ORANG-ORANG PROYEK: Beban Kultural Manusia Indonesia

Kalau saya disuruh memilih antara nonton Tukul Arwana dalam dagelan talkshownya dengan membaca novel karya Ahmad Tohari “ Orang – Orang Proyek “ setebal 227 halaman, maka saya akan mengambil pilihan kedua, membaca novel. Meski nonton Tukul tak butuh energi besar, tinggal nyandar di sofa dan siap untuk ketawa basah ( kalau tertawa saya selalu mengeluarkan airmata ) tapi saya sama sekali tak tertarik dengan akrobat Tukul yang mengeksploitasi kenaifannya sehingga bisa menuai keuntungan lantaran bebas cipika-cipiki.

Bisa jadi karena tak kenal nama besar Ahmad Tohari, banyak orang melewatkan kesempatan bercumbu dengan mahakarya dari seorang sastrawan yang menjadi salah satu ikon kesusasteraan Indonesia. Buktinya, triloginya Ronggeng Dukuh Paruk yang sudah ada di reading room SCTV sejak April 2006, hingga saat ini baru dimanfaatkan oleh 6 orang pembaca. Padahal buku ini telah menarik perhatian penikmat sastra dunia sehingga diterjemahkan dalam beberapa bahasa asing.

Membaca memang membutuhkan energi yang mengaktifkan sebagian anggota tubuh kita. Itulah sebabnya membaca adalah pekerjaan berat. Tapi tak demikian ketika kita membaca tulisan Ahmad Tohari. Kemampuannya mengungkap deskripsi alam teramat mahir hingga kita terbuai dalam keindahan rangkaian kata-kata penuh makna. Sangat mengalir. Novel berjudul Orang Orang Proyek adalah salah satu karya Ahmad Tohari. Sesungguhnya novel ini diterbitkan pada tahun 2004. Kog baru dibeli sekarang ? Kemana aja kita !!! Tapi beruntung bahwa novel semacam ini akhirnya melengkapi koleksi pustaka SCTV. Meski kehilangan moment tapi tak terlalu penting karena nilai yang ditawarkan dalam karya sastra ini jauh lebih penting dan pastinya nilai itu tak kunjung padam oleh perjalanan waktu. Bahkan pada detik ini, persoalan yang diangkat Ahmad Tohari makin terasa secara kontekstual.

Orang-orang Proyek bertokoh utama Insinyur Kabul, mantan aktivis yang dipercaya memimpin proyek pembangunan jembatan besar. Tanggung jawab dan kesadaran bahwa anggaran proyek adalah uang rakyat membuat bujangan itu bertekad mempertaruhkan komitmen melalui kerja profesional. Namun kenyataan membuatnya gamang. Orang-orang pemerintah, orang partai dan sebagian warga masyarakat pesta pora menggerogoti anggaran proyek jembatan itu. Secara gamblang karakter ini dihidupkan lewat tokoh Dalkijo sang mandor proyek. Lantaran ingin mengakhiri bayangan kemiskinan yang dijalani, Dalkijo berikrar tobat mlarat. Sayang cara yang dilakukan tidak seperti yang dilakoni oleh Kabul yaitu ambeg parama arta, mengutamakan mengambil jalan termulia.

Inilah otokritik yang langsung menampar wajah negeri republik ini ( kita kena juga lho ). Betapa praktik-praktik kotor korupsi ada di sekitar kita lantaran tipisnya sandaran keimanan dan lunturnya hati nurani. Beban kultural menambah marak aksi menerabas tanpa kerja keras. Jaman wis edan, yen ora melu edan ora keduman Sikat sana sikut sini. Mirip tikus rakus yang berpesta pora kala sang kucing pergi. Merasa tak ada yang mengawasi.

Di akhir novel ini, Ahmad Tohari mencoba bercanda dengan sebuah anekdot. Hal yang baru dilakukan hanya dalam novel ini karena dalam karyanya yang lain samasekali tak dilakukan. Terkesan mencairkan cerita. Namun sesungguhnya tak terlalu menjadi masalah. Sisipan anekdot ini menjadi menarik karena menyisakan perenungan mendalam terkait dengan ceritanya.

Dan ada cerita humor yang sangat popular tentang orang-orang proyek. Suatu saat di akhirat penghuni neraka dan penghuni surga ingin saling berkunjung. Maka penghuni kedua tempat itu sepakat membuat jembatan yang akan menghubungkan wilayah neraka dan wilayah surga. Bagian jembatan di wilayah neraka akan dibangun oleh orang neraka dan sebaliknya. Ternyata penghuni neraka lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya daripada penghuni surga. Dan ketika dicari sebabnya ditemukan kenyataan di antara para penghuni neraka banyak mantan orang proyek. ( OOP : 225 )

Lewat karyanya ini Ahmad Tohari menjadikan sastra sebagai sarana penyampai warta dan kritik. Koran dan berita sudah terlewat klise. Sedangkan sastra, lewat jalinan kisah dan sentuhan bahasa justru bisa menggugah hati dan pikiran.

Unsur sastrawi dan kekuatan diksi sengaja diarahkan untuk membongkar kebusukan budaya tetapi juga nyaris menjebak kita dalam penceritaan yang asyik masyuk. Asyk banget sampai akhirnya diujung alinea kita hanya bisa berdecak kagum memuji kelihaian sang pengarang.

Angin sore terasa sejuk. Air begitu jernih. Bau lumut. Kisaran air menembus celah bebatuan menimbulkan bunyi desir halus. Ada kepiting merambat tebing. Datang seekor bengkarung. Kedua binatang ini berhadapan dan kelihatan seperti akan saling serang. Tapi kepiting mengalah lalu cepat menyelam. Ada suara mencicit dari sarang burung emprit di ujung ranting yang mengayun di atas permukaan sungai. Telur mereka sudah menetas. Ketika angin bertiup sedikit kencang, buah mbulu berjatuhan dan menimbulkan bunyi lirih. Plung … plung … plung. Lalu terjadi lingkaran riak di permukaan air. Ketika lingkaran-lingkaran yang membesar itu saling bentur, terbentuklah lukisan geometrik yang ajaib. Hanya sesaat. ( OOP : 14-15 )

Tak mudah mendeskripsikan sesuatu yang kita lihat dalam rangkaian kata. Apalagi dalam ketajaman bahasa yang indah dan ekspresif. Boleh dicoba agar teman-teman makin punya empati dan apresiasi terhadap profesi penulis, sastrawan, pujangga dan bahkan script writer.

Dari semua timbang rasa yang teramat dangkal di atas, saya sesungguhnya ingin mengatakan 2 hal. Pertama, kalau anda belum biasa membaca karya sastra, maka saatnya kita mulai mentradisikan aktivitas ini. Dari sini kita akan mendapatkan nilai-nilai kehidupan yang sarat perenungan. Di sampaing kita bisa menikmati betapa dahsyatnya mengarungi rimba kata-kata. Kedua, terlalu sayang untuk tidak mengenal seorang Ahmad Tohari. Anda merasa tak harus menggeluti dunia sastra, tetapi Anda perlu untuk mengenal Ahmad Tohari beserta pandangan dunianya.

3 Comments

  1. Saya tertarik Novel Orang – Orang Proyek, ada link downloadnya gak ya ato kalo mo cari novelnya ada dimana ?

  2. Dear D3p3, saya belum menemukan link download format pdf untuk buku ini. Tetapi saya lihat di gramedia masih ada di deretan buku sastra. Tertarik untuk sekedar baca atau untuk bahan penelitian ? thx

  3. untuk bahan bacaan saja, saya juga terjun di dunia proyek, sapa tau novel ini bisa memberikan inspirasi buat rekan2 saya di proyek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: