MENCARI FORMAT BARU TONTONAN SEHAT

Tayangan hiburan dalam format sinetron hingga saat ini masih menjadi primadona stasiun televisi untuk merebut perhatian pemirsa. Tentu karena memang pemirsa masih menyukainya. Sampai kapan sinetron tetap eksis sebagai pilihan utama hiburan pemirsa ? Tak bisa ditentukan secara hitungan waktu. Tetapi bisa dipastikan ketika muncul satu format tontonan baru yang lahir sebagai breakthrough, maka ketika itu minat dan selera pemirsa akan bergeser. Penulis akan mencoba meraba-raba sebenarnya sampai kapan sinetron itu akan bertahan sebagai hiburan pilihan.

Diakui sinetron tetap mendominasi top rating sebagai hiburan yang ditonton mayoritas pemirsa. Tetapi yang disayangkan secara content sinetron kebanyakan lebih diwarnai oleh adegan-adegan kekerasan yang sangat mengkhawatirkan sebagian pemirsa yang menyadari dampak psikis bagi anak-anak khususnya. Tak jarang umpatan kasar, persaingan tak sehat atau akal-akalan yang diluar nalar menjadi tontonan yang menerobos alam bawah sadar pemirsa. Penonton yang cerdas, segera melakukan resistensi dan mereka ini jumlahnya terus mengristal. Bahkan banyak dari mereka membentuk komunitas tertentu yang meneriakkan kampanye teve sehat. Tentu fenomena ini sangat mengkhawatirkan keberadaan sinetron itu sendiri.

Maka yang dicari oleh pemirsa saat ini adalah adalah tontonan yang “sehat”. Bukan sinetron yang disesaki oleh teriakan marah-marah, akal licik karena persaingan dan kekerasan yang tak mendidik. Penonton tampaknya sudah capek. Artinya tontonan semacam itu cepat atau lambat akan segera ditinggalkan. Seiring dengan kecenderungan itu, maka lahirnya tontonan dalam format baru akan menjadi breakthrough dan kehadirannya sangat mungkin sekali merebut simpati pemirsa. Tengok saja, ketika teve tetangga melempar suguhan sitkom, sebuah sinetron ( di teve tetangga yang lain ) yang sebelumnya menduduki top rating, seketika itu juga tak berkutik melawan kejaran sitkom yang cuma menunggang bajaj. Bahkan media mengabarkan dalam bahasa yang satir kalau bintang cantik yang melakoni sinetron itu ditubruk bajaj. Ada-ada saja.

Tapi itulah dinamika hiburan televisi. Semua pilihan ada di tangan pemirsa. Sitkom ternyata mampu melemahkan dominasi sinetron yang bertahun-tahun menjadi bagian dari hiburan pilihan pemirsa. Kog bisa ya ? Mengapa harus sitkom ? Amerika ternyata mendidik rakyatnya dengan sitcom. Pemerintah Amerika menganggarkan setiap tahunnya untuk memproduksi sitkom, dan inilah yang menjadi media paling efektif dalam mendewasakan rakyatnya. Mereka diajak menertawakan persoalan tapi sekaligus digiring memikirkannya, karena mereka menyadari ternyata persoalan itu ada di sekitarnya. Masuk ke dalam keluarga yang memiliki banyak anak, Amerika menghadirkan Growing Pain dan Family Ties. Ke dalam keluarga kulit hitam, diperkenalkan Cosby Show. Di dunia militer Paman Sam mendoktrin dengan tayangan M.A.S.H. Merebut hati para keluarga yang mempekerjakan pengasuh anak, pemirsa dirangkul dengan hiburan The Nanny ( semua yang disebut ini adalah tayangan sukses dan pernah tayang di SCTV ). Tercatat setidaknya dalam setahun diproduksi 576 series sitkom. Dahsyat gitu lho ! Yang menjadi pertanyaan sekarang, faktor apakah yang mendukung sehingga bisa tercapai angka fantastik 576 series itu ?

Tak lain karena pembuatan sitkom membutuhkan budget yang relatif kecil. Coba saja tengok setting sebuah sitcom. Nyaris selalu dieksekusi di dalam studio dengan petak-petak ruangan yang itu-itu saja. Tidak mengeksploitasi kemewahan, tak membutuhkan wardrobe yang mahal. Casting pemain tak selalu dituntut kehadiran pemain papan atas, karena yang dibutuhkan adalah karakter. Bahkan sangat memungkinkan dengan menghadirkan karakter yang tidak sempurna sebab ketidaksempurnaan ini adalah daya magis yang luar biasa untuk membangun konflik cerita. Make up artist tak memerlukan detil karakter karena memang tuntutan skenario yang mengangkat realitas sehari-hari. No more bedak tebal, lipstik menor, shadow hidung biar mancung.

Sesungguhnya yang dibutuhkan dalam sitkom adalah kekuatan naskah cerita. Dialog yang pendek tapi bernas. Tidak bertele-tele sehingga enak diikuti. Disinilah peran pemain yang sangat dituntut untuk mampu menghidupkan tokoh cerita. Mereka tak melucu tapi menghadirkan kelucuan yang luar biasa lewat dialog dan gesture. Effek audio sebagai guiding ketawa menasbihkan bahwa adegan itu memang lucu.

Bandingkan saja semua paparan ini dengan kebutuhan produksi sebuah drama sinetron. Maka akan tersimpul bahwa produksi sebuah sitkom mengarah pada low budget. Jadi, 576 series bukanlah akal-akalan dengan menekan biaya produksi, tetapi karena memang memproduksi sitkom biayanya sangat kecil.

Maka yang dibutuhkan sekarang adalah kejelian dalam memilih sebuah tayangan yang disukai pemirsa. Tayangan yang segar menghibur tapi sehat. Dalam artian memberi kontribusi positif bagi pemirsa. Tontonan tapi juga tuntunan. Persaingan hiburan layar kaca kian ketat. Tentu tak menjadi alasan untuk tampil mengikuti selera pasar. Kuncinya adalah melakukan breakthrouh. Barangkali ….

1 Comment

  1. ngomong2 soal sinetron nih pak, dulu pas tahun 2008 saya diajak dosen UI untuk mengkampanyekan event “Sehari tanpa TV”. Karena pada saat itu banyak sekali tayangan (khususnya sinetron) yang tidak mendidik. event ini kami siarkan ke stasiun2 radio dan televisi2 daerah, tapi toh nyatanya cuma sedikiiiit yang mengkuti event ini, mungkin karena tidak dapat hadiah,hehe.. atau mungkin karena memang sinetron sudah menjadi candu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: