PROMO ANNOUNCER: Antara Strategi & Kreativitas

Di usianya yang ke-18, SCTV tetap konsisten menghadirkan promo announcer sebagai bagian dari strategi promosi untuk memperkuat brand image. Bagaimana promo announcer bisa tetap bertahan, bahkan makin cerdas mengkomunikasikan pesan dengan tampilannya yang sekelas iklan? Secara historis praktis penulis mencoba memaparkan “perjalanan hidup” promo announcer sehingga kita paham bahwa strategi berpromosi dan kreativitas adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Terminologi announcer adalah sebagai ajakan dan informasi untuk melanjutkan ke acara berikutnya. Di era TVRI menjadi sangat mahfum karena memang saat itu tidak ada slot iklan. Announcer tidak dikejar-kejar oleh durasi, jadi silakan bertele-tele. Tampilan minimalis dengan menempatkan grafis title pada bidang kosong di sebelah announcer. Uniknya, aplikasi konsep announcer ternyata cuma di jagad pertelevisian Indonesia. Bisa jadi ini adalah potret kultur bangsa yang banyak berbasa-basi atau justru sebaliknya, peluang yang memungkinkan munculnya eksplorasi ide tanpa batas.

Di awal kehadirannya, promo announcer SCTV tampil dengan shot statis yang menyampaikan salam bahagia, sapaan hangat sekaligus menginformasikan up next program. Informasi ini menjadi begitu penting agar pemirsa tak berpindah ke saluran lain. Sementara secara look, materi tiap versinya hanya dibedakan oleh busana, dengan teknik syuting menggunakan chromakey, sehingga memungkinkan latar belakang diganti sesuai tema yang diangkat.

Dalam perkembangan selanjutnya seorang announcer mulai bertutur kepada pemirsa dengan membocorkan ringkasan cerita program unggulan hari itu. Jadi tidak lagi semata-mata berbasa basi dengan sapaan standar selamat pagi atau selamat malam, tetapi menginformasikan ringkasan cerita yang memancing rasa ingin tahu. Targetnya supaya pemirsa tergoda. Fungsinya seperti sebuah teaser ( penggoda ). Maka yang harus dikuatkan adalah script. Sesekali announcer juga menyampaikan wisdom word untuk sekedar memotivasi pemirsa agar tetap produktif. Jadi jangan dikira kalau nonton teve cuma bikin malas, sebaliknya justru tambah semangat karena daya hipnotis script yang persuasif. Dalam kata lain, jangan takut nonton teve, ada announcer yang akan mengingatkan Anda kalau tiba-tiba jadi malas !! Seru khan!

Pada kurun waktu ini, SCTV juga memiliki announcer cilik karena banyaknya program anak yang mewarnai deretan acara yang disuguhkan. Dalam catatan penulis, SCTV lah yang memprakarsai munculnya announcer cilik hingga akhirnya diikuti teve lain dalam kemasan yang berbeda yang salah satunya turut membesarkan nama Agnes Monica yang melejit lewat Tralala Trilili.

Apabila dihitung secara kuantiti, jumlah promo announcer yang diproduksi setiap minggunya sebanyak 49 versi ditambah 14 versi announcer anak-anak. Jumlah yang sangat memusingkan bagi seorang copywriter lantaran harus menyiapkan script sebanyak itu. Pfuuuh … penulis sendiri merasakan beratnya tugas itu. Ibarat setiap hari seperti terjebak di rimba kata-kata, tersesat di belantara kosakata. Kuperiksa kata manakala kusuka, kuperkosa kata manakala ku pusing. Hehehe… ya maaf!!! Belum lagi di bulan Ramadhan masih ada produksi tambahan sebanyak 60 versi untuk greeting saat berbuka dan sahur. Mblenger sih boleh saja tapi tiap minggu dan setiap minggu akan terus bertemu dengan penugasan ini. Tanpa penulis sadari ternyata assignment ini justru menjadi ajang penempaan kemampuan dalam menyusun script yang sanggup bertutur kepada pemirsa. Total dalam setahun diproduksi sebanyak 2.412 versi promo announcer, belum termasuk announcer cilik.

Menyadari kejenuhan look promo announcer, di tahun 2002, tim promo menggagas tampilan baru dengan memperkaya angle dengan pendekatan beauty shot. Disini sangat dibutuhkan dukungan setting tempat yang bagus sehingga perburuan lokasi gencar dilakukan. Bisa memilih keindahan sudut-sudut café, studio alam atau lokasi tertentu sesuai kebutuhan naskah. Lighting dan wardrobe menjadi elemen penting yang mesti dipersiapkan jauh sebelum syuting dimulai. Bahkan perlu juga dibuat sebuah storyboard agar persepsi antara produser dan kameraman bisa sejalan. Inilah babak baru announcer dengan meningggalkan kesan konvensional dimana kala itu diidentikkan dengan sindiran “ TVRI banget ! “. Detil gesture announcer juga mulai diarahkan oleh sang director sehingga menghasilkan continuity gambar yang wajar. Kedua tangan tak lagi bertangkup dan “parkir” di depan perut, tapi bebas berekspresi memainkan properti yang ada. Semua persiapan ini dikerjakan oleh hanya satu orang dengan multi tasking mulai jadi produser, copywriter, director bahkan sebagai unit manager.

Pada kurun waktu ini, design promo announcer SCTV tampaknya “menjadi inspirasi” teve lain, sehingga mereka terbius mengikuti gaya eksekusi yang kita lakukan. Tapi maaf, bukannya kenapa, geliat ini justru mengukuhkan kita sebagai trendsetter. Boleh dong bangga!

Be Different! Itulah semangat yang terus mengobar dalam atmosfer kerja tim promo. Maka kita harus buat sesuatu yang baru lagi biar lebih “terlihat” dan niat meninggalkan konsep yang cenderung menuju titik paritas lantaran banyaknya follower. Digagaslah pendekatan hard selling dalam sebuah format layaknya iklan komersial. Kerja yang sungguh-sungguh berat tapi nantinya bakal menghasilkan output yang menggigit. Tentu saja konsep dan kreativitas menjadi sebuah keniscayaan. Untuk sekedar contoh, ketika branding sinetron terbaru berjudul Pelangi, dibuatlah sebuah alur cerita dalam ritme keseharian anak-anak. Semua properti yang disiapkan disaput dalam tujuh warna pelangi, mulai kereta, layang-layang bahkan kostum yang dipakai para talent.

Saat branding image gala sinema yang tayang pukul sepuluh malam, jadilah sebuah story telling yang sangat lucu mengisahkan serunya nonton gala sinema sampai orang melupakan keamanan lingkungan. Announcer yang dicasting sebagai seorang reporter mengingatkan pemirsa agar tetap waspada saat menikmati suguhan gala sinema SCTV. Saat peringatan Isra Miraj, promo announcer tampil cerdas dengan konsep think out of the box. Tentang seorang kakak yang bercerita pada adiknya sebelum tidur kisah perjalanan gaib sang Nabi. Tanpa atribut yang Arabian look, pesan yang disampaikan tetap terdukung oleh material yang dibangun sesuai storyboard.

Masih kuat dalam ingatan, promo announcer versi 17 Agustus menggunakan pendekatan murid-murid di kelas yang berargumen makna kemerdekaan. Ujung-ujungnya seorang siswa menidentikkan kemerdekaan itu adalah bebas nonton SCTV. Lumayan “nakal” tapi justru ujung-ujungnya mempersuasif pemirsa kalau sekarang siapa saja bebas nonton SCTV karena programnya nomor satu, steril dan tentunya dihadirkan memang untuk semua. Pemirsa yang ingin bebas dan merdeka, tontonlah SCTV, begitulah ungkapan yang ingin disampaikan.

Ibarat pepatah sambil menyelam minum air. Kita tidak pernah takut kehilangan moment untuk sekedar berpartipasi seperti pada peringatan hari-hari besar, tapi tetap juga bisa berpromo memperkuat brand image. No Wonder. Mainkan segala ide, eksekusi dengan cermat lewat promo announcer.

Nah pembaca yang berbahagia, saya mohon pamit. Tetap selalu bersama tayangan terbaik yang selalu dihadirkan SCTV, untuk anda sekeluarga. Karena SCTV Satu Untuk Semua.

(tulisan ini dibuat th 2008 untuk tujuan merekam proses kreatif tim promo – SCTV)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: