MENEPIS BAYANG GUNDAH

Berpuluh pintu telah kuketuk
Kudapati bingkai gundah menempel di dinding rumah mereka

Betapa senangnya, Oktober 2010 kemarin saya berkesempatan mengetuk pintu rumah pemirsa SCTV sambil menyerahkan kado indah, sebuah televisi 21 inch – flat. Tak ada persyaratan khusus kecuali pemirsa memang kepergok kami sedang memandang layar SCTV. Saya menjadi pembuka jalan sebelum crew dan host datang mengejutkan tuan rumah ( baca: pemirsa ) sambil mengabadikan ekpresi surprise pemirsa buat kepentingan on air. Yang ingin saya sampaikan disini adalah moment kebersamaan dan perbincangan saya dengan tuan rumah sebelum datangnya crew.

Sebelum tuan rumah terkejut bakal mendapat hadiah, rupanya justru saya yang terlebih dahulu “kaget” menyelami penuturan keadaan mereka. Seperti curhat colongan, mereka bertutur tentang problematika hidup yang dihadapi. Di Jakarta Utara, seorang suami nganggur sekian lama sehingga sang istri berinisiatif jualan jajanan di sekolah TK, demi menopang pilar kehidupannya. Anda mungkin saja bisa membayangkan berapa penghasilannya, tapi anda justru tak bakal membayangkan kalau anaknya yang berumur 10 tahun tidak bersekolah. Sang suami gundah, tapi tak bisa berbuat banyak. Gemerlap Jakarta justru jadi pisau sayat yang mengiris perih urat nadi kehidupannya. Rintihan mereka tertelan hingar bingar para politikus yang berebut simpati seolah telah berjasa menyelamatkan bangsa.

Di Bogor, seorang suami harus bekerja siang malam demi impian keluar dari kekumuhan tempat tinggal mereka. Malam hari ia menghabiskan waktu di pasar Bogor berjualan cabe rawit dan siang harinya ia menjadi sales show room motor, sementara sang istri membuka lapak kue di depan rumah. Suami istri ini gundah lantaran bertahun-tahun hidup sebagai “kontraktor” di rumah petak yang mereka sewa. Lebih miris lagi, di Bandung sebuah keluarga harus menghadapi kenyataan pahit sang ibu terkena stroke, “Bapak cuma bekerja sebagai sopir dan akibatnya tak ada biaya buat berobat dan sekolah anak-anak” ucap ibu tadi dalam tuturnya yang gagap dan terbata-bata lantaran serangan stroke yang mengganggu sensor motoriknya. Lagi-lagi gundah jadi selimut duka dalam rumah yang saya singgahi. Kegundahan yang menusuk teramat dalam, lantaran terus menggerogoti kehidupan mereka sepanjang waktu. Sangat potensial memunculkan kesakitan psikis. Barangkali, tanpa kesadaran diri sangat memungkinkan orang-orang itu terjebak pada labirin keputusasaan!

Tetapi sesungguhnya mereka ternyata orang-orang yang tegar. Siapa sangka dalam kegundahannya, dengan senyum ramah mereka menerima saya sebagai tamu, padahal saya bukanlah orang yang mereka kenal. Mereka sama sekali tak menaruh rasa curiga atau merasa ternganggu akan kehadiran saya. Bisa jadi karena hati mereka yang selalu terjaga dari buruk sangka, maka Tuhan yang mahapemurah menuntun jalan saya untuk menghampiri mereka. Kalau anda tahu, banyak juga pemirsa yang menolak kedatangan saya saat bertamu. Menganggap saya cuma merepotkan dengan lontaran pertanyaan survey kepemirsaan yang menguntungkan secara sepihak. Kalau saja saya dikenali sebagai tim Bagi-Bagi Teve, barangkali mereka akan berebut untuk mempersilakan saya masuk ke rumah. Itulah yang terjadi di sekitar Dago, lantaran kehadiran kami terendus ( karena ada armada yang berlogo SCTV), seorang pemuda memanggil-manggil saya untuk masuk ke rumahnya yang sedang mengikuti tayangan SCTV.

Betapa memang saya sangat terkejut atas ketegaran dan kesabaran mereka yang sedang gundah. Dalam himpitan beban yang menyudutkan mereka sebagai makhluk yang tak ada daya dan kekuatan, orang-orang itu tetap menjalani roda kehidupan dengan tenang. Mereka telah memaknai hidup dengan kesahajaannya, dengan cinta yang terpupuk dalam rumah tangga, lewat pintu agama yang dibangun dengan kokoh. Mereka meratap lirih hanya pada Sang Khalik terutama di sepertiga malam terakhir. Sebuah katarsis yang paling solutif untuk kemudian menyerahkan segala-galanya pada-Nya. “ Gustiiiiiiiiiiii …” begitulah rintihan paling menyentuh cara orang Jawa. Singkat tapi dalam. Pendek tapi panjang makna. (Gusti adalah penamaan orang Jawa untuk Tuhan. Tetapi sesungguhnya Allah memiliki kemuliaan nama dalam asmaul Husna. Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul Husna).

Sesungguhnya mereka masih punya pengharapan atas kehidupan mereka. Bunkankah agama memang juga mengajarkan bahwa dalam doa harus disertai harapan ( rodja ), selain rasa takut ( khauf ) dan cinta ( mahabbah ). Lewat film yang sangat inspiratif, Pursuit of Happiness, tokoh Chris Gardner memotivasi mereka agar tetap bertahan dan berjuang menggapai harapan. Siapa sangka orang yang pernah tidur di toilet lantaran tak lagi punya tempat tinggal, di masa tuanya menjadi seorang jutawan kaya raya.

Tentu saja gundah bukan milik mereka sepenuhnya. Bisa jadi kita yang berada dalam comfort zone ini juga pantas “bergundah-ria”. Seberapa lama kita ingin bertahan dalam kenyamanan tetapi kalau Allah mencabut nikmat itu, apalah yang bisa kita lakukan. Maka jadikan gundah-gundah itu sebagai early warning, peringatan bahwa ada saatnya kita juga bisa dikerumuni banyak problema hidup yang tak disangka-sangka. Amerika yang secara kemasan begitu kokoh di mata kita, toh terjungkal pula ketika menghadapi krisis global 2009. Kegoyahan ekonomi Amerika adalah kegundahan kolektif jutaan rakyatnya. Bukan tidak mungkin, kita juga akan mengalaminya, berada pada posisi bawah dalam putaran roda. Jika ini yang terjadi, maka tanpa kesadaran diri, kita akan terbelenggu dalam frustasi eksistensial.

Semoga Allah merahmati saya dan Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: