HIKMAH DARI FINAL AFF 2010

26 Desember, Pukul 19.27 WIB

Adzan Isya sayup-sayup berkumandang dari kejauhan. Saya bergegas menuju ke masjid. Tak seperti biasanya. Jalanan lenggang sekali seolah sebuah kampung tua tak berpenghuni. Tak ada seorang pun menampakkan diri di jalanan tetapi sesekali terdengar teriakan emosional dari setiap rumah. Ah, semua tetangga rupanya sedang terhipnotis eforia final AFF Suzuki Cup 2010. Menyedihkan sekali menyadari kenyataan bahwa telinga mereka terbisukan oleh gelegar sepakbola itu, kesadaran mereka terbiuskan oleh gempita rasa nasionalis demi keharuman nama bangsa. Sebuah seruan paling mulia … tak tergubris! Seruan untuk mendapatkan keutamaan sholat Isya berjamaah.

Mendung gelap yang bergayut dan hembusan angin Depok yang relatif dingin dan kencang, menambah keheningan menjadi makin meradang. Sampai di masjid Baitul Iman, saya baru menjumpai pak Haji sendirian sedang bersiap mengumandangkan adzan. Ah, kemana ikhwan yang lain?. Sambil mengikuti lantunan adzan Pak Haji, saya tetap berharap jamaah akan berdatangan memenuhi shaf. Alhamdulillah, satu per satu mulai datang memenuhi rumah Allah yang dimuliakan itu. Beberapa jamaah tampak saling pandang dan tersenyum memberi isyarat, tentu saja terarah pada demam sepak bola yang menyerang kita semua. Bahkan terdengar celetukan lucu kalau ada yang panas dingin gara-gara sepak bola. Ada-ada saja.

Tapi sungguh amat naïf, sepak bola bisa bikin panas dingin sementara tak sadarkah orang-orang yang sedang teriak-teriak itu sesungguhnya sedang mengabaikan sebuah kesempatan untuk memohon ampunan dan ridlo Allah. Bukankah ini yang justru harusnya membuat kita panas dingin lantaran takut tak mendapat ampunan dan ridlo Illahi? Ah, sayang sekali kalau mereka tak menangkap isyarat untuk menjadikan sholat sebagai penolong.

Maka saat sholat berjamaah ditegakkan, Cuma satu shaf yang terisi, dan itupun tersisa diujung kanan dan kiri. Tandanya satu shaf saja tak sepenuhnya penuh. Di rokaat pertama, Imam melantunkan dengan begitu indah dan makhraj yang benar beberapa ayat terakhir dari surat At Taubah. Subhanallah. Menyentuh sekali. Bacaan Imam yang bagus menambah kekhusyukan saya, lebih-lebih arti dari ayat yang dibacakan, tentang kedatangan Nabi Muhammad sebagai Rasul yang begitu berat terasa olehya penderitaan kita dengan sifat yang belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin ( At Taubah 128 ). Kalau kita benar-benar makrifat ( mengenal ) dengan benar bagaimana Rosulullah begitu mencintai kita, ohhh… rasaanya menetes perih air mata ini. Tak ada peluang untuk teriak-teriak mengikuti gelincir bola ke sana ke mari yang diperebutkan oleh 22 orang itu.

Di ayat paling akhir ( At-Taubah 129 ) terjemahan bebasnya: Jika mereka berpaling ( dari keimanan ) maka katakanlah: “ Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung. Subhanallah. Di balik itu semua, berani-beraninya kita justru sedang “menuhankan” bola. Menantang kuasa Allah secara terang-terangan. Tidak takutkah kita pada azhab Allah yang teramat pedih.

Pada rokaat kedua, Imam menyempurnakan rokaat dengan membaca surat Alam Nasyrah (melapangkan). Hikmah yang luar biasa bagi saya untuk kembali mengenal kehidupan Rasulullah. Setelah Rasulullah didera beban dan penderitaan saat menyampaikan risalah, Allah meninggikan derajad Muhammad dengan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat. Hmm, janji Allah amatlah benar. Kalau kita mau menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita. Bagaimana kita dibilang menolong agama Allah, kalau panggilan sholat kita abaikan begitu saja. Ataukah kita ini memang senafas dengan orang munafik yang merasa berat untuk menghadiri sholat Isya berjamaah. Padahal, menurut hadits riwayat Muslim: Barangsiapa yang sholat Isya berjamaah maka seakan-akan dia telah melaksanakan sholat setengah malam.

Saya hanya ingin berbagi hikmah. Semoga kita tidak lagi melewatkan panggilan adzan kapanpun, untuk bersama-sama menggerakan langkah menuju masjid. Bukankah, sebentar saja untuk meninggalkan tontonan bola itu tak mengurangi dukungan kita pada timnas yang sedang berjuang? Bahkan kita bisa menyertakan doa kemenangan dalam munazat kita. Hadits lain menggambarkan jika kita mengetahui apa yang ada pada sholat Subuh dan Isya, maka niscaya kita akan mendatanginya walau harus merangkak!. Jadi, apa yang kita ragukan lagi akan janji Allah ?
Semoga Allah merahmati Anda yang selalu mendatangi masjid untuk sholat berjamaah di awal waktu.

Terima kasih Ustadz Ridwan, telah memimpin sholat berjamaah dengan bacaan yang indah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: