dengan keluarga kami, sudah seperti saudara sendiri. Ngomongnya cepat, jalannya cepat. Kalau sekolah hanya bawa 1 buku tulis dan dilipat jadi dua dikantongi di saku belakang celananya. Mereka berdua sudah menjadi cs, sebutan pertemanan yang sangat dekat waktu itu. Masa STM itu, aku sudah tak ingat lagi apa-apa tentangnya, kecuali ke-pede-annya menuliskan namanya dengan tambahan Then Must Soeradi. Itu tertempel pada sepeda jengkinya dan buku-buku sekolahnya. Waktu itu saya juga berfikir, apa sih maksudnya! Lewat perbincangan dengan temannya saya baru menangkap maksudnya sebagai penyandangan gelar “ningrat” pada namanya tetapi ditulis dalam plesetan bahasa Inggris. Oala rek-rek!…

Semangat hidupnya tinggi untuk memenuhi tanggung jawab sebagai kakak tertua yang harus mengganti figur bapak dan niat besarnya untuk membantu Ibu yang kala itu mendapatkan uang dengan berjualan! Betapa susahnya kehidupan kami saat itu. Katakanlah miskin tapi tidak menggoda kami sampai harus mengemis. Ibu meneladani kami dengan kerja keras menguras keringat. Subuh dini hari Ibu menyibak kegelapan mengusir dingin menuju pasar untuk kulakan sesuatu yang bisa menghasilkan keuntungan. Etos inilah yang terwariskan pada Then Must Soeradi. Maka sewaktu dia lulus STM, dia menghilang entah kemana hingga akhirnya Ibu mencarinya ke pelosok Kediri. Dia tengah menjalani pilihannya untuk menjadi seorang “kuli”. Astaqfirullah. Meski aku tak yakin apa pekerjaan sebagai lulusan STM jurusan listrik, tapi Ibu bilang dia bekerja di proyek ikut mas Saridjan, bujangan yang mengontrak sisi rumah Ibu. Harap-harap cemas kami di rumah menunggu kepulangan Ibu, sambil memanjat doa semoga mudah bagi Ibu menemukan Then Must Soeradi.

Mahasuci Allah yang mengabulkan segala doa kita …

Ibu pulang bersama Then Must Soeradi yang kelam kulu-kulu, melebihi penampakanku yang terbakar mentari siang mencari kowa!

#3
Cangkruk!

Apa yang diupayakan Ibu menjemput Then Must Soeradi tak lain lantaran adanya panggilan training dari sekolahnya. Tentu saja terkait prestasinya waktu sekolah dulu. Maka Jakarta mendekapnya meluangkan kesempatan mengenal industri baja di sekitar Pulo Gadung. Berapa lama disana aku tak ingat tapi pantauan Pakde Antok yang menjalani rute Surabaya-Jakarta sebagai supir truk cukup membantu “melihat” perkembangannya dari jauh. Keakrabannya dengan Pakde Antok terus terjalin hingga kelak akan dipermesra dengan permainan catur tiap malam sebagai hobbinya yang lain. Sampai bahkan seiring membesarnya ketiga puteranya. Lucunya, permainan catur mereka digelar di jalan di depan rumah, sehingga selalu mengundang orang untuk nongkrong ramai-ramai. Sudah pasti di sebelahnya di buka meja baru dengan permainan lain, Truff yang sungguh teramat mahir dimainkan oleh Then Must Soeradi. Meja-meja itu akan terus dikerubuti banyak orang, dari yang muda sampai yang tua bahkan hingga jam satu malam. Yang muda, tak mau ketinggalan. Datang membawa gitar dan lagu-lagu merdu. Herannya, makin malam makin ramai tetapi toh tak ada yang terganggu. Kegiatan yang memang kadang kami rindukan di saat ini. Cangkruk.

#4
Malam Takbir

Kepulangan dari Jakarta yang kuingat dia langsung bekerja di Frans Bakery atas bantuan tetangga. Dari STM jurusan listrik tentu saja pekerjaannya terkait dengan bidang itu. Semuanya terus mengalir menapaki lintasan kehidupan hingga di malam takbir itu sesuatu terjadi padanya. Then Must Soeradi terbakar lantaran oven yang diperbaikinya meledak, persis sehari menjelang lebaran. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Malam takbir itu terkoyak kisah sedih yang memilukan. Wajah dan tangannya terpanggang jilatan api. Melepuh. Dia dilarikan di rumah sakit Gubeng dengan tata gedung yang seram sekali. Malam hari itu, kami tak ikut takbir keliling, sebuah pawai ratusan truk menghidupkan jalanan Surabaya dengan mengagungkan asma Illahi. Sebuah tradisi yang tak pernah kami lewatkan. Menuju ke rumah sakit Gubeng ( yang saat ini sudah berganti dengan mall megah ) kami memarkir motor dekat dengan pohon beringin rimbun yang berdiri kokoh di halaman tengah, langsung ke ruang darurat yang terongok banyak pasien yang teramat ngeri dibayangkan. Persis di sebelah Then Must Soeradi terbaring tengkurap seorang anak muda yang punggung tersiram rata aspal. Lebaran kami akhirnya hanya terlewatkan dalam keprihatinan. Rangsangan bau obatnya sungguh masih bisa kuingat sampai saat ini.

#5
Uthek-uthek

Meranjak remaja, aku mulai bisa mengingat lebih utuh keseharian Then Must Soeradi. Meski belum lengkap dan sempurna. Dia bekerja di PT. Kalisco, yang sebenarnya terkait sekali dengan hasil dia mengikuti training beberapa waktu sebelumnya. Kehidupannya mulai tertata secara waktu. Secara ekonomi belum, karena uang hasil kerjanya lebih banyak diperuntukkan pada Ibu dan adik-adiknya. Katakanlah dia adalah penopang keluarga kami. Ketika ada pilihan antara membeli motor yang jadi impiannya dengan memperbaiki rumah, toh dia memilih untuk merenovasi rumah peninggalan bapak. Dia rela mengubur impiannya memiliki motor. Rumah kami yang awalnya berdesign jadul, berkat renovasi yang dilakukannya, mulai tampak bagus untuk ukuran kami. Beberapa dinding rumah yang tadinya cuma papan dan gedhek ( anyaman bambu ), sudah diganti dengan tembok. Betapa senangnya saya menyadari rumah makin apik. Maka mulailah muncul kesukaan menghiasi rumah dengan sesuatu yang bisa dia jangkau. Membuat meja sendiri. Seperti itulah hobbi-nya. Uthek-uthek apa saja yang bisa dia lakukan. Kalau saya, barangkali berfikirnya, malas ah. Tinggal bayar dan menyuruh orang lain, beres dah! Tapi tidak buat Then Must Soeradi. Bikin salon, reparasi sepeda sampai bikin pintu dia mau dan mampu melakukan sendiri. Hebat! Cuma yang tidak saya suka dia melakukan sambil merokok kebal-kebul. Kebiasaannya yang sangat aku benci meski akhirnya kelak dia menghentikan sendiri atas kesadarannya. Karena ketidaksukaanku, aku sering menyembunyikan rokok Bentoel Biru-nya yang baunya menyesak sekali. Suatu saat dia menyadarinya dan marah besar padaku. Aku sih tenang saja, toh niatku baik… Hehe. Kebutuhannya akan rokok sangat saya khawatirkan, karena memang cukup besar. Selain itu, aku juga tidak suka keroyalannya dalam mentraktir temen-temannya. Aku ingat kalau habis bayaran, dia mentraktir siapa saja makan bakso Ranggen, bakso yang selalu mangkal persis di depan rumah kami. Siapa saja yang ada bakal ditraktirnya, terutama teman-temannya. Maka saat saya sunatan nanti, teman-temannya inilah yang memberiku kado istimewa. Ada mas Edi, Pakde Nono dan mas Teguh yang saya ingat. Meski dari Then Must Soeradi saya dapat kado yang lebih istimewa dari yang lain, yaitu seruling Yamaha yang aku idam-idamkan dan sebuah pulpen yang ada jam-nya. Wow! Saya memang merasakan sekali, bahwa segala kebutuhanku khususnya untuk sekolah sangat mendapat perhatian serius darinya. Lebih-lebih tentang sesuatu yang merangsang kreativitasku. Termasuk hobbi-ku menulis sangat didukungnya. Dia akan rela mengetikkan di kantornya kalau saya sudah buat suatu karangan. Pada saat yang sama, dia tampak bangga dengan apa yang kuraih, meski kadang terlalu membanggakan yang berlebihan hingga akau malu pada diriku sendiri.

#6
Menikah

Kelas satu SMPku, Then Must Soeradi melangsungkan pernikahan dengan temannya sendiri di karang taruna, Mbak Budiyani. Dalam kesederhanaan yang meriah luar biasa. Saat itu memang hajatan pertama Ibu. Tamu tak terbendung sepanjang acara berlangsung, seperti tetangga dan teman-teman Ibu yang berjualan di pasar. Termasuk satu yang istimewa yang saya kenal, bu Salim guru SD-nya yang juga mengajar semua adik-adiknya. Tak ada ragam seragam acara, tapi beragam kebahagiaan tampak kentara. Saya agak malu dengan baju yang saya pakai karena ala kadarnya. Bukti bahwa memang tak ada suasana glamor seperti di tempat lain. Sorot lampu pun tak cukup benderang, tapi musik perhelatan terus mengalir dari tabuh genderang lewat tape recorder. Selamat berbahagia Then Must Soeradi. Darimu kau beriku 3 keponakan yang lucu di masa kecilnya: Tiwik, Ranti dan Tyas. Semuanya perempuan meski kau kelihatan sangat menginginkan anak lelaki. Kau awali maghligaimu dari bilik samping rumah. Sepetak kamar. Kau terus menatanya, merancangnya dan kau membangun maghligai itu bersama nafas yang berhias dzikir hingga anak-anak membesar. Lantas kau tinggalkan kebiasaan merokokmu karena kau ingin beri keteladanan. Kau hidupkan puasa senin-kamis, karena hari-hari itulah pintu surga terbuka dan kau mengharap ridlo Allah agar bisa terus mendekap anak-anakmu hingga besar, melindungi mereka yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kecemasan. Menatap terus ke masa depannya hingga kau yakin mereka telah hidup damai dalam kemandirian. Meski kau sendiri tak tahu apakah akan sampai pada titik ini. Satu per satu anak-anakmu terus tumbuh melewati gerusan jaman, hingga Tiwik mulai kuliah. Kau masih bergelut dengan waktu untuk tetap mampu membiayai mereka, meski kadang Ibu merasakan beratnya tindihan beban di pundakmu. Maka Ibu pun mengulurkan harapan untukmu. Buah kebersamaan karena kau pun sudah memuliakan Ibu ( … aku berhenti menulis karena terus menangis teringat Ibu dan kebersamaan kami … ). Ini barangkali keteledananmu lagi karena kau juga akan bahagia manakala anak-anakmu juga memuliakanmu. Maka senangnya aku ketika melihat anak-anakmu selalu salim cium tangan saat kau berangkat kerja dengan motormu dan tas berat yang berisi gumpalan cita-citamu.

#7
Celengan

Tumbuh kembang 3 keponakanku sungguh sangat mendapat perhatian khusus dari Embah dan kami. Mereka berbaur satu dalam hidup dan kehidupan kami. Teman-teman kuliahku pun sangat hafal dengan mereka. Buat Then Must Soeradi, 3 anak ini tentunya sangat menyita beaya hidup yang besar. Terasa oleh kami karena hingga anak-anaknya makin besar, rumah pun belum dimiliki. Sebaliknya kami adik-adiknya justru punya rumah duluan. Tetapi itu tidak menjadikannya kecil hati. Tetapi kekhawatiran Embah sangat bisa dirasakan oleh kami, adik-adiknya. Yang agak menetramkan, Then Must Soeradi sudah punya celengan tanah. Itulah pilihan dan pikiran The Must Soeradi yang didasarkan pada kemampuannya. Bagian dari takdir Allah untuknya. Rejeki dan umur. Tak banyak kerjaan sampingan yang bisa dilakukan untuk menambah pundi keuangan keluarga. Kala Ibu punya rejeki lebih, sering kulihat turut menyokong kebutuhan dia. Meski kecil tapi cukup membantu. Ibu ikhlas mengulur, Then Must Soeradi rela mengubur rasa malu. Episode terindah dalam lakon kehidupan yang memainkan kisah tolong menolong karena kasih sayang menjadi benang cerita yang tak akan putus meski cobaan datang silih berganti.

#8
Runtuh

Lulus kuliah, aku langsung bekerja. Inilah episode kesendirianku karena sudah tak ada lagi bayang-bayang Then Must Soeradi yang menempel di belakang langkahku. Toh beberapa urusan aku masih harus melibatkannya, misalnya manakala akau pengen punya motor, maka dialah yang mencarikan dan beberapa urusan tetek bengek lainnya seperti pasang telepon dan hingga urusan pernikahanku kelak. Dialah yang punya waktu luang di siang hari karena adanya kerja shift. Aku melihatnya dia orang yang tidak punya capek. Atau mungkin tak dirasanya lantaran sikap tanggung jawabnya yang teramat tinggi. Bahasa organisasi adalah integritas. Pokoknya nomor satu deh!.

Berangsur kami semua berkeluarga dan tersebar di berbagai kota. Maka Then Must Soeradi yang menjadi perekat kami. Beliau sendiri tetap di Surabaya sambil menunggu Ibu yang sudah mulai sepuh. Dia pengawal pribadi Ibu. Ketika aku merindukan Ibu, maka Then Must Soeradi yang mengawalnya hingga Jakarta. Rasa bakti yang sungguh agung pada seorang Ibu. Kami yang terlalu egois atas nama kesibukan mengurus anak-anak, tak menjadi bahan masalah bagi beliau. Semua urusan bersama beliaulah yang membereskan. Kami hanyalah mandor yang tak tahu diri. Mondar-mandir bagi Then Must Soeradi seolah perintah yang akan memberikan kesenangan bagi semua adik-adiknya. Sementara kami tak menyadari bahwa usia terus beranjak yang berarti kekuatan pasti berkurang. Kami sungguh tak menyadarinya …

Saat Ibu meninggal, betapa saya hanya dalam penyesalan yang tak berujung. Tak ada kesempatan lagi untuk memutar ulang sang kala, karena waktu adalah menggerus kekinian menuju hari esok. Saya tak ada di samping Ibu karena sedang syuting di ujung kota Garut yang tak bisa kutinggalkan. Pada saat memperoleh kabar Ibu sakit, saya hanya berdoa semoga Ibu disembuhkan dari penyakitnya. Tetapi takdir yang kuinginkan tak menjemputku. Yang terjadi justru Ibu harus terbaring dalam keabadian dijemput maut. Maka keberangkatan saya ke Surabaya dini hari itu, hanyalah untuk mengantar jenazah ibu ke liang peristirahatan.

Kepergian Ibu memindahkan seluruh sandaran kami kepada Then Must Soeradi. Perih memang merasakan hidup tanpa orang tua lagi. Dua tahun lamanya saya tak bisa melepas kenangan bersama Ibu. Selalu setiap hari saya masih merasakan Ibu ada di sampingku. Lewat rasa yang hanya bisa meraba. Kehangatannya terus terbayang sehingga kepergiannya tak kami rasakan. Belumlah hilang kenangan itu, maka sesuatu yang tak kami inginkan harus terjadi. Ketika saya dan keluarga merayakan lebaran di gugusan kepulauan Riau yang sarat keindahan adat budaya, kabar menyedihkan terkirim kembali untukku. Then Must Soeradi meninggal dunia …

Runtuh sudah langit yang memayungi. Sempit pula bumi yang menopangku. Siapa lagi yang kini akan menjadi perekat kekeluargaan. Dalam usia yang nyaris menapak setengah abad, pengganti bapak kami, pengganti Ibu kami turut berpulang. Meninggalkan istri dan tiga mutiara indah. Meninggalkan kami dan semua keponakan yang disayanginya. Meninggalkan cita-citanya yang belum semuanya tergapai. Meninggalkan kami dalam ketenangan yang sudah dirangkainya sendiri.

Kini hanya kami yang tersisa, bersama keluarga kami masing-masing. Saling terpisah, merenda cita-cita. Tapi cinta dalam lubuk hati tetap bersemi untuk saling mencintai, untuk saling berbagi untuk sama-sama membesarkan anak-anak kami dengan harapan agar mereka menjadi penyejuk pandangan mata yang bercahaya di sudut hati kami.

Terima kasih Then Must Soeradi...
Engkau telah menjadi Bapak kami
Engkau telah menjadi Guru kami
Engkau telah menjadi Perekat kami …
Semoga Allah azza wa jalla memberimu tempat termulia dalam alam keabadian …

4 Comments

  1. Anonymous

    jadi kangen bapakq..
    Aq skrg cm bs doain bapakq..
    Bapakq memang bapak terhebat,bapak yg q cintai..dulu aq sering mengecewakan beliau..skrg aq menyesal sekali..thx om to..

    • Doa anak sholeh adalah segala-galanya bagi arwah yang berisitirahat dalam keabadian. Maka jangan tinggalkan doa, lakukan dalam setiap ingatan dan hembuasan nafas kita. Itulah pengobat kekecewaan yang paling hakiki bagi beliau, kalau seandainya kita merasa telah mengecewakannya.

      Semoga Allah merahmati Bapak dan dirimu.

      Salam

  2. ucapan termakasih buat mas suradi alm.. karena aku menjadi seperti ini tak lepas dari peran serta alm dalam membiayai sekolahku dulu.. disamping suri tauladan nya.. disaat ingin dan aku sanggup untuk mengulurkan tanganku untuk membantu alm.. apapun.. pasti akan kuberikan buat alm pada saat ini.. untuk membantu setiap kesulitan nya.. alm telah berpulang.. dan yg membuat aku menyesal adalah aku tidak pernah tahu kesulitan alm saat itu… maafkan aku kakak…

    • tak ada yang perlu disesali karena kita masih punya banyak kesempatan untuk membuktikan cinta kita pada beliau.

      Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: