SENYUM

Seorang kawan baik membuat rumusan tentang istri, sederhana tapi mengena: bahwa istri itu harus senyum di ruang tamu, hangat di kamar dan hemat di dapur. Bukan sebaliknya senyum di dapur, hangat di ruang tamu dan hemat di kamar😦 Pemahamannya adalah tersenyumlah pada setiap orang yang berkunjung, banyak senyam-senyum di dapur tanda tak mampu memasak. Wajib memberi “kehangatan” pada suami saat di kamar tetapi jauhi berbagi “kehangatan” selain pada pasangan hidup. Berhematlah dalam mengatur keuangan, jangan malah “berhemat” pada suami, seolah tak punya cara untuk menyenangkan suami… Ada-ada saja.

Tapi mengapa ya harus senyum pada orang lain? Banyak nasehat bijak yang menyarankan kita wajib senyum, karena senyum datang dari rasa bahagia dan membuat orang lain bahagia. Senyum yang Anda berikan pada orang lain seolah sebuah sinyal yang terkirim untuk menyampaikan pesan bahwa life is good!. Maka orang lain akan terpancing untuk membalas senyum itu, bahkan bisa berujung untuk saling mendekat bertegur sapa. Kalau begitu, sudah pastilah senyum menjadi zat emulsif yang mampu mensenyawakan dua pribadi yang tadinya saling berjauhan, bersungutan atau bahkan berselisih.

Senyum🙂 dianugerahkan oleh Sang Pencipta dalam keadaan tidak serta merta tampak. Harus dengan sedikit usaha menarik syaraf pipi sehingga senyum itu baru muncul. Usaha inilah yang nantinya dinilai sebagai ibadah. Karena sekalipun senyum adalah perkara pekerjaan ringan tetapi rupanya membutuhkan energi yang kuat untuk mengalahan ego dan amarah. Senyum tentu akan diiringi dengan kelemahlembutan. Kalau anda sedang diganggu orang dan anda membalasnya dengan senyum maka itu sangat luar biasa. Seperti itulah yang dicontohkan oleh pribadi teladan umat Islam Muhammad Rosulullahi Sallallahu ’alaihi wa sallam. Ketika seorang buta Yahudi di pinggiran kota Madinah mencaci maki hingga sampai mengatakan Beliau gila, tak ada balasan yang diberikan selain tetap berlemah lembut sambil menyuapkan kepalan nasi ke mulut orang tua yang buta itu. ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Inginkah aku kabarkan kepadamu orang yang diselamatkan dari api neraka, atau dijauhkan api neraka darinya? Yaitu setiap orang yang ramah, lemah-lembut dan murah hati“. [HR Tirmidzi]

Setiap gerak dan ucapan Rasulullah selalu diiringi senyum. Manakala sahabat bertanya, senyumnya yang mengawali jawaban Beliau. Ketika sebuah ayat turun, Beliau menyambutnya dengan senyum, seperti ketika turunnya Surat Al Kautsar. Sahabat Jarir bin Abdullah RA begitu terkesannya terhadap Rasulullah dimana sejak masuk Islam, Rasulullah tak pernah melarangnya untuk menemui dan beliau tidaklah memandang Jarir bin Abdullah kecuali selalu tersenyum. Kalaulah sepanjang hidupnya dihiasi dengan senyum, maka sudah pastilah di akhir hayatnya pun Rasulullah SAW tetap memancarkan senyum indahnya, sebagaimana Hadits riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Abu Bakar mengimami sahabat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit yang membuatnya wafat, pada hari Senin, ketika berbaris dalam salat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap tirai kamar dan memandang kami dengan berdiri. Wajah beliau putih seperti kertas, beliau tersenyum. Kami yang sedang salat terpukau karena gembira dengan keluarnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Kemudian Abu Bakar mundur untuk ke barisan pertama. Ia mengira bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk salat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat tangan kepada mereka agar terus menyempurnakan salat. Lalu beliau masuk lagi dan menurunkan tirai kamar. Pada hari itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

Sungguh, senyum adalah sifat yang menonjol dari para Nabi. Nabi Sulaiman tersenyum ketika mendengar perkataaan semut dan berdoalah Nabi Sulaiman untuk tetap mensyukuri Nikmat Allah. ( QS. An. Naml:19 ) Bahkan dalam salah satu hadits marfu’ Shahih Muslim Bab 25 Kitab Pemerintahan diberikan gambaran Allah tersenyum. Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu : ia berkata: Allah tersenyum kepada dua orang laki-laki di mana yang satu terbunuh oleh yang lain namun keduanya masuk surga. Kemudian mereka bertanya: Bagaimana dapat terjadi, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Yang satu berperang di jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung lalu ia mati syahid. Kemudian Allah menerima tobat orang yang membunuh, lalu ia masuk Islam dan ikut berperang di jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung kemudian ia juga mati syahid.

Setangkup cangkang tiram yang tertutup, tentu tak memancarkan kesan apapun. Begitu dua cangkang yang dihubungkan oleh jaringan ikat itu terbuka, betapa kita akan senang memandangnya lantaran mutiara yang tersimpan di dalamnya memendarkan kemilau indah yang menakjubkan. Begitulah senyum. Maka jangan biarkan “mutiara” yang terpendam dalam diri anda tak memberi manfaat apa-apa buat orang lain, bahkan untuk diri anda sendiri. Jadi, tersenyumlah dan sebarkan manfaat bagi orang lain. Maka ketika itulah senyum yang Anda pancarkan memberi nilai ibadah!

🙂🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: