AURAT, TARIK URAT DAN ASAM URAT

Aurat, rasa-rasanya punya banyak arti, tergantung kita memaknai. Nalar anda mungkin saja akan berkonotasi pada bagian tubuh yang harus ditutupi. Memang itulah arti harafiahnya. Menurut KBBI cetakan tahun 1995 aurat juga bisa dipahami sebagai alat untuk mengadakan perkembangbiakan. Itulah sebabnya pembicaraan soal aurat punya daya magnet yang luar biasa. Siapa pun larut dalam perbincangannya dan bakal membekas dalam ingatan. Buat komedian Indonesia, gurauan soal aurat menjadi bahan paling empuk karena gampang diterima penontonnya. Itulah realitas masyarakat kita yang standar banget sense of humor-nya. Sama dengan larisnya majalah-majalah berilustrasi foto hot yang mengangkat sensasi yang tak lepas dari urusan aurat. Masyarakat begitu gampang terhipnotis dan mengoleksinya untuk disimpan di antara lipatan baju. Manakala butuh rangsangan agar terangsang, ya tinggal melotot di muka majalah sambil kejang-kejang menikmati pikiran yang tegang. Raga meregang dalam fantasi. Menyedihkan sekali!

Kalau aurat dipahami sebagai bagian yang wajib ditutupi, sesungguhnya aurat sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari karena demikian banyaknya hal-hal yang harus kita tutupi. Gaji yang kita terima adalah aurat. Jadi wajib bagi kita untuk merahasiakannya. Kalau kita mengumbarnya sampai diketahui orang lain, jelas kita terkena vonis pelanggaran peraturan perusahaan dan itu ada sanksinya. Hukum yang dibuat selalu disertai dengan sanksi atas pelanggaran. Begitu juga dengan rahasia perusahaan, wajib dijaga kerahasiaannya. Itu juga bisa dianalogikan sebagai aurat kita. Masak sih rahasia mau diobral buat konsumsi orang lain. Ada sanksi jika kita melanggarnya.

Masih banyak aurat dalam kehidupan kita. Aib keluarga, aib orang lain atau bahkan aib diri sendiri wajib ditutupi seperti yang dituntunkan oleh agama, karena ini juga aurat. Biar atas nama curhat tetap saja membocorkan aib sangat sangat dilarang. Lagian apa sih untungnya ngomongin aib. Silent is gold yang artinya seirama dengan mboten sae waton gunem. Sebuah pembelajaran yang begitu universal, disaat kita dilatih untuk terbuka dengan kebenaran, kita juga wajib untuk menutup sesuatu yang menjadi aurat. Bukan sebaliknya, tertutup untuk kebenaran dan membiarkan terbuka bagian aurat.

Mari kita bicara lebih dalam soal aurat tanpa tarik urat. Kalau dalam agama kita diwajibkan menutup aurat itu, maka kita akan semakin paham bahwa baju yang menjadi alat menutup aurat itu bukan sekedar alat semiotik belaka atau sekedar lambang. Biar gagah, biar tampak muda dengan baju yang terpakai. Buat apa baju worth it kalau pusar tetap terlihat. Untuk apa celana Versace kalau kolor yang warna warni ( nggak selalu ijo lho ! ) terlihat orang pas nongkrong mbonceng di motor sang cowok. Sekali lagi, mari kita kembali pada esensi yang sebenarnya, mempergunakan baju secara fungsional yaitu untuk menutup aurat. Bentengi diri kita agar tak terkontaminasi endemi trend yang tak berbudaya itu. Aturan agama sangat jelas mengharuskan kita untuk menutup aurat. Pelanggaran atasnya, pasti kita akan terkena sanksi. Anehnya, masih banyak pula orang yang tak lagi menjaga batas auratnya. Atau jangan-jangan mereka atau bahkan kita sendiri tak pernah paham yang mana sih batas aurat kita ?

Dalam sebuah industri yang berorientasi kapitalis, persoalan aurat justru dieksplotasi jadi sebuah komoditi. Terbukti dengan merebaknya berbagai majalah yang ekspos foto seronok dan aduhai. Siapa yang tak tergoda? Bisa beli bebas dan terkandung potensi yang mengundang fantasi liar. Iya sih ! Herannya dalam masyarakat yang hidup dengan nuansa religius, majalah semacam itu mendapat legalitas. Meski bisa saja  kita tak perlu ambil pusing dengan itu semua, ada baiknya kita coba buka sebuah wacana mengingat legalitas itu pada dasarnya bisa menjadi bumerang bagi bangsa ini. Percaya nggak percaya, majalah semacam itu akan mengundang bisikan gaib dan tipu daya setan. Pikiran jadi kotor dan jika ini yang terjadi, bisa diduga akan banyak muncul masalah sosial. Jadi, rupanya memang kita perlu ikut ambil bagian dalam menentang pesta pornografi ini. Salah besar kalau kita tak perlu ambil pusing!

Dengan bekal iman, mari kita hitung antara manfaat dan keburukannya. Akal sehat kita akan mengatakan bahwa keburukannya jauh lebih banyak yang itu berarti kita harus meninggalkannya. Mirip sebutir ekstasi, gambar-gambar seronok selalu bakal bikin ketagihan. Lagi dan lagi, terus dan terus sampai nggak sadar kita udah terkena asam urat. Urat meregang badan meradang dan kita bingung lantaran tak bisa berbuat apa-apa lagi. Nah lho !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: