DOA SEORANG SAHABAT

Seorang kawan baik terlihat suntuk. Wajahnya yang biasa sumringah tersembunyi oleh lipatan duka yang menguasai pikirannya. Sesekali dia menggerakkan pergelanggan tangannya mirip pebasket yang warming up. Belum lagi kutegur, dia sudah berceloteh panjang mengurai simpul persoalan yang dihadapinya. Aku terdaulat untuk mendengarkan.

“ Kemarin aku konsul ke dokter. Tanganku berasa kesemutan tiap sampai di kantor. Anehnya, dokter tak menemukan gejala dan gangguan apapun. Dokter lalu bertanya, aku naik apa kalau ke kantor. Ya kujawab kalau aku naik motor “ katanya.

“ Lalu dokter itu bilang apa lagi ? “ selidikku.

Kawan baik tadi melanjutkan ceritanya. Dia keheranan lantaran sang dokter justru menyuruhnya ke bengkel motor. Dia bahkan under estimate tak yakin dengan usul nyeleneh itu. Tapi toh dia tetap mencoba second opinion ke bengkel motor terdekat.

Tak butuh waktu lama buat sang mekanik untuk menemukan penyakit pada motornya yang ternyata terlanjur kronis. Nyaris semua sparepart mengeluarkan bunyi, mulai mesin motor, roda hingga rantai. Kecuali ada satu fungsi yang tidak berbunyi. Kawan baik bertepuk girang yakin kalau tak seratus persen motornya bobrok. tapi berikutnya bermuka kecut begitu diberi tahu kalau yang tak berbunyi itu adalah klakson. Grrrhhh …terrr-laaa-luuu.

Saya turut prihatin. Sebagai rasa empati saya mengulik riwayat motornya. Ternyata sudah tujuh tahun motor itu menempuh perjalanan 25 km sepanjang Depok menuju Jakarta. Ya memang seperti itulah kehidupan di Ibukota. Kerjanya memang di Jakarta, tapi untuk tempat tinggal yang terjangkau bagi seorang karyawan biasa, adanya di wilayah-wilayah pinggiran, seperti Depok, Tangerang atau Bekasi. Dengan jarak tempuh rata-rata 25 km, maka kalau pulang pergi berarti 50 km setiap harinya. Setia sepanjang jalan, seiring sepanjang waktu. Terbayang juga sih daya tarik motornya yang sudah tidak grenk lagi. Jalannya klunak klunuk. Bunyi kriet-kriet sebagai ekses kerja mesin, nyaris tak membedakan itu suara motor atau pedati. Lebih dari itu, karena tingginya getaran pada motorlah yang menyebabkan tangannya terus kesemutan. Kuacian bangets.

“ Kalau begitu ambil kredit motor lagi kenapa!” usulku padanya.

Kawan baik buru-buru menyeringai. Tak ada dana buat uang mukanya lantaran tersedot biaya sekolah anak, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja serba pas.”

Enak dong hidup serba pas. Pas butuh mobil bisa beli, pas pengen ke Hong Kong tinggal terbang.” godaku

“Jangan ngenyek, Mas. Kalau aku sih memang pas … pasti klenger! Lha wong buat bulanan aja selalu defisit. Gali lubang tutup lubang.”

“ Kalau begitu banyak doa aja biar dimudahkan urusan! “ aku mencoba menyakinkan solusi lain.

Kawan baik itu nyengir. Dalam doapun dia tak bisa khusyuk. Manakala tangannya menengadah, rasa kesemutan di tangan memecahkan konsentrasinya dalam bermunajat.

“ Tapi kamu tetap berdoa di pamungkas sholatmu, kan ?”

Kawan baik lalu bertutur. Beberapa tahun lalu dia pernah dapat subsidi DP motor, dia berdoa untuk perusahaan supaya dibalas dengan keuntungan berlimpah, atas perhatian dan kebaikan pada karyawan. Sekarang ini doanya minta diberi kemudahan mendapatkan motor baru.

“ Doa aja pakai itung-itungan segala “ protesku.

Teman baik berkilah. Dia berdoa sesuai suasana bathin. Bukan sok ngirit doa, tetapi dia mengukur itulah pengharapan paling memungkinkan. Karena subsidi kantor tak bakal datang untuk kedua kalinya.

“ Makanya sisipkan doa untuk kesejahteraan perusahaan supaya ada subsidi-subsidi yang lain. Sangat mungkin mereka yang dulu dapat subsidi, tiba-tiba dapat subsidi lagi.”

Kawan baik begitu surprise. “ Bener ta mas ? “ jawanya mulai keluar.

Doa itu energi. Bisa memotivasi agar kita optimis. Disaat yang sama akan membangun kesadaran kalau kita itu lemah dan semakin yakin ada kekuatan yang Mahadahsyat. Sandarkan hati padaNya dan kamu akan baik-baik saja. Aku tiba-tiba jadi pengkhotbah. Tapi niatku agar kawan baik ini dapat pencerahan.

Kawan baik lantas pamit dari hadapanku. Katanya mau ambil air wudlu. Sholat dan berdoa. Saya tersenyum sambil mempersilakan. Tapi saya masih menyempatkan untuk menegurnya lagi,” Baru mau sholat? Kenapa nggak ikut berjamaah?”.

Kawan baik nyengir lagi. Lantas saya menitipkan pesan padanya kalau sholat jangan ditunda-tunda. Memang konsep ibadah bagi kita adalah semampunya ( mastatho’tum – sesuai kesanggupan ), tapi bukankah kita – para pria –  mampu dan sanggup  untuk menegakkan sholat di masjid secara berjamaah di awal waktu? Gara-gara suka menunda sholat, bisa jadi Allah juga menunda untuk mengabulkan doa yang kita panjatkan. Wallahu a’lam.

Senayan City, di ujung tahun …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: