MERAH PUTIH DALAM MASJID

Catatan dari Partai leg II Piala AFF 2010

Fanatisme sepak bola memang fenomenal. Bagaimana berjuta orang setanah air ini begitu mudah tersihir perhatiannya untuk memusatkan pada petak lebar lapangan bola yang menyajikan paduan skill, strategi dan kerjasama 2 tim untuk saling mempecundangi satu sama lainnya, dalam ritme kejar mengejar sebuah bola. Tak cuma itu, di kampung-kampung sore itu semua warga nyaris sepakat berseragam sama dengan dominasi warna merah putih. Wow, seperti persiapan sebuah perayaan akbar! Rasanya tak ada urusan yang lebih penting dari perkara dukung mendukung di partai leg II Final Piala AFF 2010. Semua urusan diterbengkelaikan, bahkan untuk urusan rebut merebut simpati di khazanah perpolitikan yang biasanya begitu perhatian untuk menyuarakan jeritan wong cilik. Para politikus banyak yang beralih untuk bermanuver lewat sok care-nya dengan timnas. Ah, EGP! (kog ungkapan ini berasa jadul ya ) Saya lebih suka berapresiasi pada eforia supoter yang tak berpamrih. Beli tiket dibela-belain dengan antrian panjang. Biar kompak dibela-belain beli atribut. Berapa coba nilai transaksi untuk penjualan merchandise ini yang sudah dikorbankan oleh para suporter. Tampak sekali kerinduan mereka akan moment yang bisa dibanggakan. Sangat masuk akal, mengingat bertahun-tahun tak ada “value” yang diberikan timnas selain obok mengobok organisasi yang mengelolanya. Saya pun tak tahu menahu apa sebenarnya yang terjadi didalamnya, selebihnya hanya berharap bahwa organisasi sepak bola tanah air menemukan format idealnya.

Sesungguhnya pun sekarang ini saya tak hendak membahas dinamika persepakbolaan kita. Saya cuma ingin menuangkan lintasan pikiran khusnudzon saya bahwa semua pendukung timnas yang luber meluber di Gelora Bung Karno itu tak melupakan sholat wajib. Maka yang terjadi adalah alangkah maraknya masjid-masjid di sekitarnya dengan ornamen merah putih para jamaah yang barangkali belum pernah kita lihat pemandangan ini di manapun sebelumnya. Apa ya bisa? Hmm, mungkin saja. Bukankah para suporter itu banyak yang membawa spanduk bertuliskan “KAMU BISA”. Bukankah idiom “Kamu Bisa” juga menjadi pemicu semangat di lapangan hijau, yang tentunya mendarah daging pada seluruh jiwa raga suporter. Kayak di teater panggung Lenong Betawi, saya pengen ikut nyeletuk, Hey Suporter … kamu bisa kog mendukung timnas tanpa ninggalin sholat 5 waktu!.

Saat pertandingan pertama berlangsung selama 27 menit, terdengar panggilan adzan sholat Isya. Saya bergegas menuju masjid sambil membayangkan masjid yang dimakmurkan jamaah yang berbaju merah putih. Bukankah banyak warga yang menyaksikan pertandingan sepakbola di rumah dengan mengenakan kostum kebanggaan merah putih bergambar lambang Burung Garuda? Ternyata dugaan saya salah, tak satu pun jamaah yang hadir mengenakan kostum merah putih. Seperti biasanya, rata-rata mengenakan baju terbaik sebagai sebuah amalan adab dalam sholat. Subhanallah. Saya bersyukur tinggal di tengah-tengah warga yang begitu memperhatikan adab dalam sholat. Bola adalah bola dan sholat tetaplah sholat yang tak mungkin dicampuradukkan lantaran masing-masing memiliki koridor yang berbeda.

Kurang lebih adalah 15 orang yang ikut berjamaah saat itu, belum termasuk beberapa anak-anak yang ngintil sama Bapaknya. Saya bersyukur bahwa diantara warga yang begitu terikat untuk mengikuti jalannya laga sepakbola timnas lawan Malay, masih ada hamba pilihan yang justru lebih merasa terikat untuk memenuhi seruan berjamaah. Alangkah mulianya mereka karena mereka telah memuliakan dirinya sendiri dengan tetap mengingat Allah. Memang hidup diwarnai dengan pilihan. Masing-masing pribadi memiliki hak sepenuhnya untuk menentukan pilihan itu. Tetapi bukankah pilihan itu memiliki konsekuensi logis yang kembali pada diri kita? Baik dan buruk sudah tersampaikan pada kita. Antara amalan yang utama dan yang biasa sudah terpahamkan untuk kita. Tapi mengapa kita masih berat untuk mengamalkan yang utama? Benarlah kata KH. Agus Darmawan, seorang pemuka agama yang malam itu menyaksikan pertandingan secara langsung dan saat diwawancarai salah satu infotainment, maka yang disampaikan adalah, “Tak cuma Garuda yang ada di dadaku, tetapi iman dan takwa juga tetap ada didadaku …

Semoga hidayah selalu tercurah untuk kita …

Depok Maharaja, jelang larut malam …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: