MENGGAGAS MUSEUM BROADCAST

Suatu sore pada sebuah ruangan di  SCTV …

Di depan televisi, kawan baik tampak menyimpul senyum. Anehnya televisi itu tidak menyala sehingga pandangannya kentara menerawang. Dalam hati aku berdoa mudah2an tidak terjadi apa-apa dengan karibku ini. Aku masih ingat beberapa waktu lalu dia menginginkan sesuatu tapi tidak kesampaian. Maka aku mencoba menegur. Bersyukur sekali ternyata kawan baik langsung menyambar sapaanku,

“Aku sehat-sehat saja, mas. Kalau ada keinginan yang belum kesampaian, aku mencoba bersabar. Insya Allah akan mendapat yang lebih baik dan lebih bermanfaat.” dia cukup gesit menangkis prasangkaku.

“ Alhamdulillah. Tapi lantaran kamu senyum-senyum sendiri, aku jadi kuatir.”

“ Tivi ini mengantarkan lamunanku terbang ke masa kecil, mengingat bentuk tivi yang di rumah dulu. Punya empat kaki dan dua pintu yang digeser ke kanan dan ke kiri. Sayangnya, anak-anakku sudah tak bisa melihatnya lagi. Secara sekarang kan generasi tivi LCD.”

Rupanya kawan baikku lagi terseret romantisme waktu kecil. Tapi hebatnya dia tidak egois, karena serius mengkhawatirkan anak-anaknya kehilangan orientasi masa lalu. Bahkan hanya lewat sebentuk tivi di hadapannya itu. Seandainya saja semua orang bisa memberi makna lebih pada benda. Meski sudah tak berfungsi, atau out of date sekalipun, benda itu pasti akan dirawat, dieman-eman karena disisa umurnya ternyata setiap benda turut menyimpan sejarah dan mampu bertutur panjang tentang perjalanan suatu peradaban.

“Tapi nggak cuma tivi saja lho, mas. LIhat saja disini ada VTR ( video tape recorder ) model jadul yang nyaris tak dilirik setelah keluar generasi digital. Tinggal tunggu waktu, VTR ini juga pasti akan digudangkan.” Sesaat dia terdiam. Tangannya menggaruk-garuk pelipisnya yang sejatinya tidak gatal.

“Lho..lho.. kenapa tidak dimuseumkan saja ya ! “ kawan baik tiba-tiba terhenyak berdiri lantaran menemukan ide brilian.

“ Maksudmu apa coba?” tanyaku kalem untuk tetap mendinginkan suasana.

“ Sampean iku gimana sih. Barang-barang disini, cepat atau lambat bakal jadi usang. Jadul. Kuno. Soalnya tehnologi kini memasuki fase perubahan yang sangat-sanagt cepat. Ibarat sekali kedip mata seudah muncul generasi terbaru handphone, komputer, kamera dan lain-lain. Bayangkan, barang-barang yang sudah kuno ini kalau dijual mungkin nilainya tak seberapa. Kalau digudangkan, walah bisa numpuk nggak karuan.”

“Jadi kamu mau usul untuk mendirikan semacam museum, begitu?”

Kawan baik lantas bercerita tentang pabrik rokok di Surabaya yang di-positioning-kan sebagai museum. Dengan begitu orang bisa langsung melihat sendiri proses panjang pembuatan rokok. Ide cerdas yang berimplikasi mendekatkan khalayak dengan bisnis yang dijalani. Sistem pengelolaan yang terpadu justru membuka peluang baru melakukan ekspansi usaha. Terbukti disamping pabrik rokok itu sekarang berdiri megah café yang banyak dikunjungi orang. Katanya, café itu juga menjual merchandising yang memperkuat brand image rokok itu.

“Jadi…!” nada bicara kawan baik terkesan ingin menyimpulkan komparasinya. “ Kita juga bisa membangun museum televisi. House of Broadcast

“ Otak bisnismu ternyata jalan juga ya” aku dengan jujur memuji kejeliannya memanfaatkan keadaan.

“ Kalau ini justru berangkat dari idealisme, mas. Maksudku museum broadcast ini lebih ditujukan untuk berbagi informasi tentang perkembangan televisi di Indonesia. Sampeyan pernah enggak sih berpikir tayangan apa yang pertama kali muncul di kelahiran TVRI, RCTI atau SCTV?. Pakai VTR yang jenis apa. Dikontrol dengan mesin apa? Aku yakin sampeyan nggak tahu, biar sudah kerja di SCTV sepuluh tahun lebih.”

“Apalagi anak-anak kita yang kian tergerus era digital.”aku buru-buru menimpali biar tak terkesan bloon sendiri. “Mereka buta soal itu semua. Berarti kekawatiran pada anak-anakmu memang sangat beralasan.”

“Makanya, masak ya kita mau menggudangkan informasi yang jelas-jelas dibutuhkan orang banyak itu”

“Tapi apa ya kita bisa?” aku pasrah pada keadaan.

“Pertanyaan sampeyan itu nggak bermutu mas!” kawan baik tampak kesal karena semangatku yang melempem dan tak terkesan solutif. Padahal, bukannya aku meremehkan idenya tapi lebih membayangkan watak banyak orang yang seringkali begitu lihai mengamankan barang-barang di sekitarnya untuk berpindah ke private area. Dikorupsi oleh orang-orang yang “pripen” ( suka menyimpan barang ). Ah, tapi ini kan prasangkaku. Nggak baik memformulakan hati ke arah itu.

“Tahu enggak sampeyan, konsep museum itu secara umum sudah diaplikasikan dalam etos kerja disini lho”. Kawan baik mencoba mendekatkan idenya dengan profil SCTV. “Benda-benda yang ada di museum itu cuma satu tapi disimpan untuk semua orang. Satu untuk semua”

“Betul banget. Dan bener lho, orang kayak kamu itu justru harus saya museumkan” kataku menggodanya.
“ Ngono-ngono ning ojo ngono tho mas” terasa medhok banget jawanya.

“Maksudku itu kamu dan segala idemu harusnya saya simpan dan amankan karena menjadi sumber inspirasi buat teman yang lain.” Aku bicara sambil menyalakan tivi yang dari tadi mati dan menjadi asbab pembicaraan kami. Persis pas penayanganLiputan 6 yang tengah mewartakan sebuah liputan aktual dari Surabaya. Terbayang kantor SCTV disana yang kosong melompong mirip gudang. Seandainya saja disulap jadi museum. Kawan baik sepertinya tak mengira kalau idenya itu punya peluang besar untuk diwujudkan di Surabaya. Siapa tahu …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: