CATATAN PERJALANAN HAJI: Nikmatnya Beribadah

Awal keberangkatan
kami di lepas dengan adzan & iqomah
Ibarat orang yang meninggal dunia
Terbayang tak akan kembali
dalam kehangatan keluarga & sahabat …


Segala puji bagi Allah Tabaraka Wata’ala yang telah memberi kesempatan saya memenuhi panggilan Nya beribadah di tanah suci. Sebuah karunia terindah sepanjang hayat dan tak ternilai dengan hitungan matematis apapun saat berkesempatan melengkapi bilangan rukun Islam.

Menunaikan ibadah haji tentu saja berbekal berpuluh karung rasa ikhlas. Ikhlas meninggalkan keluarga, sahabat, teman kerja dan kenikmatan duniawi. Saat inilah saya tersadar dunia haruslah ditempatkan di telapak tangan bukan di bilik hati kita, agar mudah bagi kami melepaskan kesenangan duniawi nan fana. Subhanallah. Dan sungguh, saya benar-benar ikhlas saat itu jika memang Allah menghendaki jika saya memang tak kembali. Kumandang Adzan dan iqomah yang mengiringi keberangkatan saya turut menyadarkan sepenuhnya agar semua urusan langsung dikembalikan pada Sang Pencipta Semesta. ( walau belakangan saya baru tahu bahwa kumandang adzan tidak disyariatkan untuk melepas keberangkatan haji. Tidak ada dalil satu pun yang memperbolehkannya. Adzan semata-mata adalah panggilan sholat. Maka saya berlindung kepada Allah dari kebodohan dan keburukan dalam beribadah ) Keharuan yang luar biasa menjadi atmosfir saat itu. Air mata keharuan berbaur dalam kebahagiaan menjadi hamba pilihan Allah. Juga kebahagiaan menjadi tamu Allah. Labaik Allahuma Labaik …

Menuju tanah haram dengan penerbangan Garuda memakan waktu kurang lebih 9 jam, rentang waktu yang terus kami isi dengan lafaz dzikir mengikuti tarikan nafas sementara angan-angan bermain membayangkan negeri tujuan yang menyimpan sejarah lahirnya Rasul penerang jaman. Terpilih menjadi ketua regu, saya mempunyai tugas tambahan untuk mengkoordinir sebelas orang sepanjang pelaksanaan ibadah. Dengan ikhlas kita mengemban amanah ini. Pertimbangan pemilihan sebagai ketua didasarkan karena faktor usia saya yang relatif muda. Sembari mengemban tugas sebagai ketua, sesungguhnya saya sudah mulai menanam pohon kebaikan di surga, sebagaimana pesan yang selalu disampaikan oleh pembimbing ibadah kami, “ tanamlah pohon kebaikan sebanyak-banyaknya selagi berada di tanah suci”.

Sesampai di bandara Jeddah, rasa syukur tak terhingga terucap hingga lubuk paling dalam. Cobaan pertama mulai terasa manakala harus antri berjam-jam di bandara menjalani pemeriksaan di bagian imigrasi. Dan setelah itu pun masih harus menunggu kembali 2 jam untuk pemberangkatan ke Medinah. Sabar dan sekali lagi bersabar karena kami sadar panggilan ini adalah panggilan Illahi Rabbi, bukan panggilan syaitan laknatullah yang selalu mengajak kemunkaran. Semua kami terima dengan ikhlas dan rasa sabar. Saat-saat seperti inilah getaran hati terus mengucapkan dzikir, memohon supaya selalu diberi kemudahan sepanjang menjalankan ibadah haji.

Menuju Medinah memakan waktu 5 jam perjalanan dengan bis yang sudah disediakan. Melelahkan memang, tapi rasa lelah itu hilang tiba-tiba ketika dari kejauhan mulai menyaksikan menara masjid Nabawi dari dalam bis. Keindahan yang luar biasa hingga kekaguman hati tak kujung putus. Semakin dekat getaran hati makin mengeras ingin segera menapakkan kaki ke dalam masjid Nabawi sambil berziarah ke makam Rasul Penyampai Risalah. Medinah kota tujuan pertama kali, memang memberikan kesan sebuah tempat dengan peradaban yang menyenangkan. Ketenangan dan keramahan lekat sekali dengan detak nafas kota Medinah. Persis sekali dengan perasaan hati kami yang penuh ketenangan saat menjalankan berbagai ibadah di masjid Nabawi. Disinilah kami memulai ibadah sholat arbain, yaitu sholat wajib yang dijalankan berjamaah sebanyak 40 waktu tanpa putus. Ibadah ini bukan wajib, bukan pula pernah dicontohkan oleh para sahabat. Semangat sholat arbain adalah semacam pendisiplinan untuk mempertegas keimanan kita bahwa sholat di awal waktu dengan berjamaah memiliki keutamaan yang luar biasa. Sekali terlewat satu waktu saja, “gugurlah” hitungan sholat arba’in mengingat di Medinah cuma tinggal dan bermalam 9 hari saja. Hotel yang berkelas dan lebih-lebih berada di depan gerbang utama masjid Nabawi, tak mengurangi kekhusyukan untuk berlama-lama beriktikaf di dalam mesjid. Sungguh, Nikmatnya tidur di hotel berkelas tak mengalahkan nikmatnya sholat dan beribadah dalam masjid Nabawi. Apalagi kalau mendapatkan Rauddah yang berada persis di samping makam Rasulullah … Masya Allah !!! serasa ingin sholat dan berdoa sebanyak-banyaknya.

Mendapatkan Rauddah adalah perjuangan yang sangat berarti karena 100% seluruh jamaah yang masuk masjid Nabawi berusaha mendapatkan shaff di Rauddah. Bayangkan saja, hamparan karpet putih yang sangat halus dengan luas 144 m2 itu terhampar persis di bawah taman surga Rasulullah dan itu diperebutkan oleh jamaah seluruh dunia. Subhanallah. Sebelum keluar dari masjid Nabawi sekali-kali kami berziarah ke makam Rasul. Banyak orang menangis disini karena meluapkan kerinduan yang tak terbendung pada Rosul junjungan umat. Bahkan beberapa di antaranya mencoba sambil mengusap dinding makam yang sebenarnya ini sangat dilarang oleh askar penjaga iman supaya mereka tidak terjebak pada sikap musyrik.

Dari Medinah Al Munawaroh menuju Mekkah Al Mukaromah, hati saya tersimpul antara kekhidmatan dan keikhlasan. Dalam benak tetap berderet berjuta permohonan dan doa yang ingin saya sampaikan di depan Ka’bah dalam garis Multazam, doa yang Insya Allah diijabah karena Allah akan “malu” jika tak mengabulkan permintaan hamba-Nya. Allahu Akbar. Dalam balutan ihrom yang putih suci saya kembali meluruskan hati dan niat untuk menjalankan ibadah umrah dan haji karena panggilan Allah. Sungguh, saya juga mengharap ridlo Allah agar hikmah dan pelajaran yang saya peroleh bisa menjadi bekal untuk meneladankan pada keluarga dan sahabat.

Mulailah saya melaksanakan umrah wajib begitu tiba di Mekkah. Meski dilaksanakan di tengah malam, tapi sama sekali tak mengurangi kekhusyukan dalam beribadah, baik thawaf maupun sai. Tapi yang tak kalah berkesan adalah saat pertama kali memasuki Masjidil Haram. Rasa-rasanya tiap langkah itu dibarengi dengan rasa deg-degan untuk ingin segera tahu bangunan Ka’bah yang sesungguhnya. Begitu sampai di dalam masjid dan sorot mata sudah bisa menembus langsung keberadaan Ka’bah rasa syukur dan doa segera kami panjatkan. “ Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kewibawaan pada Baitullah ini. Dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya di antara mereka yang berhaji atau yang berumrah padanya, dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran dan kebaikan.

Dua minggu saya memantapkan ibadah di Masjidil Haram sebelum dimulainya pelaksanaan ibadah haji. Untuk memotivasi agar tak terlalu terlena di kamar maktab ( rumah tinggal ), saya bertekad juga melaksanakan “sholat arbain” di Masjidil Haram, hal yang barangkali tidak dilakukan oleh jamaah haji lainnya karena memang bukan sunnah. Tapi kami benar-benar menemukan kenikmatan kembali, karena justru makin bisa berlama-lama di Masjidil Haram. Melakukan iktikaf dari sholat wajib satu ke sholat wajib berikutnya. Dzuhur ke Ashar, Ashar ke Magrib dan Magrib ke Isya. Sepanjang waktu itu saya habiskan di dalam masjid. Hal yang sebelumnya tidak pernah kami lakukan ketika di tanah air.

Di dalam Masjidil Haram ada satu tempat di lantai 2 yang saya pilih menjadi posko bersama rombongan. Tempat ini menjadi hulu pertemuan antar kami jika terpisah satu sama lainnya. Disini kami beriktikaf, mengaji Al Qur’an hingga mampu mengkatamkan bacaan Al Qur’an. Diskusi dengan berbagai saudara muslim dari penjuru dunia dan kadang kami tidur karena kelelahan. Semakin dekat dengan saat pelaksanaan ibadah haji, mencari tempat sholat sungguh sebuah perjuangan. Datang lebih awal atau kita hanya dapat shaf di luar masjid. Tak heran kalau akhirnya untuk sholat jumat saja kami harus hadir pukul sembilan pagi, sementara waktu kutbah jumat baru dimulai pukul setengah satu siang. Yang menarik dalam pelaksanaan sholat Jumat, dalam radius hingga 3 kilo terhampar 2 jutaan manusia yang membentuk shaf sepanjang jalan. Allahu Akbar.

Saat memulai pelaksanaan ibadah haji saya serasa diliputi rasa syahdu yang mendalam. Air mata menetes kembali saat kami saling bermaafan, sambil memohon agar selalu diberi kemudahan. Saat itu tanggal 8 Dzulhijah dan kami mengenakan kain ihram untuk bersiap melakukan wukuf keesokan harinya di padang Arafah, Mabit di Muzdalifah dan lempar Jumrah di Mina. Semua larangan saat berihrom, seperti dilarang berbantah-bantahan, menutup kepala dan lainnya harus dipatuhi agar tidak kena dam. Dengan memperbanyak dzikir  akhirnya saya menuju Arafah dan bermalam dalam satu tenda bersama 116 jamaah lainnya hingga menunggu saatnya wukuf yang dimulai bertepatan dengan datangnya waktu sholat dzuhur. Diawali dengan adzan, selanjutnya dilanjutkan dengan kutbah dan doa. Semua jamaah menangis saat kalbu teriris mendengarkan kutbah, mengakui semua kesalahan sekaligus memohon ampunan atas semua kesalahan itu. Apalagi saat inilah Allah membanggakan semua hamba pilihanNya yang berada di Arafah dihadapan semua malaikat. Rasa ini yang membuat kami sepertinya sangat dekat dengan Allah dan para malaikat-Nya.

Dilanjutkan dengan mabit di Muzdalifah hingga melempar jumrah di Mina, semuanya terlaksana tanpa hambatan. Sebenarnya rombongan saya mendapat tenda yang sangat jauh, sekitar 9 km dari Jamarat tempat melempar jumrah, tapi KBIH Dian Al Mahri tempat saya bergabung menyiasatinya sehingga kami tidak merasakan pengalaman jalan kaki 9 km seperti yang dialami jamaah haji Indonesia lainnya. KBIH kami memilih meninggalkan tenda yang disediakan dan kembali ke maktab. Resikonya kami harus pulang pergi setiap hari dari Mina ke Mekkah dengan naik bis. Lantaran susah mendapatkan bis dan agar tak lama menunggu, seperti sudah disepakati, semua jamaah pria selalu mendapat tempat di atas bis. Pengalaman yang seru juga sih ! Apalagi saat melewati terowongan yang di atasnya bekerja blower raksasa dengan kekuatan tinggi. Alhamdulillah tak ada juga halangan yang berarti, meski ada salah satu jamaah kami yang hilang terbenam di lautan manusia di Mina. Semua ketua regu diturunkan untuk menyisir di tengah-tengah manusia yang tumpah ruah. Kekhawatiran kami pupus ketika ada telpon yang memberitahu bahwa orang tadi ternyata sudah “diselamatkan” seseorang.

Selesai melakukan lempar jumrah di hari ketiga, kami semua saling berpelukan, karena saat inilah kami usai menjalankan ibadah haji. Tangis haru kembali mewarnai kebersamaan. Selesai sudah rukun dan wajib haji yang harus kami lakukan. Hari itu seolah-olah adalah tonggak baru perjalanan hidup saya karena kini mempunyai kewajiban yang lebih besar lagi setelah ibadah haji ini. Kewajiban untuk menjadi teladan bagi diri dan keluarga. Bagi saudara dan teman-teman. Ya Allah, hanya ridlo-Mu yang sanggup memperkuat tekad dan perjuangan saya dalam beramar makruf nahi munkar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,509 other followers

%d bloggers like this: