MALU

Dalam suasana bertamu, kalimat standar yang selalu muncul terdengar adalah, “ ayo diminum dulu, jangan malu-malu!”. Rupanya, tuan rumah sedang memaknai kata “malu” sebagai sikap segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut dan semacamnya. Memang, malu adalah bagian dari sikap keseharian manusia. Secara psikologis, malu dianggap sebagai “suatu masalah” lantaran seseorang akan menghadapi kesulitan mengembangkan diri. Sedikit bersentuhan dengan orang lain, dia akan tertunduk, layu dan menciut bak tanaman perdu putri malu. Ayaya … kog malu sih!

Lantas apakah sebenarnya ada yang salah dengan malu dan sifat malu yang menjadi bagian dari fitrah insani itu? Bagaimanakah kita harus menempati rasa malu dalam porsi yang sebenarnya? Malu bisa dianggap menjadi penghambat potensi diri karena pemaknaan malu disandarkan pada pikiran negatif yang bergemuruh dalam pikiran, itulah kesimpulan seorang psikiater David D. Burns. Makanya ada orang malu karena salah kostum atau malu karena mati gaya yang sesungguhnya semuanya timbul karena adanya perasaan minder. Meski sebenarnya tidak harus bersikap berlebihan dengan itu. Apa ada masalah dengan salah kostum atau mati gaya? Tentu nggak ada masalah. Masalahnya hanyalah lantaran ada pikiran negatif tadi. Lain halnya dengan perkara malu yang justru jadi penghalang kita dalam memperoleh kebaikan. Misalnya malu memakai jilbab. Bertahun-tahun sesorang akhwat berpikir dan menimbang untuk segera memulai memakai jilbab setelah dakwah tersampaikan padanya. Tetapi muncul perasaan malu. Inilah yang disebut dengan malu yang tercela. Mau belajar mengaji Qur’an merasa malu lantaran merasa sudah tua. Ah, betapa tercelanya sifat malu yang disandarkan pada keadaan ini. Maka kita harus lebih hati-hati dalam memaknai sikap malu.

Lebih dari itu semuanya, malu sebenarnya adalah berkaitan langsung dengan akhlak yang padanya justru melekat segala kebaikan. Dalam hadits Muttafaq ‘alaihi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.”

Maka mengapa orang melakukan maksiat, korupsi dan larut dalam perbuatan tercela lainnya yang dilakukan secara terang-terangan, sesungguhnya lantaran sudah tidak ada rasa malu dalam dirinya. Betapa ngerinya bila rasa malu itu dicabut dari diri kita, sebagaimana Salman Al Farizi Radhiyallahu Anhu berkata,

Jika Allah menghendaki kebinasaan bagi seorang hamba, Dia mencabut rasa malu darinya. Jika Dia telah mencabut rasa malu darinya, ia tidak ditemui kecuali orang amat benci dan orang yang dibenci. Jika ia telah menjadi orang yang sangat benci dan orang yang dibenci, kejujuran dicabut darinya kemudian dia tidak ditemui kecuali oleh orang yang berkhianat dan dikhianati. Jika ia menjadi orang yang berkhianat dan dikhianati, Allah mencabut rahmat darinya kemudian dia tidak ditemui oleh orang yang kasar. Jika ia menjadi kasar, Allah mencabut tali imannya dari lehernya. Jika Allah telah mencabut tali iman dari lehernya, ia tidak ditemui kecuali oleh syaitan mengutuk dan dikutuk.” Diriwayatkan Abu Nu’aim.

Benarlah bahwa malu itu adalah akhlak paling mulia yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Seandainya malu itu dicabut dari diri kita, ujung-ujungnya kita hanyalah berkomplot dengan syaitan terlaknat yang berkubang dalam kebencian dan pengkhianatan. Malu akan menghalangi seseorang dari perbuatan tercela sehingga terjagalah kemuliaan akhlaknya. Malu memiliki daya cegah bagi seseorang untuk berbuat nekad yang menerabas batas kebenaran, menyadarkan bahwa ada hukum keadilan yang bakal menyentuhnya, dengan seadil-adilnya. Maka berbahagialah apabila sikap malu tetap tersimpan di bilik hati, sebagai sebuah akhlak kita. Bukankah kita tahu bahwa setiap agama punya akhlak dan akhlak Islam adalah malu ( HR. Ibnu Majah )

Malu bukanlah semata-mata kekhususan bagi manusia karena malu juga menjadi akhlak Malaikat, para penduduk langit. Apa dalilnya? Dalam satu riwayat suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring. Ketika Abu Bakar RA. datang, Rasulullah SAW. bersikap biasa. Demikian juga ketika sahabat Umar RA. datang. Tak ada yang berubah dengan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika yang datang adalah sahabat Ustman bin Affan RA maka reaksi malu muncullah seketika itu pada diri Rasulullah SAW dan segera merapikan pakaiannya. Dalam sabdanya, “Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya.” (Shahîh: HR.Muslim no. 2401). Apa gerangan yang membuat penduduk langit malu kepada Ustman RA. yang mendapat gelar Dzunnurain (pemilik dua cahaya), tentu tak lain karena kelembutan jiwanya dan keindahan akhlaknya.

Malu bisa ditumbuhkan dalam diri kita karena adanya usaha, yaitu dengan ma’rifatullâh (mengenal Allah Azza wa Jalla).  Memahami sepenuhnya bahwa tak ada satu pun perbuatan kita yang luput dari pandangan Allah, bahkan termasuk apa saja yang dirahasiakan oleh hati. Malu yang didapat dengan usaha inilah yang dijadikan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari iman. Siapa saja yang tidak memiliki malu, baik yang berasal dari tabi’at maupun yang didapat dengan usaha, maka tidak ada sama sekali yang menahannya dari terjatuh ke dalam perbuatan keji dan maksiat sehingga seorang hamba menjelma menjadi setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dengan tubuh manusia. Kita memohon keselamatan kepada Allah Azza wa Jalla.

Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di surga. Maka marilah selalu berdoa dan berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menancapkan malu dalam hati kita sehingga pantaslah kita berharap untuk menjadi ahli-ahli surga.

Barakallahu fikum.

5 Comments

  1. Ida Senoadji

    satu lagi tambahan ilmu buat saya….maturnuwun….

    • Terima kasih juga Bu Ida. Semoga bermanfaat dan bertambah keberkahan hidup kita karena bertambahnya ilmu. salam

  2. masayu

    sangat bermanfaat…alhamdulillah dpt ilmu

    • Jazakallahu khairan Bu Iin. Senang bisa berbagi ilmu untuk kebaikan dan peningkatan keimanan kita. Salam

  3. Jennyfer ( Jenward )

    Ga nyangka artinya malu sampe segitunya, mantaf pak! LoL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: