HUTANG

Ada banyak SMS liar yang sering terkirim untuk kita. Di antaranya penawaran pinjaman  dana tunai dengan segala kemudahannya. Inilah SMS paling menjengkelkan belakangan ini. Pas di jalan, saat shalat, di tengah meeting terkadang pesan singkat itu terkirim. Nggak dibaca khawatir datang berita penting, dibaca ternyata cuma jebakan hutang bisnis para kapitalis yang manis di depannya, terbungkus keramahan ala kadarnya tim sales marketing dan berujung dengan tekanan paling menakutkan gerombolan debt collector berperawakan sangar tanpa kesantunan.

Pinjaman menjadi iming-iming solutif yang bersifat sesaat atas segala urusan. Menutup lubang dengan membuat galian baru hingga tak ada lagi sela pijakan untuk kaki menapak. Menyelesaikan masalah dengan masalah.  Mengulur waktu yang berlalu sampai akhirnya benar-benar tersedia dana talangan yang bisa menutupi semua hutang tertagih. Puncak kelegaan sepanjang hidup manakala sudah mampu melunasi hutang pinjaman meski  kenyataannya ngaplo karena tak tersisa sedikitpun dari dana talangan tadi. Berapa sering merasakan gajian mengalir seperti air, uang THR numpang lewat dan bonus akhir tahun ngabar ditiup angin lalu.

Maka janganlah mudah berhutang, mesti berhitung mudlaratnya. Islam memperingatkan keras tentang perkara berhutang. Hutang adalah kehinaan di siang hari dan kesusahan pada malam harinya. Betapa kita tak bisa tidur kalau sudah jatuh tempo pembayaran. Malam jadi mencekam dihantui bayangan hutang yang harus dibayar. Siang hari seolah terhina lantaran kedatangan tamu debt collector yang pethitha-pethithi merendahkan martabat kita di khalayak umum. Dalam  hadits shahih dijelaskan, dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa dalam sholatnya berlindung kepada Allah dari lilitan hutang. Kemudian seseorang bertanya mengapa doa itu dipanjatkan dan beliau menjawab bahwa sesungguhnya apabila seseorang terlilit hutang maka bila bicara ia akan berdusta dan bila berjanji ia akan pungkiri ( HR. Bukhari no. 832 ).

Dalam hadits shahih lainnya riwayat Ahmad ( III/330 ) Rasulullah mundur tidak jadi mensholati jenazah seorang laki-laki karena ternyata masih meninggalkan hutang 2 dinar. Lalu berkatalah salah seorang dari mereka bernama Abu Qatadah, wahai Rasulullah hutangnya yang dua dinar itu atas tanggunganku. Maka Rasulullah pun menshalatinya dan setiap kali bertemu Abu Qatadah beliau selalu berkata, “Apakah hutang dua dinar itu telah engkau lunasi?” Hingga akhirnya Abu Qatadah mengatakan aku telah melunasinya wahai Rasulullah. Maka Rasulullah berkata, “Sekarang barulah segar kulitnya!”.

Betapa kita memang harus berhati-hati dalam urusan hutang piutang. Hutang bisa menjadi penghalang masuk surga, sebagaimana hadits riwayat at-Tirmidzi ( 1573 ), “Apabila ruh berpisah dari jasad sedang ia terbebas dari tiga perkara niscaya masuk surga, yaitu kesombongan, ghulul ( harta curian ) dan hutang.” Hutang harus dibayar sesuai kesepakatan dua pihak. Pihak pemberi hutang berhak untuk menagih jika memang sudah jatuh tempo, tetapi pihak yang berhutang akan memiliki kemuliaan jika ia menyegerakan pembayarannya.

Kalau sudah tak terjamin masuk surga gara-gara hutang, lantas kemana lagi kebahagiaan sejati kita dapatkan? Susah payah mengejar dunia yang tak juga teraih, akherat pun lepas tak berpengharapan. Letakkan dunia ini dalam genggaman tangan, bukan disimpan di hati. Maka kita dengan mudah untuk melepaskannya. Tak perlu memaksakan diri hingga harus berhutang. Ingin memiliki rumah, harapan kita selalu pada KPR seolah-olah tak ada jalan lain untuk mendapatkannya. Bukankah Allah azza wa jalla adalah sebaik-baik penolong yang berkehendak mendatangkan rejeki untuk kita dari arah yang tak disangka-sangka.

Jika akhirnya kita terlanjur berhutang pada bank ribawi untuk memiliki rumah, lantaran nafsu dan minimnya ilmu (agama), maka mari beristiqfar dan bertekad untuk segera melunasi dalam waktu dekat. Kita sama-sama berdoa sebagaimana dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermohon pertolongan Allah agar tak terlilit hutang. Hutang ibarat kita sedang menggadaikan kehidupan akherat. Kalau tiba-tiba ajal terputus di tengah usia, siapakah yang akan menjamin pembayarannya? Dan pintu surga pun tak bakal terbuka untuk kita. Mari bersatu melakukan gerakan THT, Tanpa Hutang Tenang dan kita tepiskan kehinaan di siang hari, kesusahan pada malam hari sebab hutang yang masih tertanggung.

Barakallahu fikum.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,509 other followers

%d bloggers like this: