EMBAH NAIK PESAWAT

Pernah terucap oleh Embah ( panggilan kami putera-puterinya pada Ibu tercinta untuk “memanggilkan” anak-anak kami kepada beliau ) kalau beliau pengen naik pesawat. Bocoran ini kudapat dari keponakanku yang setiap hari menghabiskan waktu bersama Embah. Cita-cita yang sungguh sangat sederhana bagi saya. Bukankah kemana saya pergi, war-wer naik pesawat, bahkan jikalau harus bersama keluarga serumah. “Ah, itu keinginan yang kecil seujung jari kog Mbah”, ujarku dalam hati. Lantaran saya tinggal terpisah di kota lain, saya jadi menunda dan menunda untuk mewujudkan keinginan Embah. Entahlah, yang jelas menunggu moment sampai saya benar-benar berada di tempat yang sama untuk kemudian menggandeng beliau menuju bandara, terbang naik pesawat!

Aku terus menunda dan memang menunda. Padahal kalau mau, aku tinggal bertanya pada Embah, siapa yang bisa menemani, maka kupesankan tiket itu. Padahal kalau mau, aku tinggal berkorban waktu dan uang yang “cuma” beberapa lembar ratusan ribu.

Biar niat itu telah tertanam subur dalam hati, entah kenapa tak juga kuasa menggerakkan raga untuk berbagi simpul bahagia bagi Embah. Niat melulu. Terasa seperti hutang yang belum terbayar, hampir dalam setiap gerak terpikir merebut peluang membelikan tiket pesawat buat Embah, sebelum kakak atau adikku yang merebut “tiket ke surga” ini. Kekhawatiran kadang muncul menghantui, mengingat kesehatan Embah yang sering terganggu di usianya ke 65 tahun. Itulah kenyataan yang harus kuhadapi sebagai takdir dan tentu saja aku juga tak ingin ditakdirkan tak mampu berbagi kebahagiaan buat Embah pada umur yang sungguh teramat renta itu. Terbayang bagaimana perjuangan beliau seorang diri membesarkan keenam putera-puterinya lantaran Bapak ditakdirkan meninggal pada tahun 1975. Saat saya masih ingusan dan belumlah menapaki bangku sekolah TK.

Embah kudu naik pesawat. Harus!!!  Bisa jadi inilah moment yang akan menjadi puncak kebahagiaannya melebihi segala hal yang pernah beliau rasakan. Keinginan yang pernah berkobar meski seandainya tak tersentuh dan tak kesampaian pun beliau sudah sangat nrima, sebagaimana falsafah yang diyakininya dalam kultur Jawa. Nrima, semisal beliau menjalani hari-harinya yang berat bersama enam anaknya dalam tempaan jaman. Beliau sudah teramat bahagia oleh “keberhasilan” anak-anaknya. Tapi haruskah mengecilkan arti keinginan Embah itu? Beliau sudah teramat bahagia melewati hari-harinya bersama senda gurau cucu-cucunya yang setiap hari mengelilinginya. Meski ini adalah rutinitas yang buat saya kata rutinitas adalah mimpi buruk. Beliau sudah teramat bahagia. Ngemong cucu yang dititipkan oleh mama-mamanya lantaran harus bekerja. Sore hari para cucu direnggut mamanya kembali dan malam hari Embah dalam kesepian yang meradang. Rutinitas yang dihabiskan dengan senang hati. Bersama cucu membeli jajanan sekolah. Bersama cucu main halma. Bersama cucu leyeh-leyeh. Bersama cucu mendengarkan drama radio Saur Sepuh. Bersama cucu “melupakan” keinginannya naik pesawat. Galaunya justru muncul lantaran mengamati cucunya yang kian besar seiring dengan polah tingkah cucunya yang berlebihan. Suatu saat matanya berkaca-kaca meneteskan emosi bahagia mensyukuri kemenangan sang cucu dalam suatu kompetisi. “ Embah, aku enthuk piala, Mbah!” teriak sang cucu memamerkan ke-digdayaan-nya. Gurat rentanya seakan merekah dalam raut kebahagiaan.

Embah memang akhirnya hanyut dalam irama menelusuri rintangan kehidupan yang kini diperankan oleh sang cucu, karena peran pada putera-puterinya sendiri sungguh nyaris usai. Meski dalam keyakinan saya, dalam jarak jauh beliau selalu membalut doa dan harapan di setiap sholatnya untuk kami, anak-anaknya dan cucu-cucunya. Embah hanyut dalam waktu. Embah larut dalam masa. Embah tak pernah berharap benar kalau memang akan merasakan naik pesawat. Moso bodo’o … begitu barangkali keberterimaannya dalam hati.

Memang akhirnya tak pernah diharapkan Embah, meski kesempatan itu saatnya datang juga. Adikku Tante Mimi (panggilan kami untuk “memanggilkan” anak-anak kami kepada adikku ) menangkap peluang ini ketika dia berkesempatan training di Jakarta. Maka terbanglah Embah di angkasa pertiwi melambungkan impiannya. Dalam kurun 65 tahun, hari itu Embah baru merasakan deg-deg-an dalam pesawat. Dalam kurun 65 tahun, satu keinginannya yang sederhana baru terwujud. Embah telah merasakan puncak kebahagiaannya di puncak angkasa. Maka alangkah meruginya saya karena sesungguhnya “tiket ke surga” telah dimenangkan oleh adikku.

Setelah ini, mudah-mudahan aku masih sanggup membaca keinginan Embah yang harus kuwujudkan sebelum aku benar-benar tak punya waktu lagi bersama beliau selamanya. Sebelum tonggak pusara menjadi penanda beliau dalam istirahat nan abadi. Karena aku tak pernah tahu rahasia Illahi. Aku ingin memberi arti bagi kehidupan Embah karena beliau teramat berarti dalam hidup dan kehidupan saya. Aku ingin meraih tiket ke surga, seperti adikku …

Kutulis dalam diary-ku, April 2005

Kuhadiahkan untuk adikku, Tante Mimi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: