BERAGAMA DENGAN WAHYU

“Apa Salahnya?”

“ Masak sih?”

“Kan baik!”

“ Daripada …”

“ Mendingan …”

Kalimat pembelaan itulah yang terlontar manakala seseorang mempertanyakan sebuah amalan ibadah yang kita lakukan. Kita jadi sensi dan begitu yakin atas kebenaran yang sudah kita pegang. Ini ibadah loh, kog dibilang salah. Allah kan Mahatahu. Mendingan urusin tuh orang-orang yang belum shalat dan suka bermaksiat … Subhanallah. Sabar yaa Akhi! Marilah kita berdoa buat orang-orang yang belum shalat dan suka bermaksiat supaya mendapat hidayah serta kita mohon petunjuk supaya ibadah yang kita amalkan diterima Allahu Tabaraka wa Ta’ala.

Semangat dalam menjalankan ibadah memang tidak serta merta kita wujudkan tanpa sebuah landasan. Kalimat penyangkalan itu sudah waktunya dibungkus rapi dan dibuang jauh-jauh dari wilayah persepsi kita. Kenapa kita menyangkal berbagai pertanyaan tentang sebuah amalan-amalan itu? Jawabnya adalah lantaran kita beragama dengan perasaan. Setiap selesai shalat, kita mengusap muka dengan tangan dan dilanjutkan bersalaman dengan jamaah di sebelah kanan kiri. Perasaan memang mantap sekali manakala setiap kali habis shalat mengusap muka dan rasanya bertambah kedekatan kalau habis shalat bersalaman dengan jamaah kanan kiri. Kalau tidak melakukan 2 hal itu berasa kog kurang afdhal dalam ibadah ini. Ouch … ! Hati-hati yaa Akhi dengan ekspresi “perasaan..” dan “rasanya…”.

Sekarang, kita coba munculkan pertanyaan untuk 2 hal tadi, adakah dalil shahih yang menjelaskan amalan mengusap muka dan bersalaman tadi? Kita yang tidak dapat mengemukakan dalilnya, mencoba melakukan pembelaan dengan kalimat “ apa salahnya sih? “( Semoga Allah memudahkan kita dalam memahami ilmu yang bermanfaat sehingga kita terlepas dari subhat yang menyesatkan ini ). Sekarang marilah kita buka kitab Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah wal Maudhuu’ah ( no. 660 ) oleh Imam al-Albani. Terjemahan hadits tersebut: “Rasulullah saw. bila usai menjalankan shalat beliau mengusap kepalanya dengan tangan kanannya seraya berkata, ‘Dengan nama Allah yang tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, wahai Allah jauhkanlah dariku rasa duka dan kesedihan.’”. Hadits ini sangat dha’if. Imam Bukhari dan Abu Hatim menyatakan dengan tegas Katsir bin Sulaim itu munkar riwayatnya. Sedangkan Imam Nasa’i mengatakan jumhur Muhadditsin sepakat menyatakan sangat dha’if, dan riwayat yang dibawanya seluruhnya tidak dapat diterima. Kalau hadits ini jelas-jelas lemah dan bahkan lebih lemah dari rumah laba-laba, kenapa tetap dijadikan hujjah / landasan. Astaqfirullah hal ahdzim.

Perkara bersalaman dan berjabat tangan telah dituntunkan oleh Nabi yang mulia dan para sahabat adalah ketika bertemu sesama muslim. Anas dan asy-Sya’bi berkata, “Adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , apabila berjumpa mereka saling bersalaman dan saat kembali dari bepergian, mereka berpelukan.” Thalhah bin Ubaidillah (salah seorang yang dijamin masuk surga) bertolak dari halaqah Nabi untuk menemui Kaab bin Malik ketika Allah menerima taubatnya, lalu ia menyalaminya dan mengucapkan selamat atas diterima taubatnya. Riwayat lain dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ تَحَاتَّتْ عَنْهُمَا ذُنُوْبُهُمَا كَمَا يَتَحَاتُّ عَنِ الشَّجَرَةِ وَرَقُهَا

“Tidaklah dua orang Muslim berjumpa lalu bersalaman, kecuali akan berguguranlah dosa-dosa keduanya sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohonnya.” (Abu Dawud, kitab al-Adab )

Sementara berjabat tangan setiap selesai shalat sesungguhnya tidak pernah kita tahu dari mana asalnya dan bahkan termasuk perkara baru yang dibuat-buat. Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para shahabat lebih dahulu mengamalkannya. Lau kanna khairan lasabaquunaa ilaihi. Yang tampak justru itu adalah perbuatan yang makruh karena tidak adanya dalil. Disyariatkan bagi orang yang selesai shalat adalah langsung berdzikir, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jelas bahwa kaidah beragama sesungguhnya didasarkan pada wahyu Allah yang disampaikan melalui dakwah Nabi yang mulia. Dengan demikian mengikuti Rasulullah ( Ittibaa’ ) adalah bersifat mutlak, baik dalam hal beribadah maupun bermuamallah. Kita teringat pada sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau pernah mendatangi hajar aswad, lalu menciumnya, kemudian beliau berkata, sesungguhnya aku mengetahui engkau hanyalah sebuah batu yang tidak membahayakan dan tidak dapat memberikan manfaat. Dan kalau sekiranya aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, pastilah aku tidak pernah menciummu. Subhanallah. Betapa bersihnya akidah sahabat Umar. Beliau samasekali tidak terpancing oleh “kebesaran” asal usul batu hajar aswad yang berasal dari surga sebagaimana banyak diantara kita yang bisa jadi terjebak untuk mengagungkan batu-batu tertentu menjadi jimat, dibalut kain putih ditabur minyak wangi. Padahal itu hanyalah sebuah batu yang dijadikan singgasana syaiton dalam mengkufurkan manusia yang beriman lemah dan ketika itulah kaidah iblisiyyah merasuk dalam hatinya.

Ali radhiyallahu ‘anhu juga mengajarkan kepada kita bahwa beragama tidak dibina atas dasar akal semata ( rayu’), sebagaimana perkataan Ali, kalau sekiranya agama itu dengan akal fikiran semata, pastilah bagian bawah dari sepatu lebih berhak diusap dari bagian atasnya. Bukankah yang dipakai berjalan adalah bagian bawah sepatu. Akan tetapi Ali pernah melihat Rasulullah SAW telah mengusap bagian atas dari kedua sepatunya, yakni sebagai pengganti mencuci kedua kaki ketika berwudlu manakala kedua kaki kita tertutup dengan sesuatu seperti sepatu atau kaos kaki. Pernah penulis mendengar joke dari seorang ikhwan mengapa kalau sholat batal karena kentut, yang dibasuh adalah mulut ( berkumur dst ) dan jawabannya menurut ikhwan tadi adalah karena kita punya Nabi. Dari joke ini yang kita tangkap adalah Nabi mencontohkan berwudlu manakala batal lantaran disebabkan kentut.

Iblis adalah makhluk Allah pertama yang menolak wahyu dengan ra’yu ( akal ). Ketika datang perintah Allah Jalla wa ‘Alaa untuk sujud kepada Adam, dengan sombongnya iblis laknatullah menolak karena merasa lebih tinggi dibanding Adam yang tercipta dari tanah. Maka iblis yang penuh dengan talbis (penyamaran) sangatlah terlihat jahil murokkab dihadapan kita orang mukmin yang berjalan diatas agama yang haq. Iblis telah mendahulukan akal daripada wahyu. Dan tentu saja bangkrutlah siapa saja yang mengikuti jalan peribadatan iblis.

Setelah mengetahui dan mengikuti keterangan tentang keharusan beragama dengan wahyu, maka wajiblah bagi kita untuk meninggalkan cara beragama yang jahil yang mengedepankan landasan akal dan perasaan. Islam yang sebenar-benarnya telah diajarkan oleh Rosulullah SAW dan telah diamalkan dan dida’wahkan beliau bersama para shahabat radhiyallahu anhum. Yang kemudian diikuti oleh Taabi’in dan Taabi’ut Taabi’in dan orang-orang yang sesudah mereka sampai hari ini di timur dan di barat dari ulama sampai orang-orang awam yang berjalan di atas manhaj salaful ummah. Mudah-mudahan kita tergolong bersama orang-orang yang mendapat hidayah ini. Amien Allahuma amien …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: