MARAH

Kalau mau belajar sabar, kendarailah mobil keliling Jakarta !

Seorang kawan baik punya ukuran sendiri untuk melihat seseorang pemarah atau bukan. Sederhana sekali, hanya dengan melihat bagaimana atittude berkendara di jalanan Jakarta. Masuk akal memang mengingat warga Jakarta setiap hari dikepung kemacetan, sehingga pengguna jalan saling mengangkangi jalan, saling serobot, peduli amat sama yang lewat. Bunyi klakson bukan lagi isyarat emergency tetapi lebih sebagai ekspresi kejengkelan. Amarah tumpah di jalanan bercampur umpatan kesal yang tak karuan bunyinya. Serba berantakan mirip penampilan orang-orangnya lantaran lusuh menempuh perjalanan jauh menerabas jantung Jakarta dari penjuru Depok, Tangerang dan Bekasi. Sebagian justru datang dari arah yang lebih jauh lagi: Bogor, Kerawang dan Serang. Nah, bagaimana dengan Anda? Mau marah atau mau sabar? Mau-maunya sih cari duit di Jakarta. Hehe …

Marah pada prinsipnya adalah sikap resistensi atas adanya gangguan dan ancaman. Reaksi dominan untuk memperingatkan pengganggu agar menghentikan perilaku yang bernada ancaman. Secara lahiriah ditandai dengan peningkatan denyut jantung, tekanan darah dan adrenalin. Ekspresi luar juga dapat dilihat dengan adanya raut muka memerah, mata melotot dan kadang tindakan agresi tangan dan kaki. Makanya kalau orang lagi marah tampak seram seolah-olah mau keluar tanduk dan taringnya. Berpotensi melakukan pengrusakan ( pada barang ) dan penganiayaan ( pada orang ). Mengapa bisa begitu? Ketahuilah kawan, karena sesungguhnya marah adalah bara yang dilemparkan setan ke dalam hati anak Adam sehingga ia mudah emosi.

Astaqfirullahal adzim. Berarti kalau kita menuruti hawa nafsu dengan mengumbar amarah, saat itulah kita jadi budak hina setan laknatullah. Kita terpancing karena membiarkan bara yang dilempar terus menyala, berkobar dan membakar kesadaran kita. Dan pantaslah kita bergelar MBA alias Manusia Berkalung Amarah. Dikit-dikit marah seolah tak ada ruang empati pada perasaan kita. Merendahkan martabat orang lain seolah mereka santapan lezat buat kita. Teganya, teganya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqâlani rahimahullah mengatakan bahwa hakikat marah tidaklah dilarang karena merupakan perkara tabiat yang tidak bisa hilang dari perilaku kebiasaan manusia. Maka kita harus bisa mengelola tabiat marah dalam rangka meraih ridlo Allah Tabaraka wa Ta’ala. Munculkan marah apabila menemui gangguan terhadap agamamu dan demi membela kebenaran terhadap orang-orang yang mendurhakai Allah dan Rosul-Nya. Inilah marah yang terpuji sebagaimana Rasulullah tampakkan wajah marah manakala ada pelanggaran terhadap larangan Allah. Tak ada sesuatu pun yang mampu membendung amarah beliau. Apakah Rasulullah pemarah? No He isn’t. Bahkan terhadap pembantunya saja Rasulullah tak pernah berucap “ahh”!, apalagi menggunakan tangannya untuk memukul. Bukankah kita semua tahu bahwa akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an seperti yang dikatakan Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha (HR. Muslim no. 746). Ibnu Mubarak rahimahullah bertanya, “Kumpulkanlah untuk kami akhlak yang baik dalam satu kata!” Beliau menjawab, “Meninggalkan amarah.” Apakah keutamaan orang yang meninggalkan amarah? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai”. Nah, mau pilih memarahi atau pilih bidadari ?

Ja’far bin Muhammad rahimahullah mengatakan, “Marah adalah pintu segala kejelekan”. Betapa kita tahu bahwa banyak dampak negatif yang ditimbulkan hingga akhirnya hanyalah muncul penyesalan yang tersisa. Maka sebisanya hindari marah dengan berbagai jurus pilihan sebagaimana Rasulullah ajarkan pada kita:
– Membaca Ta’awwudz
– Berwudlu
– Duduk
– Diam
– Bersujud

Begitu banyak pilihan untuk membendung amarah, mestinya tak ada lagi banjir amarah yang menerjang. Marahlah dengan terpuji sebagai tindakan korektif atas perilaku yang mengotori agama dan semoga Allah ridlo. Sebagaimana Nabi Musa marah dengan kemarahan yang sangat besar saat melihat secara langsung kaumnya menyembah patung anak sapi dari emas (QS. Al A’raaf 150 ). Sedemikian juga Allah SWT yang marah kepada Iblis karena tak mau sujud kepada Adam yang telah Allah sendiri ciptakan dengan kedua tangan-Nya ( QS. As Shaad 75 ). Maka kita harus menyakini pula bahwa Allah dengan segala keagungan-Nya memiliki sifat Al Asaf ( marah ) yang merupakan sifat-sifat Af’al (perbuatan) yang dilakukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, bila Dia menghendaki, sebagaimana Allah tunjukkan kemarahan kepada Iblis atau kepada kaum musyrikin.

Marah yang sungguh-sungguh terpuji yang dengannya tak mengapa apabila kita harus marah. Selebihnya, buang puing-puing amarah yang datangnya dari hawa nafsu, jangan biarkan berserakan di relung hati kita. Ingatlah pesan indah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath (no. 2374): Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk surga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: