SAVE OURSELF

Masa satu tahun adalah perjalanan yang teramat melelahkan. Telah banyak energi yang dikeluarkan dan sekian banyak kinerja disinergikan untuk memendarkan kekuatan maksimal. Bahkan diakhir perjuangan menjelang titik finish, akselarasi kerja itu makin ditingkatkan untuk menggapai target yang belum tersentuh. Di akhir etape, seorang atlet pelari akan menambah kecepatan gerak pacunya supaya bisa paling awal mencapai garis finish untuk memenangi pertandingan. Maka betapa kita bisa membayangkan ketika semangat itu ditumbuhkan kembali, canda tawa dikurangi, kesalahan diminimalisir, keseriusan ditingkatkan lantas semua kekuatan dikerahkan: yang terjadi adalah “eksploitasi” besar-besaran pada strength, potensi-potensi positif yang berada dalam simpul kekuatan. Tentu saja ini harus dan memang harus dilakukan agar tampil sebagai pemenang. Puncak kegembiraannya adalah peraihan prestasi yang disimbolkan pemberian bintang penghargaan. Semua senang dan semua puas.

Masa satu tahun apabila diurai berdasar satuan waktu maka akan tampak jelas sekali setiap penggalan yang terjadi. Keringat yang terkuras, air mata yang terburai hingga senyum yang terentas. Keringat, senyum dan air mata, tiga instrumen yang mengiringi emosi kehidupan kita. Keringat adalah daya degup bagi jiwa yang terus menggelora manakala bergerak dan berbuat sesuatu. Keluarnya keringat adalah proses penyeimbangan tubuh juga bagian dari sekresi racun. Kala anda berkeringat tentu saja pertanda bagus, setidaknya bisa dipastikan tugas kelenjar keringat on the right track. Kerja keras dan aktivitas fisik yang berlebihan sangat memicu dan memacu tubuh berkeringat Herannya, saat bekerja saya tidak berkeringat tetapi waktu makan justru banjir keringat. “Dasar orang Jawa!”, demikian kata orang.

Senyum adalah daya hidup yang menumbuhkan suasana nyaman dan bahkan membuat sistem imun tubuh bekerja lebih baik. Dalam Islam, senyum menjadi tools saat berdakwah, sehingga dengan senyum Muhammad Sang Nabi membawa umatnya menikmati indahnya Islam. Hanya dengan menebar senyum anda telah bersedekah tanpa perlu merogoh kocek. Maka senyumlah setiap saat dan berarti anda telah bersedekah sebanyak itu. Dipikir-pikir ngapain juga cemberut kalau bikin orang sakit perut. Senyumlah dan dunia akan menyapamu, begitulah quote kalimat bijak bestari. Tersenyum berarti menyimpan banyak energi dan sebaliknya kalau susah tersenyum makin boros BBM anda.

Air mata adalah daya letup atas respon pada situasi paling emosional. Simbah dulu ngendikho kalau mau menangis maka menangislah biar keluar semua rasa yang menyesakkan dada. Biar hati plong seperti teriknya mentari di siang bolong. Menangis biasanya dipicu oleh perasaan gundah yang menghantam jiwa lantaran situasi yang sangat menekan, bisa karena masalah apa saja. Maka terburailah air mata itu. Perlahan tapi pasti, berkuranglah beban hidup yang teramat menghimpit meski ini belumlah menyelesaikan masalah.

Dalam masa satu tahun ini, tentu saja keringat, senyum dan air mata silih berganti mendekorasi kehidupan kita. Semuanya terpulang pada cara kita menyikapi. Hidup adalah rangkaian masalah yang berkesinambungan dan tak berkesudahan. Akan terus ada masalah dan masalah lagi, hingga baru akan berakhir saat kita terbujur kaku di liang keabadian. Satu masalah yang sama tentu akan direspon dengan cara yang berbeda oleh setiap orang. Maka akan dapat kita lihat siapa yang menang dan siapa yang tumbang. Seseorang bisa menang karena dia telah mentransformasikan diri sebagai bola bekel yang membal, yang selalu terpantul saat dihentak oleh masalah. Menjadi tumbang lantaran seseorang memetamorposiskan dirinya sebagai gelas kaca, yang dihentak langsung pecah berkeping-keping. Seorang kawan baik menjadi nyengir saat mendengar celetukan anaknya waktu tevenya rusak, “ Bapak kerja di teve tapi kog nggak bisa betulin teve rusak! “. Glodak! Sang Bapak hatinya terbilah berkeping-keping, menjadi begitu nelangsa seperti tengah memainkan lakon tragedi drama Yunan. Sepotong scene kehidupan yang multitafsir. Pertama, si anak tidak tahu kalau kerja di teve itu banyak bagiannya, bukan semata-mata mereperasi teve. Kedua, si bapak mungkin tak berkutik karena memang tidak tersedia budget untuk service teve, apalagi membeli yang baru. Ketiga, sesungguhnya si Bapak sedang berencana mengganti dengan yang baru, kalau dapat rejeki nomplok.

Untungnya saja saya tidak bocorkan pada kawan baik tadi kalau teve di rumah juga rusak. Saya hanya bersikap tenang meski teve rusak. Sejak awal, sudah saya doktrinkan kepada anak-anak, kalau teve bukanlah sahabat yang ramah. Sesekali bolehlah diintip kalau ada acara menarik. Selebihnya, bermainlah dengan jiwa dan raga kamu! Maka ketika teve di rumah rusak, no problemo. Saya menikmati sikap keberterimaan anak-anak dengan senyum, dan tentu saja benih-benih suasana nyaman tetap terpelihara dalam rumah.

“Urip kuwi sawang-sinawang, Le!” begitu nasehat luhur orang tua. Maksudnya, melihat kehidupan orang lain terasa indah sementara betapa pahitnya jalan hidup kita. Katanya rumput tetangga lebih hijau, bukankah kita adalah tetangga bagi tetangga kita? Nah loh! Kalau teve Anda rusak, janganlah merasa sedih berlebihan, justru syukurilah karena setidaknya menunjukkan bahwa Anda pernah punya televisi. Bukankah mereka yang tinggal di kolong jembatan justru sama sekali belum merasakan memiliki teve? Maka yang perlu kita ubah adalah perspektif dalam melihat persoalan. Seringkali kita membesar-besarkan persoalan, menjauhkan dari kacamata objektif sehingga yang muncul justru persoalan yang lebih besar bagi kita. Sikap optimis sesungguhnya akan sangat membantu kita membentuk kepribadian yang tegar, menjauhkan kita dari pransangka negative yang pada akhirnya hanya menghujamkan duri dalam hati kita.

So, save ourself.

Untuk seorang sahabat di lt.21
terima kasih telah menginspirasi saya untuk membuat catatan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: