AKSARA BERMAKNA UNTUK ARMANDIANTORO

Dua tahun terakhir hidup saya seolah mengalami fase evolusi yang secara gradual memasuki perubahan demi perubahan. Secara material sesungguhnya tak mewariskan sifat dasar tertentu. Tetapi dalam konteks perasaan sungguh teramat substansial. Perasaan semacam terkoyak lantaran adanya mutasi atmosfer dalam interaksi lingkungan. Ya begitulah, hari ini suasana berubah, besok lagi berubah. Besoknya besok berubah. Lagi-lagi berubah. Berubah lagi berubah lagi hingga terangkai seperti pola evolusi yang gradual. Begitulah adanya. Perubahan itu terjadi di kantor dan lebih disebabkan adanya wajah lama yang pergi dan wajah baru yang datang secara terus menerus dua tahun terakhir. Sebegitunya sih? Atau jangan-jangan ini hanyalah sensitivitas perasaan yang terekspose secara ekstrem. Tiba-tiba menjadi melankolis, cengeng dan sok sendu. Sebelum orang lain menyimpulkan, saya katakan saja sejujurnya kalau suasana-suasana seperti inilah yang dikiaskan secara satire: wajah Rambo hati Rinto.

Cengeng tiba-tiba saja menjadi sebuah keniscayaan. Barangkali, inilah kodrati paling manusiawi ketika interaksi lingkungan kita terkoyak secara alamiah. Meski ini bukanlah sebuah proses seleksi alam, tetapi faktanya satu per satu rekan kerja harus berpisah. Mereka menyonsong sebuah new challenge. Menerima tantangan baru dan meninggalkan populasi yang sudah diciptakan bersama-sama. Yang pada hari ini kita masih bersama-sama menakhlukkan pekerjaan yang tidak ada habisnya itu, rupanya esok harus konsentrasi sendiri-sendiri di tempat yang jauh terpisah. Bayangkan! Lalu apa Anda tidak menjadi cengeng? Sesengukan sendiri sambil belajar merelakan kepergian sang teman. Entahlah, meski cengeng ini hanyalah perasaan sesaat, tetapi terasa sekali menyesak di dada. Seorang kawan baik bahkan tidak bisa tidur ketika harus menghadapi berita kepergian temannya. Perasaan memang tidak bisa berbohong.

Ketika pagi hari menyalakan komputer di meja kerja, yang berkecamuk dalam pikiran adalah email siapa lagi yang memberitakan kabar perpisahan. Jangan-jangan teman sebelah, jangan-jangan si Joko si Eko si Koko atau si Moko. Ahh, kekhawatiran yang selalu bergejolak lantaran perpisahan sering menjadi dinding pemisah yang sulit ditembus. Menciderai kebersamaan yang indah dilalui. Perpisahan menjadi kalung pemberat yang melingkar di leher hingga kita tak mampu berjalan dengan tegak. Luruh gara-gara emosi teraduk-aduk oleh daya magis perpisahan. Perih!

Maka pada hari ini, itulah yang saya rasakan. Seorang sahabat, kawan baik dan rekan kerja yang tercinta dan paling dicintai akan berkemas meninggalkan saya. Armandiantoro. Sosok yang memiliki banyak kebaikan. Orangnya baik, hatinya baik dan pekerjaannya sangat baik! Kehilangan seorang Armandiantoro, bagi saya seperti tragedi terdelete-nya semua deretan nama dalam phone book saya. Seolah saya bakal kehilangan banyak hal. Mulai dari cerita-cerita di luar sana di tempat yang baru dia kunjungi, komentar-komentar spontan yang mengundang tawa hingga goresan indah design grafisnya yang sangat berkarakter. Hmm, design grafis … ini pastinya berurusan dengan pekerjaan. Memang seorang Armandiantoro patut diberi dua jempol untuk responsibility-nya. Bersamanya, betapa saya tak pernah khawatir soal kerjaan. Semua langsung tertangani dan semua dijabanin! Hehehe … Dia mengerti sekali apa yang kita inginkan, seolah bisa membaca kata hati orang. Atau itulah buah kematangannya setelah bekerjasama selama hampir 15 tahun. Tak ada yang patut diragukan lagi. Pekerjaan baginya adalah istri pertama. Entahlah, apakah saya ini sedang berlebihan? (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat ghulluw ini) Saya berani mengatakan begitu lantaran dalilnya bisa disandarkan pada banyak hal yang telah dibuktikan oleh Armandiantoro sendiri. Dalam perjalanan pulang, dia ikhlas untuk kembali ke kantor guna merevisi pekerjaan atas permintaan klient. Kejadian ini tidak sekali dua kali. Pas lagi santai menikmati liburan di rumah, dia ikhlas meluncur ke kantor untuk membantu rekan lain yang terkena dateline. Ini juga bukan sekali saja, keadaan dimana tiba-tiba harus meninggalkan istri di rumah sendirian. Istri dirumah dikalahkan, urusan kantor didahulukan. Ahh, Armandiantoro. Kamu sesungguhnya telah menempatkan kemuliaan dalam dirimu sendiri, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Ini aplikasi sebuah hadits dan kamu sudah mengamalkannya. Semoga Allah memberimu hidayah dan senantiasa membimbingmu untuk menunaikan segala perintah-Nya. Perkenankan ini menjadi doa dan nasehat saya untukmu, sebagai bagian saling nasehat dan menasehati sekaligus saya menunaikan amanah sahabatmu terdahulu Deny Prasetio rahimahullah. Dalam pesannya yang disampaikan kepada saya berulang-ulang dan berkali-kali, mendiang (untuk tidak menyebut almarhum) meminta saya untuk menyampaikan nasehat kebaikan ini padamu. Semoga kau berkenan dan saya telah tunaikan amanah yang sekian lama ini belum saya laksanakan. Jazakallahu khairan.

Seorang Armandiantoro. Jangankan untuk pekerjaan, untuk urusan lain pun betapa mudahnya dia mengulurkan tangan. Bisa jadi inilah karakter arek Suroboyo yang sebenarnya. Blak-blakan tapi dibarengi rasa setia kawan yang tinggi menjulang. Ketika saya berencana memulai sebuah usaha yang melibatkan sentuhan seorang design grafis, begitu cepatnya dia mendukung sepenuhnya rencana itu. Hingga saat ini sudah hampir 100 versi design T-Shirt yang diciptakan untuk Artefino, bendera yang tengah saya rintis. Kerjasama yang sangat menyenangkan dan tentunya dukungan yang teramat sangat berarti buat saya. Ketika saya ucapkan takzim dan permaafan karena merepotkan, ahh ringan saja dia menimpali: wis biasa repot! Alangkah indahnya akhlakmu, kawan. Repot dalam pandangan kita rasanya nyaris dihindari, seorang Armandiantro malah menjemputnya. Seolah dia ingin memaksimalkan waktu dan kemampuan yang dimilikinya untuk menjadi bermanfaat bagi semua orang. Tak pernah ada hitung-hitungan macam ane jual ente beli, atau bengkere’an (ribut-ribut) soal hak cipta atas hasil yang sudah ada. Semua itu terkubur dan terkabur oleh semangatnya yang sungguh menggebu-gebu ingin menolong temannya. Di ujung pekerjaan, yang muncul selanjutnya adalah lontaran kalimat, apa lagi yang bisa saya bantu!.

Kepergian Armandiantoro tentu akan mengurangi gaung tawa di sekitar saya. Betapa dia begitu mudah masuk ke wilayah-wilayah jenaka meski dalam bahasan yang serius. Baginya tak pantas menyelesaikan masalah dengan kepala pening. Dengan canda semuanya bisa jauh lebih baik. Dengan candanya, semua orang bisa tertawa menikmati saat-saat paling menyenangkan. Lewat pintu canda Armandiantoro masuk ke dalam kehidupan kawan-kawannya. Sebaliknya orang lain akan begitu mudah masuk untuk mendalami kehidupan Armandiantoro. Banyak pintu yang bisa dimasuki untuk mengenalnya, seolah itulah sikap keterbukaan Armandiantoro. Dari pintu VIP hingga pintu darurat-nya, tak ada satupun terpasang secure card. Semudah itulah semua orang bisa mengenal seorang Armandiantoro dan sekali mengenal dirinya, siapa pun akan terkesan pada kali pertama. Takhluk oleh kesupelannya dan kelucuannya. Maka ketika dia akan meninggalkan komunitas lamanya, betapa banyak orang yang akan kehilangan. Tangisan semua orang itu akan menggelegar mengalahkan teriakan lantang supporter bola di lapangan Senayan. Dan saya ada bersama orang-orang yang menangis pilu itu. Melankolis, cengeng dan sok sendu. Ahh, biarlah!

Armandiantoro sejatinya sangat-sangat tidak menyukai perpisahan. Stasiun kereta, dermaga pelabuhan, lobby bandara baginya semacam point center yang hanya akan mengundang kepiluan. Ketika sinyal kereta ditiupkan, turbin kapal laut dinyalakan dan berita keberangkatan pesawat diumumkan, ahh peristiwa besar bernama perpisahan itu berada di depan mata. Dan Armandiantoro tak akan kuasa menghadapinya. Seolah dia berada di akhir cerita sebuah film roman yang mau tak mau mesti mengundang tetesan air mata. Membelah kebersamaan menyayat perasaan. Tetapi toh Armandiantoro harus melakukannya. Melambaikan tangan untuk menyongsong skenario kehidupan berikutnya. Jangan berbalik arah, kawan!. Tetapkanlah langkahmu ke depan. Kemilau bintang disana menunggumu untuk kau petik dan bawalah pulang, hadiahkan untuk istri tercintamu. Jangan kau terbuai romantisme masa lalu ketika tertawa terbahak bersama kami di break out, di kantin atau dimanapun setiap kau hadir. Silakan kau meninggalkan kami mesti kau tak harus melupakan kami Bukankah kau pernah mengingatkanku, kalau semuanya akan indah pada waktunya. Tunas-tunas kebahagiaan tetap akan bersemi, seiring waktu ketika kita terus menyiraminya. Menyiraminya dengan karya dan karsa. Hingga saatnya nanti kita semua akan koor senandungkan lagu merdu “disini senang disana senang”. Always somewhere!

Armandiantoro sahabatku, biarlah barisan aksara dalam note ini menjadi prasasti bermakna sepanjang kebersamaan kita. Kita akan terus sama-sama berkarya meski di bawah langit yang berbeda. Memberikan yang terbaik seperti yang selama ini telah kau berikan kepada kami. Tetapi di saat yang sama, kami juga akan menunggumu di atas awan, untuk sama-sama mewarnai angkasa bumi pertiwi dengan karya terbaik kita. Inilah cara paling indah untuk merangkai pertemuan kita berikutnya. Karena, kami akan selalu menunggu dan merindukanmu. Selamat jalan Ibog!

2 Comments

  1. Christian BL

    Harimau mati meninggalkan belang,
    Gajah mati meninggalkan gading,
    Arman ….. meninggalkan kenangan indah🙂
    dengan segala plus yang mas Kar tuliskan, pun juga dengan minusnya
    sebagai manusia biasa seperti kita-kita..

    Mas Kar berhasil menuliskan dalam aksara yang indah,
    yang pasti mewakili gejolak hati kita teman2nya Arman..
    Ungkapan2nya membuat saya terharu, dan bersyukur
    bahwa dalam kehidupan ini ada yang namanya persahabatan
    … sesuatu yang mujarab untuk mengobati kekosongan hati kita…

    Thanx mas Kar untuk deskripsi yang pas tentang Arman..!

    Untuk Arman yang mungkin juga baca komen saya ini,
    Thanx ya Man..! Buat semuanya deh..! Susah nyebutin satu persatu..!
    Sukses di tempat yang baru, dan selamat menabur benih2 kebaikan disana..!
    (masih ada stock nya kan..??!! hehehehe…).. STAY SICK..!

    • Harimau, gajah dan Arman sama-sama telah memberi makna dalam hidup dan kehidupannya. Itulah hakikat sesungguhnya dalam sebuah kebersamaan.

      Terima kasih bung Chris atas sanjungannya yang membuat saya melambung ke awan. Meski ini sebenarnya hanya ungkapan perasaan saya kepada Arman yang bisa saya rasakan.

      Semoga kita semua selalu menabur benih kebaikan, dimanapun kita berpijak.

      Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: