THE POWER OF SPIRITUAL GATHERING

Hikmah 1

Minggu, siang hari. Usai pulang tadabbur alam. Seorang kawan baik tak kuasa harus menunggu datangnya hari senin untuk menceritakan pengalaman rohaninya. Dua kali ia mengirimkan SMS dengan berita yang sama. Kurang puas karena layar handphone tak cukup untuk menuangkan geliat sanubari. Kawan baik itu langsung menelpon saya. Perbincangan singkat jadi terasa cukup lama untuk kondisi badan yang letih setelah semalaman fisik lemah untuk mengikuti dzikir dan sholat malam ( maaf, bukan maksud kami untuk riak ). Kawan baik tak juga merasa cukup. Esok hari ketika membuka email, ia sudah memposting cerita yang sama. Buat teman baik, pengalaman mengikuti Spiritual Gathering yang biasa kita sebut tadabbur alam seperti sebuah penyadaran diri yang meleburkan kebekuan hati yang selama ini terjebak oleh paradigma yang salah. Barangkali saya juga tak pernah berfikir betapa nikmatnya kalau badan ini capek oleh aktivitas ibadah. Untuk duniawi, kita bela-belain mau bangun pagi, menempuh hingga 25 km menuju kantor. Siapa bilang ini tak bikin capek. Belum lagi malamnya harus menunda jam pulang karena ada dateline yang mesti diselesaikan. Siapa bilang badan tak jadi pegal. Betapa kita tak bisa tidur kalau ada pekerjaan yang tertunda. Sementara kita bahkan tidur pulas meski sholat wajib belum ditunaikan. Ada apa dengan hati kita?. Sudah sepantasnya, kawan baik tadi selalu menangis sepulang tadabbur alam, karena ia baru tersadar tak cukup bisa dibanggakan ibadahnya pada Allah pemberi rejeki. Kawan baik tadi telah menemukan nikmatnya badan yang capek oleh aktivitas ibadah. Kawan baik merasakan bahwa rasa syukurnya sungguh tak sebanding dengan nikmat yang diterimanya.

Mohon maaf, bukan saya tak melihat nilai ibadah saat kita bekerja. Karena kata ustadz capeknya badan sepulang kerja itu sesungguhnya juga menggugurkan dosa kita, asal kita selalu niatkan sebagai sebuah ibadah manakala kita berangkat kerja. Tetapi tentu kita tak cuma mengejar duniawi saja kan ? Urusan akherat cuma kita beri porsi 5 menit untuk satu waktu sholat padahal kita meminta kebahagiaan dunia akherat. Betapa tak adilnya kita ini !

Hikmah 2

Seorang kawan baik yang lain juga bertutur pada saya. Betapa ia sangat bahagia sepulang tadabbur alam. Sang istri yang juga diajaknya mengikuti kegiatan itu seperti berubah menjadi sebuah lentera baru di rumahnya. Betapa tidak, kini di malam-malamnya, sang istri mewarnai dengan sholat malam, mengisi dengan dzikir dan munajat. Tentu tak seperti malam-malam sebelumnya, karena kawan baik tadi tak tega membangunkan istrinya yang terlihat capek terbalut selimut. Sang istri seharian telah mengurus rumah dan anak. Siapa bilang ini tak bikin capek. Kawan baik tak kuasa membangunkannya. Bahkan untuk menutup pintu pun ia sangat hati-hati agar sang istri tak terganggu ditidurnya. Kawan baik melakukan sendiri sholat malam sambil berdoa agar sang istri senantiasa mendapat bimbingan-Nya. Alhamdulillah, sekarang kawan baik tak lagi bingung membangunkan sang istri karena belahan hatinya itu kini menjadi lentera di malam hari, menjadi nur yang menghidupkan malam-malam di bilik rumahnya. Dari cerita kawan baik, saya ingin belajar betapa keimanan dalam keluarga itu juga menjadi tanggung jawab kita. Kita tak bisa melenggang sendirian di jalan yang lurus sementara orang yang kita cintai tertatih-tatih di jalan berkelok. Kita tidak sendirian di rumah karenanya syiar di rumah pun harus ditegakkan. Saya rasa anda juga setuju.

Hikmah 3

Email lain yang saya terima, juga dari kawan baik yang sebenarnya ia tak ikut acara tadabbur alam. Tetapi saya tahu pasti dari bahasa kalbunya kawan baik ini sangat mendukung acara ini. Keberatannya hanya karena ia mendapat amanah yang bersamaan dengan acara tadabbur alam, sehingga dengan sangat terpaksa kawan baik tadi tak bisa ikut. Isi emailnya spontan menuntun saya berucap syukur : bahwa temannya yang ikut acara tadabbur alam sepulangnya langsung memakai jilbab. Alhamdulillah. Seorang kawan baik ( yang sudah berjilbab tadi ) sudah memantapkan imannya dan memelihara aqidahnya serta meneladani kebaikan. Gerak hati, fikir dan rasanya telah menyatu pada pemahaman islami yang kaffah. Saya jadi berharap banyak, mudah-mudahan yang lainnya juga segera menyusul menghijab dirinya yang juga berarti memuliakan dirinya sendiri. Meski harus diakui, bahwa kawan baik tadi sesungguhnya sudah punya niat lama untuk memakai jilbab. Hanya moment-nya saja yang bertepatan dengan kegiatan yang kami gelar ( semoga tidak menjadikan kami besar kepala dan berlebihan ). Jadi sesungguhnya, hanya hidayah Allah lah yang menggerakkan hati hamba-Nya yang haus mencari kebenaran. Sekali lagi, saya masih berharap dan berdoa, meluasnya lautan jilbab di bumi Allah ini, berawal dari kawan baik di sekitar saya. Subhanallah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: