MILIKI MALAKA NAK SEKEJAB

Tahun lalu kami singgah ke Malaka sebelum berpusing-pusing sekitar KL dan Singapore. Meski cuma semalam tetapi punya kenangan sepanjang masa. Malaka memang elok rupawan, destinasi wisata yang menyenangkan. Karena satu alasan dan lain hal, kami mengulangi kembali trip tahun lalu,  melancong ke Malaka. Begitu familiar kami dengan kota kecil ini seolah miliki Malaka meski nak sekejab. Dari pelabuhan Malaka, cukuplah kami berjalan kaki sambil menggeret tas troli untuk mencari hotel. Tahun lalu kami harus bayar kereta sewa  RM 15 yang ternyata lokasi hotel tersebar banyak di belakang pelabuhan. Barangkali sekedar ongkos memutar saja. Biarlah, toh kali itu kami tak paham betul dengan negeri Bandaraya. Kini kami tak mau tertipu mentah-mentah. Kereta sewa, sila nak berjejer di tempat letak kereta, kami nak mengapa jalan kaki saja, menikmati pedestrian Malaka yang sungguh amat elok tertata sambil tengok kanan kiri mencari hotel yang cocok di hati.

Pilihan hati jatuh ke hotel Al Huda yang memberi tarip sewa bilik RM 120 untuk family. Ini cuma ongkos sewa bilik, jadi jangan harap mendapat suguhan breakfast besok pagi. Tetapi tak perlu khawatir karena persis di sebelah hotel kami ada restoran Melaka Raya yang buka 24 jam dengan menu yang sangat bersahabat dan sesuai selera. Ya, kami serumah tak suka dan tak bisa pedas. Jadi harus memilih dan memilah supaya tak terjerumus pada pilihan yang bikin kepala meledak karena kepedasan. Menu nasi dengan ayam goreng jadi pilihan yang aman. Ditambah sayur tumis taoge maka kami cukup membayar sebesar RM 5. Teh tarik dengan rasa khas sepet campur manis selalu jadi pelengkap minum kami. Roti canai plus telur seharga RM 2 kadang menjadi pilihan lain. Jajanan lainnya yang sungguh sangat eksotis adalah rojak. Mirip gado-gado Surabaya tetapi dengan siraman sambal yang tak terlalu gurih. Sangatlah lezat menurut ukuran kami. Manakala esok hari kami berkunjung ke rumah sahabat Zuraidah di Kuala Lumpur, kami mendapati suguhan rojak pula. Maka kami habiskanlah rojak itu dan ternyata bercitarasa yang jauh lebih lezat dari yang kami beli. Puaslah hati kami.

Di Malaka saya memang sengaja datang pada hari Ahad supaya bisa mendapati keramaian di Jonker Street. Lantaran hari masih sore, maka kami menikmati dulu wahana River Cruise. Yang ini ternyata eksotis, Bray ! kita bisa melihat banyak bangunan kuno yang terawat di sepanjang sungai Malaka seperti di sekitar Kg Kelang  Keren abis! Juga ada rumah adat yang masih terawat elok. Setiap jembatan yang dilalui diberi nama sehingga mudah dikenali,termasuk jembatan Kampong Jawa yang juga berdiri Madarasah Kg Jawa di dekatnya. Sayangnya saya tak sempat ekplore mencari tahu mengapa dinamakan Kampong Jawa. Biarlah ini jadi PR saya, supaya jadi penyemangat untuk nak balik ke Malaka lagi. Hahahaha … Lantaran waktu naik River Cruise sudah sore, maka saat kapal dalam perjalanan kembali semua lampu kota sudah dinyalakan. Owh, bertambah cantik nian kota Malaka. Mirip gadis muda yang bersolek yang tak mau mata berkedip melewatkan kecantikannya. Sorot lampu warna-warni menambah nuansa romantis kota Bandaraya. Aih-aih, ingin hati berpacaran lagi dengan istri sambil duduk berdua di baris depan menjauhi nahkoda kapal, memandang setiap sudut kota dan melambaikan tangan pada tamu cafe yang duduk kongkow-kongkow di sepanjang pinggir sungai. Tak cuma cafe  tentunya karena di ujung sana juga berdiri megah hotel Casa Del Rio bak istana yang menghadap sungai. Hotel yang ini memang amat sangat mahal dan tak sesuai bujet kami, jadi cukuplah dengan mimpi kalau ingin bemalam di sini. Selesailah kami menikmati River Cruise dalam 2 rase, tak kecewalah kalau harus bayar RM 15 per orang.

Selanjutnya kami menuju ke Jonker Street. Pesta jalanan yang cuma  digelar saat week-end. Ramainya pengunjung membuat saling bersenggolan. Ah, Anda pasti spontan menamainya gang senggol. Segala accesories, pernik-pernik dan souvenir di jebreng pada lapak sepanjang jalan. Juga jajanan khas Melayu dalam banyak pilihan. Sedianya kami nak cuba ikut antri mencicipi  di salah satu resto yang terkenal, sayangnya budak-budak kami sudah mulai kecapekan. Maka sudah tak fokuslah pandangan kami. Tak lagi leluasa melirik souvenir yang lucu dan imut. Semuanya pun tak terbeli lantaran dengan tiba-tiba si bontot Dika kebelet pipis. Maka perjuangan kami selanjutnya adalah mencari rest area yang disebut tandas. Cukup jauh kami menemukan tetapi menjadi lega karena sangat nyaman buat rehat sejenak. Banyak spot buat berfoto dan sayangnya i-Phone kami low-bat. Tak bisalah kami mengabadikan keunikan beberapa monumen yang ada. Tak beda dengan di Indonesia, rupanya BAK pun harus bayar. Tak payah lagi menahan pipis meski harus mengeluarkan coin 3 cent.

Jonker Street sudah kami jelajah meski tak banyak kami belanja. Anak-anak sudah minta balik ke bilik hotel. Okelah kalau begitu, tetapi saya berikrar pada anak-anak, besok pagi Bapak nak balik jalan kemari untuk melihat beberapa situs sejarah seperti gereja merah dengan city clock yang mendekorasi di depannya, dan sejenak memfoto  bangunan Hard Rock Cafe yang terbingkai dalam roh Malaka yang bersahaja tetapi berkelas.

Saat mentari di ufuk Malaka, saya tak melewatkan kesempatan berkelana di sekitaran Jonker Street sambil mengamati bagaimana sih kondisinya selain malam hari. Rupanya pagi hari pun sudah banyak pelancong dengan Bus Persiaran yang datang ke beberapa spot, seperti di situs Kincir Air, Malacca Fort dan Christ Church Melaka. Jadi biar pagi, pelancong sudah tumpah ruah. Memang Malaka punya daya tarik yang luar biasa. Pantaslah kalau banyak pelancong yang mengunjunginya. Semua spot didesign menarik. Tak ada yang tak istimewa. Termasuk Jonker Street yang paginya ternyata jalanan umum yang dilalui banyak mobil. Yang cuma saya sayangkan, di dataran Pahlawan yang tahun lalu saya jumpai hamparan luas  rumput hijau dimana semua orang bisa bersosialisasi dengan hangat, saat ini lapangan itu sudah ditutupi oleh pertokoan yang belum selesai pembangunannya.

KELAS INSPIRASI DEPOK: Sebuah Golden Moment

Lepas sholat Subuh, saya sudah terbakar semangat untuk menuju sebuah sekolah di sekitar Depok. Hari ini, saya dan anak-anak kami saling merelakan diri untuk tidak rempong bareng memulai aktivitas pagi sebagaimana rutinitas yang kami jalani. Tiga anak kami sudah mengetahui, Bapak hari ini akan jadi guru di SDN Beji Timur 1. Guru sehari. Sehari yang saya harapkan menjadi golden moment bagi saya dan anak-anak di kelas nanti. Bagi saya, kesempatan sharing ini seolah seperti monumen bersejarah yang mencatat kepedulian saya pada anak-anak masa depan yang kelak berkewajiban mendekorasi bangsa ini dengan kiprah dan karyanya. Bagi anak-anak, tentunya kesempatan ini menjadi luar biasa karena akan bertemu dengan wajah baru yang datang dengan sekeranjang cerita baru, tentang sebuah profesi yang belum pernah mereka bayangkan. Ya, saya akan berdiri di depan mereka untuk bercerita bagaimana seorang Producer di televisi bekerja.

Di mobil, selain sudah tergeletak box besar berisi berbagai wardrobe yang akan menjadi alat bantu dalam simulasi, juga tertumpuk puluhan burung dalam sangkar masing-masing yang nantinya akan dilepas di akhir acara sebagai simbol kalau  langit Indonesia begitu sesak oleh cita-cita tinggi anak Indonesia. Sebenarnya sempat dapat protes dari salah satu anggota Kelas Inspirasi di kelompok kami lantaran burung tidaklah untuk diperjualbelikan. Sungguh kami sepakat, tetapi lantaran memang kami beli untuk kemudian dilepas di alam bebas, maka pilihan ini akhirnya tetaplah diambil. Di dalam mobil, burung riuh saling mengepakkan sayap, Ingin bergegas menikmati kemerdekaannya. Di belakang kemudi, saya sedang membayangkan bagaimana nanti riwehnya menenangkan kelas yang berpenghuni 44 anak yang semuanya aktif dan ceria. Wouwww …

Diawali dengan briefing sesaat oleh ketua kami Pak Azy, pagi ini kami Kelompok 12 langsung beraksi masuk ke kelas. Belum terbayang apa yang akan terjadi. Setelah melewati scene perkenalan, saya mencoba menggali cita-cita yang mereka pilih. Memang masih sangat sempit dunia pilihan mereka, tak jauh dari dokter, polisi, guru dan pemain bola. Ketika saya ajak diskusi tentang berbagai variasi acara di televisi, mereka mulai antusias. Berbagai acara yang mereka sukai disebut satu persatu. Termasuk juga sinetron. Maka saya menegaskan kepada mereka bahwa tidak semua tontonan di televisi itu sehat untuk disantap. Harus membatasi diri bergaul dengan televisi dan menyadari diri sebagai pelajar yang punya tanggung jawab. Hmm, semoga pesan ini lekat dalam benak dan hati mereka.

Lalu, saya mulai memperkenalkan profesi sebagai producer berikut berbagai profesi yang selalu menjadi satu tim dalam kami bekerja: scriptwriter, kameraman, director termasuk beberapa profesi pendukung saat syuting seperti make up artist, lightingman dan audioman. Seperti sebuah paduan yang sempurna dan anak-anak ingin tahu semuanya. Di akhir berbagi cerita tentang profesi, mereka saya persilahkan memperagakan profesi yang disukai. Dengan wardrobe yang sudah saya siapkan, anak-anak makin exciting, bergaya mirip professional sebagaimana kostum yang dipakainya.  Salah seorang siswa kelas 1 yang berminat menjadi seorang pembaca berita, saat sudah siap di depan kamera yang dikendalikan oleh temannya dan producer sudah menghitung countdown: tiga, dua, satu and … action! Tetapi si pembaca berita tak bergeming meski prompter alat bantu baca naskah sudah berjalan.. Rupanya dia belum bisa membaca. Hahhh! Baru kali ini saya menjumpai pembaca berita yang tidak bisa membaca … Ada-ada saja.

Masuk di kelas tiga, kelas empat dan kelas lima sungguh lebih mudah untuk menjelaskan berbagai hal tentang profesi producer. Bahkan mereka sudah lancar membikin script secara langsung di aplikasi prompter pada iPad. Sayangnya, mereka lebih cenderung membuat ulasan tentang problematika selebriti yang lagi memanas misalnya tentang Eyang Subur atau Raffi Achmad. Tak urung saya harus mengarahkan mereka untuk membuat script seputar kegiatan sekolah. Sungguh, tiap-tiap anak sudah menampakkan bakatnya. Yang berbakat menulis, siap menjadi scriptwriter. Yang menyukai gadget lebih memilih menjadi kameraman. Yang suka narsis otomatis siap tampil di depan kelas sebagai pembaca berita. Masing-masing memiliki bakat yang sesungguhnya amat sangat berpotensi untuk terus dikembangkan, yang setidaknya akan menjadi tumpuan cita-cita masa depan.

Dengan metode bermain untuk belajar memang terasa betapa senangnya berada di dalam kelas. Tetapi menjelang akhir kegiatan baru terasa suara sudah hampir habis. Tentu saja terkuras lantaran sejak pagi harus memberi penjelasan dengan volume yang lebih besar untuk biasa mengalahkan kebisingan kelas yang lumayan onar. Hari itu memang milik mereka, sebuah golden moment yang kami harapkan memberi warna baru untuk membuka cakrawala masa depan yang lebih baik. Mudah-mudahan.

Barakallahu fikum

 

 

SABAR

Daya upaya ketika sudah tidak ada lagi daya upaya adalah bersabar

 

 Jakarta tak lebih dari sebuah kota raya tempat kaum urban mencoba uji kesabaran. Tak tersisa puing keramahan, pun di ujung lorong gang sempit yang pengap. Mereka yang datang untuk menakhlukkan impian,  hanya mampu bertahan hidup dalam keterbatasan. Menjadi bagian dari kelompok marginal yang tersisihkan, yang disambangi ketika hak suara mereka dibutuhkan untuk kepentingan kekuasaan dan selebihnya dibiarkan hidup atau mati dengan pilihannya sendiri. Maka sudah tak terhitung warga yang ikhlas menjemput ajal lantaran ditolak beberapa rumah sakit saat berobat. Bocah tanggung kirim SMS untuk menawarkan ginjalnya guna keperluan pengobatan sang ayah. Suami memutilasi istri dan ada tetangga yang tega mencabuli bocah kecil menodai keindahan kehidupan mereka kini dan nanti. Semuanya menjadi catatan tragedi pilu yang miris. Biarkan cukup kami ( baca: kaum marginal ) yang sedih lantaran para elite sibuk mengurus partainya yang porak poranda. Cukup rakyat yang bersabar sambil menunggu munculnya ratu adil yang masih dalam pingitan. Tak ada lagi daya upaya yang bisa digagas meski harapan belumlah pupus. Daya upaya yang bisa dilakukan hanyalah bersabar. Semoga Allah merahmati bangsa ini dan para pemimpinnya.

Sabar akhirnya menjadi sebuah keharusan meski tak harus dalam suasana kritis sebagaimana  ilustrasi tragedi yang mengoyak jiwa tadi. Cobalah Anda melaju di jalan raya dengan bermotor. Yang tak terelakkan, kanan kiri bakal war – wer kemrungsung oleh pengendara motor lain dan pas di depan kita, dalam kecepatan yang makin meningkat, knalpot mereka akan menampar wajah kita. Daya upaya yang bisa dilakukan cukuplah bersabar dan musibah kecil itu akan indah dalam rasa kita. Emosi tak terpancing dan  ujung tujuan segera tercapai tanpa kekesalan yang terpendam. Maka kesabaran ibarat sebuah mahkota jiwa, dengannya kita menjadi lebih lembut dan perkasa dan pantaslah Anda untuk menjadi raja diri sendiri  yang menguasai segala urusan dengan kesabaran, menakhlukkan problema yang muncul dengan kelembutan nan elegan.

Tragedi, musibah dan ujian seperti tamu yang datang tanpa mengetuk pintu. Tiba – tiba saja sudah ada di depan mata dan kita harus menghadapinya. Maka terimalah dengan kesabaran karena tidak ada ujian yang menimpa kita kecuali itu meninggikan derajad dan menambah pahala. Rasulullah pernah berwasiat kepada Ibnu Abbas, ketika kamu sabar atas perkara yang tidak kamu sukai maka disana ada kebaikan yang sangat banyak. Barangkalj kita tergoda bertanya, seberapa banyaknya ? Silakan buka Qur’an surat Az – Zumar ayat 10 dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan, Sesungguhnya hanya orang – orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Pahala tak berbatas memang pantas diberikan untuk orang teristimewa karena kesabarannya yang tak pernah mengeluh, tetap berbaik sangka pada Allah dan menerima dengan ikhlas takdir Allah. Itulah yang dicontohkan Nabi Ayyub Alaihissalam yang tetap sabar meski didera ujian berlapis-lapis. Beliau diuji melalui anaknya, keluarga dan hartanya. Bahkan juga dengan tubuhnya, sebuah ujian yang belum pernah ditimpakan kepada siapa pun. Tidaklah sebentar, 18 tahun lamanya Nabi Ayyub Alaihissalam diuji dengan berbagai musibah hingga keluarga mengusirnya. Beliau tetap sabar dalam menunaikan perintah Allah dan terus menerus bertaubat kepada-Nya.

Mari meneladani Nabi Ayyub Alaihissalam, ujian yang kita hadapi tidaklah seberat para Nabi dan orang – oran terdahulu. Tetap sabar menghadapi musibah karena kesabaran kita kelak akan menjadi cahaya. Jadikan kesabaran itu sebagai kebiasaan sebab kebiasaan akan melahirkan kepribadian. Pribadi yang sabar pada akhirnya tak cuma bersabar di kala tertimpa musibah, tetapi sabar yang diaplikasikan dalam segala arah kehidupan. Sabar memiliki kedudukan yang agung dalam Islam dan bahkan semua urusan berdiri di atas sabar, yaitu, sabar dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala, sabar dalam menjauhi larangan-Nya dan sabar dalam menghadapi mushibah yang dihadapi.

Semoga Allah merahmati kita semua.

Barakallahu fikum.

SELAMAT JALAN SAHABAT KECILKU ( Muhammad Delta Radea )

Hampir 18 tahun saya sudah mengabdi di SCTV. Sangat lama. Ada yang bertanya, kog betah? Banyak yang mengarahkan kondisi ini pada loyalitas sang karyawan, meski sesungguhnya juga tak lepas dari kultur yang dibangun oleh perusahaan. Di Amerika, sangat jarang kita jumpai karyawan yang bekerja sampai begitu lama pada satu perusahaan. Sebaliknya di Jepang, hampir semua penduduknya punya kesetiaan yang tinggi pada satu perusahaan. Hal itu dimungkinkan oleh penerapan kebijakan Total Quality Management ( TQM ) dimana karyawan diposisikan sebagai asset. Itulah yang juga bisa  dirasakan di SCTV. Terbukanya ruang berkarya dan tersedianya kesempatan meningkatkan kompetensi. Antar karyawan terjalin hubungan yang tak cuma kontraktual tetapi juga kontekstual. Kekeluargaan terbangun sangat intens.

Kami begitu welcome terhadap karyawan baru. Tak cuma mentransfer ilmu broadcast, tetapi juga nilai sosial yang telah  terbangun sekian lama. Kami paham, inilah rumah kami. Siapa pun yang tinggal di dalamnya, harus betah. Kerasan. Home sweet home. Karyawan baru tak ditakuti dengan intimidasi hubungan senior-yunior. Mereka dirangkul sebagai bagian dari team sehingga langsung bisa mengikuti akselarasi kerja yang sudah berjalan. Saat mereka pulang ke rumah yang sebenarnya,  pasti akan bercerita tentang kehangatan para seniornya dan kenyamanan di kantornya. Inilah yang dialami sahabat saya Muhammad Delta Radea. Keluarganya telah merespon image positif dari suasana kerja di SCTV. Delta telah bercerita, betapa bahagianya bisa bergabung di SCTV. Tentu saja, keluarganya pun turut senang sekaligus bangga. Meski tergolong baru, tetapi Delta langsung mendapat tempat di hati kami. Tak cuma badannya yang teramat besar, tetapi hatinya juga besar dalam menerima setiap pekerjaan dan penugasan. Semua mengatakan Delta sangat helpfull. Setiap pekerjaan diselesaikan sesuai jadwal. Belum ada complaint yang terdengar tentang kualitas kerjanya. Di luar pekerjaan, hubungannya sangat mesra dengan para senior. Delta memang mencuri hati kami.

Postur tubuh Delta yang overweight sehingga terlihat unik, tentu saja menjadi bidikan kami untuk menjadikannya sebagai ikon. Maka setiap kami berkreasi membuat sebuah video, Delta akan menjadi centre of point dari video itu. Bayangkan seorang Delta yang memiliki berat badan lebih dari 100 kg itu kalau bergoyang mengikuti irama dangdut Iwak Peyek. Dengan luwesnya Delta mempertontonkan gemulai badannya yang glinuk – glinuk, meski di setiap break akan terdengar nafasnya yang ngos – ngosan. Siapa yang tidak tertawa terpingkal – pingkal. Dalam kekhawatiran teman-teman, selalu mengingatkan saya untuk membatasi pengulangan pengambilan gambar atau saya harus sedia ambulance. Bagi saya itu kekhawatiran yang berlebihan. Delta sendiri juga tidak terlalu banyak mengeluh. Semuanya dijalani dengan asyik – asyik aja. Kamera, ekspresi and … action! Maka Delta pun mengulangi lagi goyang gemulai dalam irama Iwak Peyek.

Delta juga pernah tampil sempurna memperagakan break dance ala Michael Jackson secara live saat kegiatan internal. Ibu Harsiwi Achmad, tertawa gembira menyaksikan kelucuannya. Ditambah kekonyolan adegan terjatuh yang seolah – olah Delta tak bisa menahan keseimbangan badannya. Surprise sekali. Di akhir tontonan, kami semua larut dalam sukacita karena repertoar itu makin istimewa cetar membahana, sebaliknya Delta terlihat ngos-ngosan dengan keringat yang membasahi raut mukanya. Alhamdulillah, kami tak membutuhkan ambulance.

Ah, keisengan apalagi yang akan kami tujukan kepada Delta. Sungguh, diperlakukan apapun seorang Delta tak juga bersungut, apalagi marah besar. Teman-teman yang memanggilnya Panda, diterimanya dengan besar hati, seolah itulah panggilan sayang untuknya. Meski saya kadang mengira ini bisa jadi olok – olok teman – teman karena badan Delta yang segedhe Panda tetapi terlihat imut. Justru dari teman cewek yang secara terbuka memberikan panggilan mesra Tata. Dengarlah saat di lift, semua cewek yang ada di dalamnya akan menyapa dengan panggilan manja …. Tataaa. Anda pasti ngiri. Delta akan menanggapinya dengan senyum hangat. Sayangnya, di antara banyak cewek itu, belum satupun yang bersandar di hati Delta. sesekali dia mencoba mendekati di antara mereka sambil berbisik, kenalin dong! Gue masih jomblo loh …

Potensinya yang mudah berbaur dengan semua orang, itulah yang akhirnya menjadikan Delta terpilih sebagai ketua pelaksana kegiatan outing divisi COAP. Delta yang baru bergabung satu tahun, langsung diberi kepercayaan mengendalikan acara bersama untuk refreshing keluar kota. Subhanallah, ternyata dengan koordinasi yang intensif acara itu sukses dengan meninggalkan kesan yang mendalam. Di acara itulah saya menggagas sebuah roll play dengan target Delta untuk mengukur kekompakan seluruh peserta. Di acara kumpul bersama malam hari, saya mengajak mas Ponang Praptadi selaku kepala divisi, mas Yudhi yang menjadi pembawa acara, mas Nurman sebagai atasan Delta dan mas Slamet untuk mempersalahkan Delta dengan alasan yang tentunya kami buat – buat tetapi masuk di akal.  Yang terjadi memang seperti yang kami harapkan, semua memberikan pembelaan pada Delta. Betapa marahnya teman-teman pada saya yang begitu serius memojokkan Delta. Bahkan ada yang mau teriak lantang memprotes keras. Pada saat mas Yudhi membalikkan keadaan untuk memberikan applaus meriah pada Delta, semua sontak teriak gembira. Lega kalau itu cuma sebuah skenario rekaan. Bahagianya kami yang telah membuktikan kekompakkan dalam satu tim. Dan Delta pun harus rela ditaburi bedak oleh siapa saja yang mau melakukan. Beberapa teman menghampiri saya sambil berkata, untung loh nggak perlu memanggil ambulance buat Delta.

Seminggu lalu, pesanan jaket yang sedianya dipakai outing baru jadi. Delta pun dengan sigap langsung mendistribusikan jaket itu ke semua teman. Di sela hiruk pikuk pembagian jaket, kami sempatkan berfoto bersama sambil memamerkan jaket yang semua bilang keren. Pose photo itu Delta secara tak sengaja berada pada centre of point di antara kami. Delta persis di tengah – tengah kami. Seusai membagikan jaket sore itu, Delta berujar pada salah satu teman kalau semua tugasnya sebagai ketua pelaksana outing sudah paripurna, sudah berakhir. Malam harinya Delta ingin memberi kejutan pada kami mengganti semua wall paper di ruangan edit dengan fotonya. Lantaran merasa tidak enak, beberapa diurungkannya. Sesaat Delta masih terlihat membantu Yoditha yang harus menyelesaikan editing promo. Dan masih cukup “sore”, Delta pun bisa pulang, karena memang biasanya dia pulang larut malam.

Esok hari menjelang makan siang, Delta baru datang. Saya sempat menemuinya menyampaikan pesanan jaket outing tambahan untuk seorang kawan. Kemudian dia membicarakan pekerjaan dengan mas Nurman dan penggajuan permohonan cuti sebab berencana berlibur ke Jepang bersama kakaknya. Sesaat kami ke masjid untuk sholat dzuhur berjamaah dan Delta menuju ruang edit. Lantaran ruangan masih terpakai, maka   dia cuma berdiri di belakang Danumurti editor yang bertugas, berpegangan sandaran kursi. Delta hanya membooking, mau memakai ruang edit jika sudah selesai. Selepas menyampaikan keperluannya itulah tiba-tiba saja Delta terjatuh. Danu mengira Delta bercanda, tetapi langsung bereaksi memberikan pertolongan ketika tahu bahwa Delta pingsan. Maka semua yang ada di lantai 10 memberikan bantuan sebisanya. Ada yang mencoba menyadarkan dengan minyak kayu putih, ada yang berusaha kontak dokter, mencari tandu dan mencoba menghubungi ambulance dari rumah sakit terdekat. Kali ini, Delta benar – benar butuh ambulance. Sudah hampir 30 menit kondisinya belum pulih. Bahkan makin terlihat pucat. Setelah datang tenaga medis dari RSPP, maka dilakukan pemberian oksigen. Diputuskan agar Delta segera dibawa ke rumah sakit untuk pertolongan lebih lanjut, dengan ambulance RSPP. Beberapa teman mendampingi dan kami menunggu di kantor dengan perasaan cemas tetapi bibir tak kunjung berhenti untuk terus melafazkan doa keselamatan dan kemudahan bagi Delta. Selang 10 menit, kabar pertama diterima oleh mas Nanang dari Abel, Delta tidak tertolong.

Saat itu semua yang ada di ruangan breakout terkejut tetapi saya sarankan agar tetap tenang. Saya meminta mas Alex supaya menelpon mas Nurman untuk lebih memastikan kabar duka itu dan benar adanya, mas Nurman memberikan jawaban bahwa menurut dokter Delta memang sudah tidak bernafas lagi. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Semua yang ada di sekitar saya terlihat matanya berkaca-kaca, dibasahi kesedihan yang melangut. Bahkan Dita hingga menangis merengek. Memang kami harus ikhlas karena kali ini kembali kehilangan seorang teman kerja, kawan baik, sahabat dekat dalam keseharian. Muhammad Delta Radea.

Nyaris tak percaya, seorang teman yang beberapa menit masih bersama kita, tiba – tiba harus pergi untuk selamanya. Seorang kawan baik yang benar – benar baik, yang suka menolong, suka bercanda dan penuh tanggung jawab pada pekerjaan. Delta telah merampungkan segala tugasnya sebagai ketua pelaksana outing, sehari sebelum ia meninggal dunia, seolah telah mengakhiri kehidupannya dengan baik dan  kebaikan. Semoga khusnul khotimah. Delta tak cuma pergi bahagia ke negeri Jepang seperti rencananya cuti, tetapi jauh lebih bahagia ke negeri damai nan abadi menemui Sang Khalik. Di usia yang ke-31, memang terasa sangat singkat perjalanan hidupnya. Tetapi itulah takdir. Dalam canda kicaunya di tweeter yang di tweet pada tanggal 4 Januari, Delta berkata, “hidup ini singkat, yang kelamaan ngejomblonya….”

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan hidup sahabat kecilku Muhammad Delta Radea. Bahwa sesungguhnya kita juga akan menyusulnya terbaring damai dalam kebaikan yang kita berikan dalam kehidupan ini. Semuanya hanya tinggal menunggu waktu.

Barakallahu fiikuum.

9 CM

Simpang Lima, Semarang

Kami sekeluarga sedang tergoda sensasi nasi kucing lesehan. Ramai sekali sehingga duduknya  pun umpel-umpelan dengan pengunjung lain. Selagi menikmati citarasa nasi kucing yang sebenarnya biasa saja, asap ngepul tersembur dari belakang saya. Ah rupanya ada yang sedang menyalakan batang nikotin. Aku terganggu dan segera berpindah tempat. Kubiarkan adek Dika tertinggal meski dia sedang saya suapin. Baru saya duduk, tak kusangka, Kak Ais melontaran peringatan, ” Bapak, adek Dika tuh … Ntar sakit. ” Subhanallah, betapa pedulinya sang kakak pada adeknya. Tetapi sungguh, lebih dari itu, saya mengapresiasi kesadaran Kak Ais yang begitu mengkhawatirkan atas resiko menghisap asap nikotin dari sebatang gulungan tembakau yang terbakar. Semoga inilah buah nasihat saya kepada anak-anak kami. Selama ini tak henti – hentinya kami mendoktrin mereka untuk menjelaskan bahwa gulungan tembakau itu tidak sehat, tidak baik dan dilarang keras untuk mendekatinya!

Kekhawatiran saya sangat berlebihan dan rasanya memang harus begitu. Betapa lingkungan itu berpengaruh besar sehingga tanpa membentengi anak – anak dengan pemahaman yang tepat, maka mereka akan sangat mudah termakan oleh pengaruh lingkungan. Lihatlah di jalanan, anak sekolah dengan seragam biru putih saja sudah kebal kebul petentang petenteng sok gaya. Seolah menjadi manusia paling gagah seperti artis yang diidolakannya di film Hollywood. Dia sedang lupa siapa dirinya dan sama sekali tak teringat kalau bapaknya sedang jungkir balik bekerja keras membanting tulang demi penghasilan yang kecil sekali. Terus semua orang harus bilang wow, gitu? Jangan diharap, Nak. Kamu nggak jadi digdaya biar di antara telunjuk dan jari tengah terselip berhala kecilmu, tuhan 9 cm – mu kata Taufik Ismail. Tidakkah kau tahu, ada 4000 zat kimia beracun pada sebatang ramuan tembakau yang kau nikmati itu. Kalau bapakmu memang pecandu, maka jangan kau tiru, jangan kau ikuti. Bapakmu, dan jutaan orang yang semuanya semaunya sendiri kebal kebul dimana-mana itu – di ruang tamu, di kamar tidur, di WC, di halte bis, di angkot, di  warung makan – sesungguhnya mereka itu terbius kesadarannya oleh nikotin sehingga mengalahkan ketajaman fikirnya. Kepekaan hatinya melambung bersama asap yang mengepul dari moncong hitam bibirnya. Mulutnya bau seperti asbak dan hidungnya bak cerobong asap pabrik yang mengeluarkan polusi paling membahayakan lingkungan. Benarlah kata Hobbes, homo homini lupus, manusia adalah srigala bagi manusia lain. Betapa menderitanya anak-anak dan para istri, di rumah yang pengap itu suaminya nggak berhenti juga mengasapi keluarganya dengan aroma tembakau yang amat sengak. Sang bapak sedang menjadi srigala bagi istri dan anaknya. Meracuni dengan asap nikotin yang memuakkan. Taufik Ismail pun dalam puisinya  dengan jeli mendeskripsikan kalau Indonesia adalah semacam firdaus – jannatu – naim sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup –  hidup bagi orang yang tidak merokok.

Rokok memang diam – diam telah menguasai kita. Di tengah kesibukan kerja, sempat-sempatnya mencuri waktu meninggalkan meja kerja hanya untuk alasan mulutnya kecut. Ijin sebatang dua batang meski nyatanya berjam-jam keasyikkan ngobrol. Saat sujud, sholat tidak jarang dari saku pria dewasa meluncur terjatuh sebungkus rokok. Aduh, makanya mengaji dong biar makin mantap menerima hukum subhat rokok yang jelas – jelas mengganggu kesehatan. Kalau masih ada Ustadz yang ahli hisap ( bukan hisab ) maka perlu dilabeli tanda tanya besar karena Qur’an tidak diamalkan secara utuh. Ini musibah besar. Sementara kalau dalam kajian ustadz-nya menghukumi rokok adalah haram, kita jadi ngambek dan nggak mau ikut mengaji lagi. Bukannya tersentuh malah sebaliknya tersinggung. Hukum agama dipilih berdasar yang disukai, bukan bersandar pada yang benar. Semoga negeri ini dilimpahkan kebaikan sehingga tumbuh kesadaran kolektif untuk memahami bahayanya sebatang rokok yang cuma 9 cm itu, yang selanjutnya meninggalkannya. Sungguh ini perkara yang sangat bisa dilakukan. Teman sekantor saya, banyak yang dulunya perokok berat, tetapi hari ini sudah tidak lagi tergantung oleh bius nikotin. Mereka telah berhasil memotong mata rantai merokok yang turun temurun dalam keluarga. Sekarang sudah tak ada lagi yang dicontoh oleh anak-anaknya. Terhapuslah  kebiasaan buruk dalam keluarga. Pernah juga suatu ketika tetangga saya berujar, alhamdulillah Pak, keluarga saya semua merokoknya Djie Sam Soe, jadi gampang kalau kehabisan. Gundulmu! dalam hati saya memprotes. Apanya yang alhamdulillah. Jangan kau nodai makna suci syukur itu dengan hawa nafsumu yang membara. Silakan bakar uangmu terus dan mata rantai itu akan tetap tersambung dalam keluarga. Maka butuh keberanian yang kuat agar anak dan keturunan kita tak lagi menyentuh batang tembakau ini. Mengapa dalam setiap kemasan rokok selalu ada peringatan kesehatan, itu karena adanya kandungan bahaya yang mengancam. Iklan rokok di televisi pun waktu tayangnya dibatasi, materi iklannya diatur secara soft sell sehingga tak berdampak langsung pada anak. Ruang gerak yang terbatas untuk menghadang dampak buruk yang meluas.

Peringatan sudah di depan mata, maka bahaya apa lagi yang masih akan kita abaikan dari tuhan 9 cm itu ? Buka mata penglihatan kita agar tak buta mata hati kita. Saatnya semua berikrar untuk hidup sehat. Sehat bagi diri sendiri, bagi keluarga dan bagi lingkungan. Sehat tanpa tembakau selamanya.

Barakallahu fikum.

 

SAHABAT

Saat ditanya siapakah orang terdekat kita selain keluarga, banyak yang menjawab dialah sahabat. Seorang sahabat, bahkan seringkali sudah seperti keluarga sendiri. Ketika  sedang terbentur problema, kita lebih terbuka berkeluh kesah pada sahabat ketimbang keluarga untuk sekedar menjaga agar tidak merusak stabilitas wilayah domestik rumah tangga. Seolah sahabat adalah barikade kokoh dalam menghadapi keruwetan diri. Sewaktu kita bicara, orang lain barangkali cuma mendengar, tetapi seorang sahabat tak sekedar mendengar, dia  justru ikut merasakan dengan hati. Itulah sebabnya saya sepakat ketika seorang kawan di FB menuliskan status ” sahabat bukan hanya mereka yang telah berada lama di sampingmu, tetapi mereka yang telah lama berada dihatimu ” ( Novi Kartika ). Penjelasan lama, menegaskan bahwa menjalin persahabatan bukan sebuah proses yang instant. Butuh waktu panjang untuk membangunnya, berawal dari kepedulian, pengertian dan kepercayaan.

Sahabat adalah kebutuhan jiwa, begitu Kahlil Gibran melukiskannya. Sahabat seolah bayangan kita sendiri, meski tak tampak tapi terasa begitu dekat. Kehadirannya menyatu dengan hati kita dan selalu menjaga hubungan yang telah menyatu itu. Manakala Anda bercerita sebuah kebahagiaan, dia tidak lantas menimpali dengan kalimat ” cieehh .. “, karena dibalik cieehh ada kecemburuan. Sahabat tidak kemudian berkata ” terserah … ” pada hasrat kita terhadap suatu obsesi, karena di balik terserah ada keinginan. Seorang sahabat sadar betul untuk tidak berkata ” ya udah … ” sebab dibalik ya udah  ada kekecewaan yang tertinggal. Tutur kata sahabat selalu mempertimbangkan dampak psikis pada kita dan tak lain yang telontar selalu menyejukkan dan mendamaikan. Sungguh, seorang sahabat paham betul dan tidak rela menciderai hubungan persahabatan. Kalaulah kehidupan begitu tidak bersahabat, maka bersyukurlah kita masih memiliki sahabat, dia akan menjadi pembangkit energi agar semangat kita terus membara menghadapi kesulitan hidup dan makin terasa bahwa sahabat adalah kebutuhan jiwa.

Sahabat adalah cermin diri. Padanya kita melihat siapa sejatinya diri kita. Kebaikan atau keburukan seorang sahabat akan mendekorasi watak kita. Itulah sebabnya kita tidak bersahabat dengan sembarang orang. Ada proses seleksi yang sangat ketat untuk menempatkan seseorang di hati kita. Manakala kita merasakan ada sosok yang mampu mengisi sisi kekurangan kita, saat itulah kita bertekad untuk menjadikannya sebagai sahabat. Sahabat yang baik itu mirip penjual minyak wangi, semerbak harum yang dibawanya akan kita rasakan dan bahkan turut mengharumkan badan kita. Sahabat hafal betul dengan gelora dan irama yang ada di hati kita. Ketika kita tidak pada irama itu, sahabat akan buru-buru untuk mengingatkan. Sahabat tak akan rela ketika kita tidak menjadi diri sendiri. Sahabat akan selalu menginginkan yang terbaik dari setiap keberadaan kita. Dia tidak akan mendengar celoteh orang lain tentang kita sebelum dia melihat sendiri dengan mata kepala dan tidak akan berkata tentang kita sebelum hatinya benar – benar merasakan tentang kita yang sebenarnya. Karena sahabat memang ada di hati kita.

Begitu banyak deret kebaikan dari seorang sahabat, tetapi sering kita lalai untuk memberikan apresiasi padanya. Meski sesungguhnya sahabat tidak menginginkan itu. Ketulusan telah melatari semangatnya dalam berinteraksi. Padanya kita berharap untuk selalu memperhatikan kita, tetapi sebaliknya sikap kita sendiri memprihatinkan dengan tidak memberinya perhatian. Alangkah miskinnya jiwa ini. Maka mari segarkan nilai persahabatan yang sudah kita bangun. Siapkan kejutan kecil untuk sahabat sembari katakan padanya bahwa keberhasilan yang Anda raih saat ini juga karena dukungannya, sebab nasihatnya atau mungkin juga atas doanya. Saatnya sahabat ikut menikmati keberhasilan itu. Dan jangan lupa untuk juga mendoakannya dalam setiap munajat yang kita tengadahkan ke hadlirat Illahi. Anda dan sahabat sudah sepantasnya untuk sama – sama bahagia pada titik yang segaris.

Barakallahu fiikum.

 

TAUBAT

Tidak ada yang pasti dalam kehidupan seorang manusia kecuali kematian, titik kulminasi perjalanan hidup yang amat ditakutkan banyak orang. Kematian dianggap akhir kebahagiaan, paripurnanya sebuah lakon. Tak ada lagi yang bisa dimainkan di dunia, tak tersisa lagi kenikmatan yang bisa dicicipi. Yang terlihat hanyalah jazad tak berdaya dikubur bumi, meski raga itu dulunya adalah makhluk yang bergaya diatas bumi. Prosesi kematian di depan mata, tetapi tak banyak yang bisa mengambil manfaat. Meregangnya nyawa seseorang tidak dijadikan pelajaran dan peringatan. Selepas mengubur jenazah, para pelayat kembali memburu dunia mengejar materi. Cinta dunia lupa akherat sehingga pembicaraan soal kematian adalah momok menakutkan yang kerap dijauhi. Sungguh, ajal sewaktu – waktu datang dan tidak lagi menunggu taubat.

Kehidupan dunia hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Itulah yang dikiaskan Allah Azza wa Jalla dalam QS. Al Hadid ayat 20. Bukankah permainan adalah sesuatu yang mengasyikkan tetapi sangat melalaikan. Lihatlah mereka yang terbius game online, berjam-jam waktunya habis untuk permainan tertentu, tetapi sesungguhnya mereka tak mendapat apa-apa selain waktu yang tersia-siakan tanpa manfaat, lalai dan bahkan meninggalkan kewajiban yang lebih utama semisal sholat dan ibadah lainnya. Itulah dunia yang penuh tipu daya yang sewaktu – waktu akan kita tinggalkan manakala ajal menjemput. Ingatlah, tak ada tamu yang paling menakutkan kecuali ajal. Dan tak ada berita yang paling jujur selain kematian. Kematian adalah ujung perjalanan kita di dunia. Amatlah tragis ketika pada situasi yang ditakutkan ini, ketika nafas tersisa di ujung tenggorokan, ternyata kita belumlah bertaubat. Maka bersiaplah untuk merasakan kengerian di persinggahan pertama menuju akherat, alam kubur.

Taubat itu artinya kembali, yang hakikatnya adalah menyesali kesalahan masa lalu dan berazam untuk tidak mengulangi. Maka seandainya Anda pernah tergelincir pada suatu dosa, bersegeralah untuk bertaubat dengan rasa sesal terdalam dan dibarengi tekad kuat untuk tidak terjatuh lagi dalam kesalahan yang sama, yang dibuktikan oleh hati, lisan dan perbuatan. Taubat dengan ikhlas, bukan taubat lalu kumat kemudian taubat lagi berulang – ulang hingga orang lain memberi label Anda tomat merah, tobat kumat mengulang sejarah. Maka agar itu tak terjadi, pandanglah besar setiap kesalahan kecil dan sebaliknya anggaplah kecil sebuah kebaikan besar yang Anda lakukan. Penyikapan untuk membentengi diri. Dengan begitu, kita akan merasa ringan dan senang untuk melakukan sebuah amalan yang sejatinya teramat berat. Tetapi karena kita memandangnya hal kecil, maka hati dan fikiran akan melakukannya dengan mudah.

Taubat adalah perkara yang amat mudah, jauh lebih mudah dari Anda mengurus KTP. Lafaskan istiqfar sambil berbaring, saat mengendarai motor atau manakala mengingat segala kesalahan Anda, maka ampunan Allah akan tercurah untuk Anda. Tak perlu harus memakai kemeja dan pakaian rapi sebagaimana mau mengurus KTP. Sungguh, hak Allah dibangun di atas segala kemudahan, sebaliknya terlihatlah bahwa hak manusia disusun di atas segala kerumitan yang berbelit – belit. Buktinya, saat Anda meminta maaf pada seseorang, betapa Anda harus mendekatinya dengan tatakrama yang serba diatur. Apalagi yang harus kita pertimbangkan, bersegeralah bertaubat agar meraih pintu khusnul khatimah. Basahi selalu bibir kita dengan istiqfar, kapan pun dan di manapun karena kita tidak pernah tahu turunnya ampunan Allah. Dan jangan pernah meremehkan dosa, sekecil apa pun dosa itu. Yang salah tetaplah salah dan jangan berdalih. Kemukakan dalil yang shahih maka akan terbuka sebuah kebenaran. Membiasakan kebenaran untuk dijadikan penyemangat ibadah, jangan membenarkan kebiasaan. Kebiasaan beribadah yang tidak berpangkal pada contoh dari Rasul dan para sahabat pasti akan tertolak. Inilah yang masih banyak terjadi di sekitar kita. Memurnikan ibadah adalah perkara yang sangat penting untuk saat ini dan itu menjadi pintu diterimanya taubat kita.

Sebelum ajal tiba, mari bertaubat. Menggapai ampunan Allah, mencapai akherat dengan selamat.

Barakallahu fikum.

 

Disusun kembali dari materi kajian Ust. Zainal Abidin,L.c dengan tema “Ajal Tidak Menunggu Taubatmu”

JOKOWI : The Indonesian Idol

Di masa TVRI dulu, betapa kita jengah ketika di depan televisi dipaksa untuk melihat acara yang meliput berbagai kegiatan pemerintahan. Peresmian sebuah waduk raksasa di desa terpencil yang menjadi solusi kekeringan sepanjang tahun, penanaman padi varietas unggul tahan wereng, panen raya yang mendukung swasembada beras dan ketahanan pangan atau bahkan pembukaan MTQ tingkat nasional. Tak ada pilihan. Toh kita tetap saja di depan televisi menyaksikan pemotongan pita, pemukulan gong dan pembunyian sirine tanda secara resmi sang pejabat tinggi siap menunjukkan sebuah prestasi besar yang patut dibanggakan. Memang tak ada pilihan, televisi yang diharapkan pemirsanya memberikan hiburan segar, sedang dialihkan fungsinya untuk menyempurnakan pencitraan bahwa pembangunan terus dilaksanakan untuk rakyat.

Merebaknya TV swasta memberikan pilihan bagi pemirsa untuk menyaksikan hiburan yang disukai. Sudah barang tentu, TVRI yang tadinya menjadi antena pemerintah dalam mempublikasikan berbagai kegiatan pembangunan daerah mulai ditinggalkan. Remote TV segala – galanya dan penentu akhir nasib sebuah channel. News Program TVRI semacam Berita Nasional yang ditayangkan pukul tujuh malam dan Dunia Dalam Berita yang hadir pukul sembilan tak lagi menjadi pembaharu informasi pemirsa karena tayangnya aksi genius McGiver atau gelora cinta Melrose Place jauh lebih menarik. Semakin hari, ragam hiburan yang disuguhkan televisi swasta makin istimewa. Bahkan hingga hari ini. Dinding pemisah makin menebal untuk sekedar melihat kiprah pemerintah yang tadinya narsis mempertontonkan sumbangsihnya bagi rakyat. Pemirsa bergeming untuk tak mau tahu, apatis. Apalagi menjumpai kenyataan tradisi korupsi berjamaah oleh oknum pemerintahan.

Tetapi hari ini, setelah lebih dari dua dekade pemirsa meninggalkan kebutuhan informasi terhadap kegiatan pembangunan daerah dan kiprah pemerintah sebagaimana era TVRI dulu, maka tampak sebuah perubahan besar yang sangat signifikan dimana justru pemberitaan kiprah pemprov DKI tak lepas dari sorotan mata. Siapa lagi kalau bukan pasangan Jokowi dan Ahok. Setiap hari, semua pemberitaan TV swasta selalu diisi kegiatan mblusukannya Jokowi dan sebaliknya Ahok yang menyadari kekuatan social media, memanfaatkannya dengan mengunggah semua kegiatannya di youtube. Kiprah keduanya menjadi konten penting, bahkan untuk program infotainment yang tadinya adalah ekspose kehidupan artis selebrita yang nggak penting banget. Di Youtube, agenda Ahok menerima paparan berbagai kepala dinas, sampai dilihat oleh 100.000 pengunjung lebih. Kekaguman dan dukungan tertuang dalam komentar pengunjung. Bahkan ada yang merasa seakan ” jadi gila ” oleh keterbukaan kegiatan Jokowi – Ahok berikut keputusan – keputusan yang sangat memihak rakyat. Memang semua warga DKI akhirnya harus bilang WOW sambil koprol kegirangan mendapat pemimpin sebagaimana sudah lama diidolakan.

Teman – teman saya di kantor pun, tampaknya terimbas penyakit menular Jokowi addict. Tak cuma sekedar menyaksikan di televisi, tapi juga membawa beritanya dalam diskusi kecil. Bahkan seorang teman yang samasekali tak pernah percaya pada konten politik program current affair karena semuanya mirip skenario sinetron, saat ini justru paling getol mengikuti mblusukannya Jokowi. Program dialog yang membahas Jokowi – Ahok, juga mendapat perhatian pemirsa di luar DKI. Gaya kepemimpinan keduanya, rupanya menjadi banchmark tuntutan di daerah bahwa pemimpin harus mengenal rakyat dan tahu kebutuhannya, tegas, terbuka, berani, memihak rakyat, efisien memakai uang rakyat dan siap berkorban.

Maka saat ini Jokowi adalah The Real Indonesian Idol. Sebenar – benar idola yang dijadikan inspirasi, semangat dan ukuran menuju Indonesia Baru. Semua mata akan terus tertuju padanya sekaligus berfungsi mengawal kinerjanya. Sorotan itu seolah sebuah kesepakatan bahwa masyarakat  berharap agar Jokowi tetap pada track-nya, yaitu kritis tetapi tetap humble. Dekat pada rakyatnya dengan terus mblusukan ke gang – gang sempit yang kumuh dan bau. Tetap menghirup aroma kemiskinan di sekujur tubuh DKI sambil kemudian mengangkat perlahan borok itu agar tak akut.

Jokowi memang idola Indonesia saat ini. Semua pendukungnya bahkan berharap ke depan nanti, Jokowi bisa duduk di kursi kepresidenan. Sebuah spekulasi yang akan dijawab sendiri oleh Jokowi lewat kepemimpinannya sebagai gubernur DKI.

Selamat bekerja Pak Jokowi. Semoga Anda selalu dimudahkan dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang teramat pelik di Jakarta ini.

Barakallahu fikum.

SURAT INDAH UNTUK AYAH

Yang terhormat para Ayah !

Apakah Ayah merasa ketika sedang berada di rumah maka anak – anak lebih memilih bermanja pada Anda ? Coba diingat, saat makan mereka memilih untuk disuapin Ayah, karena bersama Ayah bisa makan sambil main – main. Lebih dari itu anak – anak juga mengaku polos, kalau makan sama Ayah lebih enak soalnya boleh nggak pakai sayur. Mama selalu maksain ditambah sayur dan mesti duduk di meja makan. Maka munculllah kecemburuan kecil di dalam rumah. Adanya treatment yang berbeda antara Mama dan Ayah kepada anak – anak. Saya yakin, para ayah tentu tak ingin menciptakan standar ganda di dalam rumah. Sungguh, para Ayah dengan segala kesabarannya ingin sedikit memberi ” bonus ” buat anak – anaknya karena betapa bahagianya anak – anak itu saat diberi keleluasaan untuk sedikit menikmati ” kebebasan ” sesaat di kala tidak dalam monitoring sang Mama.

Dengan segala kesabarannya, saat libur memang para Ayah rela mendedikasikan waktunya untuk anak – anak sementara Mamanya bekesempatan ” libur ” dari rutinitasnya sebagai pengasuh. Inilah hari happy sedunia buat anak – anak kita. ” Ayah, yuk kita main pistol air ! ” rengek anak – anak. Kemudian mereka melanjutkan complain-nya, ” Habis Mama nggak bolehin. Kata Mama ntar masuk angin kalau basah – basahan. Yuk Ayah, aku pistol air yang biru, Ayah pakai yang warna merah ” Ahh, seperti sebuah repertoar yang indah yang kita alami di rumah. Bagaimana Ayah bisa menolaknya. Belumlah Ayah bisa menjelaskan alasan mengapa sang Mama melarang, anak – anak sudah keburu menembakkan pistol airnya sambil tertawa cekikikan. saling berkejaran, sesekali ngumpet dan kemudian ngagetin dengan tembakan yang bertubi – tubi. Memang basah. Tak bisa dipungkiri. Tapi terselip kebahagiaan yang memuncak pada anak – anak kita. Repertoar ini akan terus berlangsung hingga di kamar mandi. Saling mengguyur antara Ayah dan anak. Bahkan hingga main sabun berbuih – buih, yang tentu ini bagian yang dilarang oleh Mama karena pemborosan.

Yang terhormat para Ayah !

Pernahkah Ayah merasakan kecemasan anak – anak di penghujung week end Anda ? Bisa jadi para Ayah menganggapnya ini perkara kecil, celoteh yang sambil lalu karena seolah tak memberi impact dan perubahan besar pada rutinitas sang Ayah. Yahh, sambil belajar dan bahkan ketika hendak tidur, anak – anak selalu menitipkan harapan supaya Ayah yang menjemput mereka sekaligus  menemani bermain di kala pulang sekolah. Kesannya mereka sangat menginginkan punya waktu banyak bersama Ayah. ” Kenapa Ayah kerjanya jauh sih ? Kerjanya di rumah aja. Biar kita bisa main lagi … !!! “. Sungguh, hati siapa yang tak tersentuh, apalagi rengekan ini nyaris selalu terlontar di akhir pekan. Permintaan anak – anak ini tentu tak main – main. Dalam kedekatan dan kebersamaan dengan Ayah, anak menangkap figur seorang pahlawan, seorang sahabat dan seorang pemimpin. Kedekatan bersama ayah, sesungguhnya akan turut membangun karakter sang anak sehingga ia akan juga belajar bagaimana menjadi seorang pahlawan, sahabat dan seorang pemimpin.

Yang terhormat para Ayah !

Seiring berjalannya waktu, masa indah anak – anak kita akan berlalu dan kita tak bisa kembali berbalik ke sana. Dengar celoteh mereka, wujudkan mimpi mereka. Saatnya para Ayah mulai mempersiapkan sebuah usaha yang bisa dikelola di rumah dan dari rumah. Bayangkan nanti betapa bahagianya anak – anak kita bersepeda sore hari sambil teriak memanggil ayah di depan rumah. Semoga Allah memudahkan jalan usaha untuk para Ayah.

Barakallahu fikum.

JOKOWI, Wani Piro?

Hari – hari terakhir ini dan akan ke depan lagi, bahwa perbincangan semua orang tak terlepas dari sebuah nama Jokowi.  Sosok yang sangat fenomenal, yang dengan kesadarannya ingin ikut memberikan perubahan besar pada tatanan negeri ini. Jokowi sesungguhnya hanyalah hendak menjalankan sebuah garis takdir dengan caranya sendiri, apa adanya dan ora neko – neko. Justru pada titik inilah Jokowi memberikan pembelajaran pada kita, pada pemimpin kita dan pada bangsa ini. Betapa banyak di antara kita yang sudah mendapat kesempatan untuk menjadi pemimpin tetapi kemudian lupa siapa dirinya dan dimana ia berada. Tiba – tiba saja kehilangan fitrahnya sebagai manusia. Dia terbelenggu oleh fitnah kekuasaan yang sedang digenggamnya. Lupa diri lupa daratan. Amnesia. Seolah dia tengah meneruskan transaksi jual beli atas sebuah kekuasaan. Maka dia tak ingin rugi. Praktik kekuasaan dijalankan dengan pamrih materi sehingga sangatlah lazim diselesaikan dengan wani piro. Inilah realita yang ada di tengah kita sehingga sebuah iklan komersial berhasil mengemasnya secara satire dan makin menyadarkan kita fenomena wani piro pada birokrasi pemerintahan.

Jujur, saya sendiri terlambat mengenal sosok Jokowi. Baru ketika meledak berita mobil esemka, saya mulai mengikuti kiprah Jokowi sedikit demi sedikit. Dari setiap kehadirannya, tertangkap kesan Jokowi yang sangat humblesederhana dan rendah hati. Tak terkesan kemewahan layaknya label para selebrita yang haus popularita.  ” Ini figur pemimpin yang keren “, saya menggumam dalam hati. Bagaimana perjuangan dan pengorbanannya memberikan ruang hidup bagi anak bangsa yang mengukir prestasi lewat konstruksi mobil esemka. Banyak status di FB kala itu memberikan pujian dan sanjungan pada Jokowi. Maka saya menangkap kesan, pemimpin seperti inilah yang sebenarnya diharapkan oleh masyarakat. Pujian dan sanjungan yang memang sudah sepantasnya diarahkan padanya. Bagaimana tidak, ketika di daerah lain pemindahan pasar selalu diwarnai keributan, di tangan Jokowi ratusan pedagang kaki lima bisa manut direlokasi  di lapak baru. Nggak pakai debat nggak pakai ribut. Wow, ini pasti orang hebatsuper sekali, sekedar meniru gaya Mario Teguh.

Tak bisa dipungkiri, maka Jokowi telah berhasil mencuri perhatian siapa pun. Jokowi menjadi pencuri ulung yang berhasil meresahkan banyak orang. Lihatlah di setiap sudut semua orang membicarakannya dalam sanjungan, membahasnya dalam pujian. Dengan gaya kepemimpinannya yang out of the box, sudah pasti seorang Jokowi telah menjadi breakthrough karena mengimplementasikan gaya kepemimpinan yang unik, yang cuma segelintir orang saja melakukannya karena berpijak pada personality. Gaya kepemimpinan Jokowi bukanlah model konvensional yang memposisikan diri sebagai seorang atasan dan seorang penguasa yang cuma punya satu kata kunci wani piro supaya semua urusan beres. Sebaliknya seperti apa yang disampaikan sendiri, justru pemimpin baginya adalah buruh. Pelayan bagi masyarakat. Oleh karenanya Jokowi tak pernah canggung  jika makan di warung. Bahkan sudah terbiasa. Suasana yang egaliter terbangun, di perkampungan kumuh, warung tegal, di pasar tradisional dan lapak – lapak kaki lima. Saat – saat seperti inilah Jokowi menghirup aroma keinginan warga sebagai bentuk aspirasi dan mengendapkannya dalam program yang akan dijalankan.

Lantaran itu semualah Jokowi pada akhirnya menjadi pencuri hati jutaan konstituen di DKI saat pemilihan gubernur. Jokowi jauh lebih dikenal daripada tetangga sebelah rumah, itulah kenyataan yang muncul di kampung – kampung Jakarta. Popularitasnya melesat dari Solo ke Jakarta, lebih cepat dari bayangannya sendiri. Semua orang terlanjur sudah mengenalnya. Dan akhirnya semua orang menitipkan harapan padanya, untuk membenahi Jakarta. Memberikan suara untuk Jokowi tanpa lontaran wani piro sebagai  jasa pengganti dukungan. Banhkan banyak pula pendukung yang mengeluarkan kocek pribadi untuk membeli baju kotak – kotak. Ini fenomena unik di demokrasi kita. Bukankah selama ini justru kandidat yag membagi – bagi kaos kampanye ? Maka banyak pedagang baju kotak – kotak yang kebanjiran rejeki. Baru kampanye saja Jokowi sudah mampu menghidupkan perekomonian rakyat, apalagi nanti saat memimpin.

Menerima kenyataan unggul di perhitungan secara cepat, Jokowi pun dengan rendah hati menegaskan pada kosntituennya bahwa kemenangan yang diraihnya bukanlah kemenangan sebuah lomba tetapi kemenangan atas tanggung jawab. Sikap yang tepat untuk mengingatkan konstituennya agar tidak larut pada eforia pesta pora kemenangan yang mubazir. Dan satu lagi yang mengesankan dari seorang Jokowi, beliau segera meminta maaf kepada pesaingnya jika selama proses demokrasi berlangsung, kubu Jokowi melakukan hal yang menciderai perasaan pesaing. Dan hebatnya lagi bahwa Jokowi memohon kepada incumbent pesaingnya supaya berkenan menjadi penasehatnya.

Saya kira, inilah awal perubahan yang akan terjadi di Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Strategi kemenangan Jokowi akan menjadi model kampanye di tanah air. Barangkalj setelah kotak – kotak, motif lain seperti lorek, polkadot, hawai dan garis – garis akan menjadi incaran, meski sebenarnya esensi kemenangan tidaklah pada atribut semacam ini. Bukanlah pencitraan tampilan yang menjadi kunci kemenangan tetapi lebih pada aksi keberpihakan kepada masyarakat. Kemenangan Jokowi dengan motif kotak – kotaknya, bisa jadi akan bikin keblinger siapapun yang mengekornya ketika berkampanye dengan motif polkadot yang jauh lebih mirip badut main di panggung politik karena tidak didukung program yang mengaspirasi kebutuhan warganya. Jangan sampai ini terjadi di tempat lain, ketika Jakarta sudah bersiap tampil dengan wajah baru.

Jakarta baru, ini baru Jakarta.

Barakallahu fikum.