SEBUAH TAKZIM UNTUK SAHABAT

Pernahkah kita mengukur batas akhir persahabatan dengan seorang teman?

Mengapa kita merasa perlu menjalin suatu persahabatan? Selebriti Ed Cunningham mengatakan seorang sahabat adalah seorang yang menanyakan kabar kita kemudian menunggu untuk mendengarkan jawabannya. Wow, hidup tiba-tiba saja menjadi begitu indah lantaran ada orang yang menanyakan kabar kita. Sebuah perhatian dari orang lain yang tentu saja menjadi turbin pembangkit energi positif kita. Sebaliknya, betapa sedihnya ketika menyadari manakala kita tidak punya seorang sahabat, tempat berkeluh kesah yang mau mengorbankan waktu dan kesempatannya untuk mendengarkan ocehan kita, meski kadang nggak penting banget. Saat seperti ini kita seolah berada di padang tandus gersang yang samasekali tak lagi ada benih kehidupan yang menjanjikan. Bahkan tongkat dan kayu pun tak bisa tumbuh jadi tanaman, meski orang bilang tanah kita adalah tanah surgawi.

Betapa berartinya kehadiran seorang sahabat. Banyak orang yang dengan saudara kandung sendiri tidak bisa dekat, justru bersama seorang sahabat dia teramat lekat melebihi lainnya, seperti dua buah magnet yang berbeda kutub sehingga saling tarik menarik tak ingin terlepas. Masing-masing membentangkan medan magnet yang tentu saja dihiasi daya tarik, dalam arti yang sebenarnya. Daya tarik itu sendiri terinduksi lantaran adanya chemistry satu sama lainnya. Maka betapa sedihnya ketika sahabat itu harus meninggalkan kita, bahkan untuk selama-lamanya. Itulah yang saya rasakan atas kepergian sahabat kita Deny Prasetio.

Berita duka itu terkirim dan diterima oleh istri saya di rumah. Ketika itu saya sedang di mall, merajut simpul kedekatan dengan anak2 yang nyaris selama 5 hari tak menyisakan waktu buat mereka. Hari itu seperti sebuah penebusan “dosa” kepada anak-anak. Dengan tenang istri mentransfer kabar itu dan seperti Anda juga barangkali, saya tidak percaya. Bukan tidak percaya pada istri, tetapi pada “kebenaran” warta itu. Seseorang sedang membuat Mob di bulan Oktober, pikir saya. Hanya satu nama yang bakal saja rujuk untuk memastikan keountentikan kabar itu, Armandiantoro yang sejatinya adalah soulmate Deny Prasetio. Manakala Arman saya telpon, sebelum terdengar jawaban, yang tertangkap adalah sesengukan tangis lirih. Oh My God, Arman yang ceria itu sedang meratap sedih. Maka saya tak perlu lagi penjelasan verbal dari Arman. Seorang sahabatku telah pergi. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Sebagai takzim saya kepada almarhum, di tengah terik mentari dua belas siang, dari Depok saya meluncur dengan motor ke rumah duka. Memburu waktu dan menghindari macet. Saya tak ingin kehilangan moment melepas kepergian almarhum, dengan seribu pertanyaan yang menggayut di pikiran, takdir apa yang menjadi asbab kematian Deny. Sepanjang perjalanan melintas kenangan bersama almarhum di hari Jumat, saat terakhir kebersamaan kami. Bahkan masih terekam status singkat Deny di facebook: “Pakai Batik!” Terlintas gesture jalannya dengan sedikit membungkuk dan two hands in the pocket serta simpul senyum yang menjadi trade mark-nya. Inilah jatidiri seorang Deny Prasetio. Dia adalah icebreaker. Tak ada kesuntukan bersamanya. Tak ada ruang hampa baginya, karena setiap sudut dan sisi ruangan selalu didekorasinya dengan canda ringan yang tak menggoreskan luka bagi orang lain. Deny selalu punya cara buat memecahkan kebekuan suasana. Bahkan harus dengan mengorbankan dirinya menjadi objek canda demi kebahagiaan orang lain. Sesekali ia akan menggerakkan lekuk badannya seolah memperagakan tarian break dance. Inilah yang menginspirasi saya untuk menghidupkan karakter itu dalam Iklan Layanan Masyarakat memperingati kemerdekaan Indonesia agustus 2010.

Deny sangat gampang menerima setiap casting yang ditawarkan padanya. Seolah itu suatu tantangan yang harus ditakhlukkan. Bahkan untuk berperan sebagai seorang Office Boy. Buat kami tentu saja menjadi hal yang menyenangkan karena betapa susahnya mencari talent di saat yang mendadak sekali dan hehehe … zero budget. Maka pilihan selalu tertuju kepada seorang Deny sebagai problem solving. Dan Deny akan tetap menghidupkan karakter yang diperankan tanpa banyak pertimbangan. Sebuah peran dalam casting baginya seperti sebuah amanah yang harus dipegang. Dan sesungguhnya itulah cerminan kepribadiannya. Seorang yang amanah.

Amanah sebagai seorang hamba Allah dipegangnya dengan menjalankan sholat lima waktu. Kadang Deny tertinggal dalam sholat jamaah dan tak segan-segan saya mengingatkan padanya. Dan ghirah itu pun muncul di bulan ramadhan kemarin. Setiap hari Deny tak mau ketinggalan sholat tarawih berjamaah. Bersama teman-teman di lantai 10, Deny, mas Nanang, mas Rudi dan mas Djuarifin nyaris tak terputus mengikuti jamaah tarawih di lantai 6. Bahkan saat teman-teman sibuk urusan pekerjaan di hari-hari terakhir Ramadhan ( lantaran sudah mendekati libur panjang ), Deny-lah yang justru menyemangati saya untuk tetap istiqomah. Subhanallah …

Pukul dua siang, saya sampai di rumah duka. Tak terhitung sudah siapa yang datang, yang tampak semua diselimuti duka yang mendalam. Masing-masing tak bisa menyembunyikan perasaan kaget, sebegitu cepatnya Deny harus kembali menghadap ke haribaan Sang Khalik. Itulah takdir, seperti definisi dalam film Passangers: “Don’t try to understand everything because sometimes, things happened are not meant to be understood but rather to just be accepted as our fate”. Maka mereka pun juga tak memungkiri rasa ikhlasnya melepas kepergiaan sang sahabat. Bersyukur, Deny telah mengakhiri lakon kehidupannya dengan kebaikan. Insya Allah khusnul khatimah.

Selamat jalan, sahabat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: