PROGRAM TV 2010: Sebuah Catatan

Hingga saat ini, televisi tetap menjadi primadona hiburan di rumah. Gratis dan banyak pilihan. Maka buat pengelola industri broadcast ini merupakan harapan besar untuk terus mengembangkan program acara dalam rangka berebut posisi sebagai TV yang difavoritkan. Tentu saja, ujung-ujungnya adalah demi rating. Maka sangatlah riskan kalau sebuah TV Station melakukan testing the water, hanya coba-coba untuk memunculkan suatu program. Semuanya harus berdasar riset dengan mengenali karakter pemirsa dan kesukaan pemirsa.

Tahun 2010 banyak diwarnai lahirnya program baru yang berimplikasi pada perubahan pola acara itu sendiri. Program yang tampaknya menjadi pilihan pemirsa satu diantaranya adalah FTV. Secara jam tayang, program ini terus menggelembung hingga di akhir tahun, menggeser dominasi sinetron. Bisa jadi FTV adalah semacam muara pelarian bagi pemirsa setelah bertahun-tahun digulung oleh gelombang sinetron yang tak ada matinya. Kesadaran pemirsa terhenyak ketika waktu mereka nyaris terkikis sepanjang hari untuk menunggu kelanjutan cerita sinteron yang ditayangkan secara stripping. Seperti batu karang, pemirsa begitu setia menunggu datangnya gelombang cerita yang dibawakan oleh sang bintang sinetron. Sayangnya, cerita yang ditunggu kog ya cuma gitu-gitu aja, tak lebih dari dramatisasi tragedi kehidupan yang susul menyusul seperti gulungan ombak yang tak berkesudahan. Lah apa iya orang kog dihajar sedemikian hebatnya oleh tragedi dan tragedi lagi sampai tak ada peluang untuk sedikit tersenyum. Maka “kedewasaan” pemirsa yang terus terdidik oleh waktu, mulai melakukan resistensi. Penolakan yang muncul dari dalam hati. Disinilah FTV mulai menjadi alternatif, terus berkembang dan mendapat slot tayang lebih banyak dari biasanya.

Karakter pemirsa penggemar FTV kebanyakan adalah “suka ke mall”. Maka FTV yang notabene menyuguhkan shot indah yang tak sekedar close-up shot seperti dalam sinetron, sangat mewakili selera pengemarnya yang sering jalan ke mall melihat keindahan etalase secara artistik. FTV sedemikian habatnya mengekploitasi keindahan alam Bali, Jogja, Solo dan bahkan kota-kota kecil seperti Garut, Wonosobo dan Pemalang dengan pengambilan gambar long shot. Cerita FTV pun ringkas berkelas, tak neko-neko. Pemirsa gampang mengikuti dan bahkan berasa seperti pengalaman mereka yang dipaparkan ulang. “Hah, Ben Joshua dan Hesti Purwadinata sedang memerankan kisah yang kualami, Oh-Em-Ge … ”, begitu jerit surprise seorang pemirsa saat melihat kemiripan lembaran hidupnya dengan salah satu kisah di FTV. Sebuah ikatan emosional yang mulai terbangun dan pada akhirnya jadi suka. Oh, so sweet …

Pada genre infotainment tak banyak pergeseran baik dari kemasan maupun konten. Bisa jadi karena karakter penggemar infotainment yang “suka ke pasar tradisional” jadi perkara kemasan bukanlah hal utama. Yang penting isinya. Dengan demikian, yang diuntungkan adalah pengelola TV, karena secara kemasan ya tidaklah terlalu pusing untuk melakukan new look setiap session lha wong dipastikan tetap ditunggu oleh pemirsa kalangan Ibu-Ibu yang kebanyakan…. hehehe, biang gossip. Inilah yang membuat genre infotainment tak banyak berkembang secara kemasan, lebih-lebih secara konten. Produksi program yang relatif murah dan “tak perlu pembekalan” pada crew di lapangan sehingga prinsip 4W + 1H tak benar-benar dipahami sebagai mekanisme penggalian informasi. Demikian juga shot pengambilan gambar yang tak perlu pusing-pusing menyuguhkan beauty shot. Katakanlah ini adalah format news, barangkali begitu pembelaan para kameramannya. Tapi justru akan berseberangan dengan kapasitas reporternya yang tak dibekali etika jurnalistik seperti dugaan saya tentang 4W + 1H. Mestinya dilakukan perbandingan dengan infotainment dari channel dunia, betapa elegan-nya mereka mengemas konsep acara dan kontennya yang tak sekedar kacangan. Perkara perbandingan dan studi banding pun sungguh teramat mudah seperti begitu mudahnya para anggota dewan yang terhormat dalam berbagai kunjungannya ke manca negara.

Program lain yang justru makin happening di tahun 2010 adalah program komidi. Extravaganza, Opera Van Java mewakili genre ini. Digebrak oleh hadirnya Tukul beberapa tahun silam yang menghadirkan kemasan komidi talkshow, namun acara ini tak sepenuhnya mewakili genre komidi lantaran model talkshow yang menghadirkan bintang tamu selebriti. Maka tidak 100% lutuna, sangat tergantung respon dan sense of humor bintang tamunya. Apalagi kelucuan Tukul yang cuma pada ekploitasi keculunannya terhadap pemahaman kebahasaan bilingual. Terkesan memaksa ketika Tukul mengucap sesuatu dengan bahasa Inggris, tetapi itu diterima oleh pemirsa sebagai kelucuan. Ya cuma itu. Maka kelucuannya pun tak mengalir spontan, alias on-off dan byar-pet. Lucu kalau Tukul berulah, terutama saat mengomentari kemolekan sang bintang tamu yang disandingkan dengan segala obsesi Tukul atasnya dan garing kalau sudah mulai terjadi wawancara. Sangat berbeda dengan Extravaganza atau Opera Van Java yang padanya didukung sepenuhnya oleh komidian. Jadilah program-program ini nonstop lucunya. Apalagi wardrobe dan properti yang tematis sesuai dengan cerita yang diangkat, maka gue bilang … asyik banget coy!. Properti pun tak sekedar tempelan pada cerita, tetapi dimanfaatkan sedemikian rupa sebagai media mengocok perut pemirsa. Properti bukan lagi tools yang disayang-sayang agar bisa di-recycle untuk episode berikutnya, tetapi properti sudah menjadi “hak sepenuhnya” sang artis, dirusak-rusakin dan dihancur-hancurin biar acting makin lucu.

Pemirsa komidi bisa diibaratkan mereka yang “suka jalan ke café” yang haus akan hiburan. Mereka ingin melepas kepenatan, maka tak mau ditambahin dengan persoalan rumit sampai mereka harus mengernyitkan kening. Yang ditunggu cuma hiburan ringan untuk mendapatkan kesegaran baru setelah suntuk dalam aktivitas keseharian. Persis seperti tujuan mereka saat ke café.

Program pencarian bakat atau talent show tiba-tiba begitu popular di tahun 2010 lalu. Seiring dengan minat khalayak yang banyak bermimpi menjadi bintang dan terkenal, maka program ini mendapat sambutan luar biasa. Tersebarnya berbagai talenta amatiran yang awalnya dikembangkan atas dasar kesenangan dan hobbi ( atau lantaran tak mendapat saluran berekspresi di media semacam TV), memungkinkan sekali program talent show menjadi pilihan baru yang menjanjikan. Terbukti bahwa beberapa peserta yang memang memiliki bakat unik tiba-tiba saja menjadi terkenal. Bagi pemirsa pun acara ini menjadi sangat menarik sebab dalam satu pentas, pemirsa bisa menyaksikan bervariasi perform. Anggaplah sebagai satu pentas untuk semua dan memang mirip dengan sebuah variety show yang isinya gado-gado sekali. Ada penyanyi, modern dancers, ngeband, juggling, pantomim dimana selain tampil sendiri, mereka juga dikolaborasikan sebagai suatu tantangan dan ujian bagi talenta mereka. Disinilah pemirsa menilai siapakah sesungguhnya yang memiliki bakat paling luar biasa. Juri bolehlah menilai, tetapi pemirsa tetap sebagai penentu siapakah peserta yang bakal bertahan. Komentar tim juri sesungguhnya tak lebih sebagai bahan evaluasi para peserta, agar mereka memahami betul aturan di panggung secara professional. Maka pemirsa adalah pengarah bagi acara tersebut. Pemirsa terlibat langsung dan konsep inilah yang mengikat pemirsa itu untuk tetap loyal. Pemirsa akan memutuskan hubungan ketika “jagoan”nya tereliminasi. Realitas inilah yang perlu disiasati untuk tetap bisa menakhlukkan pemirsa agar tetap loyal.

Barangkali personifikasi yang paling pas untuk pemirsa talent show adalah “suka ke dufan”. Semua wahananya punya daya tarik tersendiri. Di kunjungi berulang kali pun tak pernah bosan, bahkan meski harus antri berjam-jam. Pengunjung punya banyak pilihan dan semua pilihannya disukai. Kalau ada wahana yang out of service, mereka kecewa sesaat, untuk kemudian berpindah pada wahana lainnya. Persis dalam show program, kalau ada performer yang tereliminasi yang paling jelek sih mereka kecewa lantas mengalihkan dukungan pada performer yang lain.

Secara umum, seperti itulah realitas pemirsa televisi Indonesia. Ke depan, bolehlah pengelola TV menghadirkan ragam acara aneka rupa, tetapi pemirsalah yang tetap menentukan pilihan. Maka tak ada yang bisa dipungkiri selain harus mengenal lebih dekat karakter pemirsa, agar mereka lebih suka jalan ke station Anda. Barangkali!

2 Comments

  1. Christian BL

    Mas Kar,

    Kok nemunya ya..

    Terminology
    – Ke Mall
    – Ke Pasar Tradisional
    – Ke Café
    – Ke Dufan

    Itu menarik sekali mas Kar..! Analisa nya juga manstaap cing!!!

    Terus menulis ya Mas, tapi ati2 sama Carpal Tunnel Syndrome.!!🙂
    🙂 Chris!

    • Thx Bro!
      Sesungguhnya aku nggak terbayang bakal memunculkan terminology itu. Awalnya aku hanya memulai untuk menulis. Tapi passion itu terus bermunculan hingga aku menangkap turunnya ide untuk mengungkap karakteristik pemirsa sesuai spot-spot yang dikunjungi.

      Tulisan ini merupakan sudut pandang yang beda dari evaluasi saya beberapa tahun lalu terhadap konten program. kali ini geliat pemirsa tampaknya cukup menarik untuk dicermati, meski belum sebagai sebuah catatan yang menukik.

      Betapa resahnya saya ketika menyaksikan hipnotis Uya yang membongkar kehidupan paling pribadi seorang target. Kekhawatiran yang mestinya juga harus direspon oleh pengelola broadcast. Atau kita tunggu sampai titik klimaks ketika keresahan itu sudah menjadi epidemi masyarakat.

      Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: