JEJAK IBU

Sesungguhnya kita milik Allah & Sesungguhnya akan kembali Kepada-NYA

18 September 2005


Manakala hati tersayat

tangis tak lagi terbendung

Lepas sudah jiwa perekat

yang dulu jadi pelindung


 

Jiwa yang tenang itu

telah kembali menghadap Sang Pengasih

Selesai sudah tugas Ibu

pelita hidup yang memancarkan sikap pengasih


 

Perjuangan itu dilaluinya sendiri

tertatih, terseok tanpa pernah mengeluh

Keikhlasannya terangkat ke langit

terbang di atas sajadah ibadah


 

Tiga puluh enam tahun bersama beliau

Tapi pernahkah kami menghadiahkan bakti terbaik

hingga beliau tersenyum bahagia

Kemana saja selama ini waktu yang kupunya?

Terlena dalam buai ambisi yang tak juga terpuaskan

dan …

Kemana lagi sesal itu bisa terjawab

karena sang waktu tak pernah kembali


 

Dalam ketenangan abadi ibu terbaring

tak bernyawa

sama sekali tak terbersit rasa letih

Meski enam puluh lima tahun menjalani takdirnya, nyaris seorang diri

 

Senyum indah yang berbaur

menjadi penanda tentang kebaikannya

yang dipancarkan pada setiap orang

Memang kebaikan beliau tak pernah pandang bulu. Siapa yang pantas dan perlu ditolong, segera diulurkan tangannya, meski dalam kesempitan. Bayangkan, seorang Ibu Janda dengan enam orang anak yang masih balita ( bawah lima belas tahun ) masih juga menolong? Ketika di pasar bertemu seseorang yang tak dikenal yang butuh penginapan, beliau ringan saja mengajak ke rumah. Bukankah Ibu juga harus menyediakan makan sebagai kewajiban tuan rumah? Ah, rupanya hitung-hitungan seperti itu tak berlaku buat Ibu. Biar juga anaknya semua lagi semego ( lagi banyak-banyaknya makan ) toh samasekali tak ada kekhawatiran akan kekurangan beras. “Makanlah sesukamu, Nak. Jangan takut kalau ingin nambah”. Dan kenyataannya memang beras selalu ada di rumah. Beli atau ngutang, entah saya tak tahu cara mendapatkannya. Padahal, penghasilan Ibu hanyalah dari jualan buah-buahan di pasar. Itulah yang dilakukan sebagai cara struggle of survive sejak Bapak meninggalkan beliau untuk selama-lamanya pada tahun 1975. Naluri seorang Ibu yang harus bertahan dari bantingan alam yang tiba-tiba menghantamnya karena kuasa Allah. Ada lagi bukti kebaikannya yang lain. Seorang nenek renta, Mbah Cokro yang bukan siapa-siapa, diberinya kapling sendiri di rumah hingga Mbah Cokro meninggal. Meski saya sendiri belakangan merasa terganggu lantaran membuat ruang gerak kami di rumah menjadi sempit, Ibu tetap mempertahankan Mbah Cokro tinggal di rumah. Lagi-lagi beliau mengenalkan pada saya suatu hitung-hitungan yang tak bisa dinalar begitu saja. “Bermainlah dengan gerak sebebasmu, tak ada yang mengganggu dan tak boleh ada yang terganggu. Bukankah di luar terbentang pelataran yang jembar. Apa yang membuatmu merasa sempit?”.

Asbab kebaikannya itulah insya Allah rejeki Ibu menjadi penuh keberkahan. Disaat harus selalu menyediakan kebutuhan makan kami, rupanya Ibu harus memikirkan biaya sekolah ke-enam anaknya. Daan semuanya bisa disediakan tanpa kami harus menunggu iba orang lain. Kalau tidak, bagaimana mungkin semua anaknya bisa sekolah dan menyelesaikan sekolah. Bahkan  hingga pada jenjang dan titik capai yang diharapkan banyak orang. Ibu, hebatnya kamu!

Dan dalam kesempitan itu ibu terus berjuang, menakhlukkan semua rintangan yang belum tentu mampu saya kuasai. meski saya telah mengenyam pendidikan tinggi. Menyerap banyak teori modern. Banyak ikut organisasi besar semisal HMI yang mengenalkan strategi & taktik sekaligus problem solving. Sementara Ibu hanyalah produk jaman feodal yang tak paripurna ngelmu-nya. Ilmu apa yang yang diaplikasikannya? Jurus apa yang dipilihnya? Wallahu a’alam. Tentu tangan kuasa Robbul Idzati yang sesungguhnya menopang segala perjuangannya.

Tak ada semangat yang mampu mendorongnya selain rasa takut akan jerit kelaparan anaknya. Tak banyak materi yang diharapkannya selain sesuap nasi yang terdorong ke dalam mulut mungil kami yang tumbuh di satu lingkungan majemuk yang dibayangi kecemasan masa depan, ketidakmampuan ekonomi, juga bayangan kebodohan karena yang bisa dijangkau hanyalah sekolah negeri yang sangat standard fasilitasnya. Sudah SPP nya murah, masih juga saya harus mengajukan keringanan biar bayarnya lebih murah lagi. ( Ah, mengapa saya under estimate dengan sekolah negeri yang akhirnya telah meluluskan saya secara formal ). Tak pernah terucap, tapi Ibu tak ingin kami menjadi bagian dari kelompok marginal yang disisihkan masyarakat. Ibu tampak bersungguh untuk lepas dari stigma kemlaratan. Tekad yang mulia tapi sungguh mengikat sebuah konsekuensi yang teramat berat. Segala upaya yang kelak harus kuakui sebagai catatan emas perjuangan seorang Ibu. Pil pahit yang ditelannya, telah melumuri dan menyembuhkan  luka kemlaratan yang nyaris menggerogoti masa depan kami. Satu per satu anak Ibu mentas menjadi pribadi tangguh. Cukup membanggakan untuk prestasi seorang Ibu yang janda. Tapi Ibu tak pernah berbangga diri. Lewat bias senyumnya, Ibu sudah cukup untuk merasakan prestasi perjuangannya. Jiwanya kian tenang menyaksikan anak-anaknya menghadiahkan cucu-cucu yang lucu, hormat pada sesama dan selalu menyejukkan pandangan mata. Investasi emas kami yang mengisi dan memperpanjang silsilah keluarga, yang kelak akan selalu mengirimkan doa pengampunan bagi orang tuanya.

Ibu

Dalam doa yang kupanjatkan sepanjang waktu

kami bermohon, Allah memberi tempat termulia

untukmu

Karena keikhlasanmu menjadikan kami hamba yang bermartabat.

5 Comments

  1. Sofifebri

    Terharu….
    Tulisan ini mewakilkan apa yang belum sempat saya lukiskan tentang ibu…
    makasih mewakili saya mendeskripsikan tentang ibu ya Mas Kar..

    • Setiap Ibu punya tantangan hidup yang berbeda, tetapi tetap sama semua Ibu adalah pejuang tangguh yang padanya melekat simbol segala kebaikan. Semoga kita selalu bisa menghadirkan sosoknya dalam hati kita, sebagai sumber motivasi dan inspirasi.
      salam

  2. Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
    Lewati rintangan untuk aku anakmu
    Ibu ku sayang masih terus berjalan
    Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

    Seperti udara kasih yang engkau berikan
    Tak mampu ku membalas…
    Ibu…

    Jejak langkah seorang ibu mungkin berbeda, tapi tujuan mereka ke arah yang sama. Tulisan ini membuat saya terharu, sedih. Ingat Ibu yang hanya memasak apa adanya demi agar anaknya di rantau mampu makan enak. Ibu yang selalu membasahi sajadahnya dengan air mata dalam do’a. Semoga hanya Surga untuk Ibu.

  3. semoga Ibu tetap mendapat tempat istimewa di hati dan hari-hari kita …

  4. Teguh

    Kar..ternyata sebagian kecil yang pernah aku lihat dulu di Kertajaya itu menyimpan banyak makna.. Semoga Ibu-ibu kita mendapat tempat paling mulia..Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: